DATASOUL TESLA TOWER

Zimaav
Chapter #16

BAB 16 Perburuan

BAB 16

Perburuan


Huruf-huruf merah di layar raksasa di atas boulevard kampus tidak bergerak sedikit pun.

ANOMALI TELAH DITEMUKAN

IDENTITAS: NAZU ZIVREN

REGISTRASI: 8814-Z // SEKTOR REKAYASA TEKNIK

STATUS: ANOMALI TINGKAT SATU   PERBURUAN TERBUKA

Nama itu terpampang di angkasa malam. Pada panel-panel informasi rute di halte transit. Pada monitor direktori di dinding lobi fakultas. Pada layar videotron komersial di puncak gedung seberang jalan raya.

Seluruh kawasan kampus mendadak sunyi di bawah siraman pendar merah pekat.

Di tengah pelataran boulevard, seorang mahasiswa di dekat bangku taman tertawa pendek tawa canggung seseorang yang mengira dirinya sedang menyaksikan lelucon peretasan layar atau simulasi darurat, namun tidak menemukan letak kelucuannya.

"Ini... lelucon festival tahunan?"

"Anomali apa maksudnya?"

"Ada yang meretas server lagi?"

Bisikan-bisikan itu menjalar cepat di antara kerumunan. Ratusan mahasiswa yang semula melangkah santai menuju asrama menghentikan langkah mereka. Beberapa orang mengangkat pergelangan tangan, memeriksa gelang komunikasi masing-masing yang kini berkedip oranye. Mahasiswa yang sedang duduk di kafe luar ruangan bangkit berdiri, melangkah mendekati tepi trotoar untuk melihat layar lebih jelas.

Nazu berdiri mematung di atas trotoar beton. Kedua tangannya mengepal di dalam saku jaket.

Sepanjang sembilan belas tahun hidupnya, nama 'Nazu' hanyalah sebuah kata biasa yang dipanggil ibu asuh di panti, dibacakan dosen saat memeriksa presensi kuliah, atau diserukan teman-temannya saat menuruni tangga asrama.

Malam ini, nama itu telah direnggut dan dipajang di hadapan ribuan pasang mata sebagai label ancaman yang harus disingkirkan.

"Naz..." bisik Touvan sangat pelan di sampingnya. Suaranya sarat kewaspadaan.

Nazu tidak menoleh. Seorang mahasiswa tingkat akhir yang berdiri tiga meter di samping halte baru saja menolehkan kepalanya.

Tatapan mahasiswa itu bergerak bolak-balik: dari foto profil beresolusi tinggi di layar videotron di atas gedung, turun ke wajah Nazu yang disinari lampu halte, lalu kembali ke layar di atas.

Mahasiswa itu mematung. Langkah kakinya bergeser mundur setengah tapak seraya menunjuk ke arah Nazu.

"Itu... itu dia orangnya."

"Kirel," bisik Axel dari barisan belakang. Jemarinya bergerak cepat di sasis tablet yang layarnya sengaja ditutupi jaket tebal. "Tiga unit drone pemindai lepas landas dari atap pos keamanan pusat. Mereka mengunci koordinat boulevard ini."

"Berapa lama sampai ke sini?" tanya Kirel tanpa mengalihkan pandangan dari kerumunan.

"Kurang dari sembilan puluh detik," sahut Axel dingin.

Dua orang petugas berseragam hitam dari Divisi Keamanan Khusus melangkah keluar dari balik pintu kaca gedung rektorat di ujung boulevard. Langkah mereka tergesa, berderap di atas paving blok, diikuti oleh pod drone pemindai melayang yang memancarkan pendar lampu sorot biru ke arah pepohonan.

Kerumunan mahasiswa di sekitar halte sontak menyibak ke samping, membuka jalan bagi kedua petugas tersebut.

"Harap semuanya tetap tenang dan berada di area masing-masing," suara salah satu petugas menggelegar melalui pengeras suara portabel di bahunya, datar dan terukur. "Sistem institut sedang melakukan verifikasi data darurat. Seluruh mahasiswa diminta mematuhi instruksi petugas."

Lensa drone pengawas itu berputar cepat dengan dengung motor mikro, menyapu kerumunan orang di halte, hingga berkas cahaya birunya terkunci tepat di dada Nazu.

Bip.

Sebuah nada konfirmasi identifikasi berbunyi dari sasis logam drone tersebut.

Kedua petugas keamanan menghentikan langkah mereka lima meter di depan kelompok Nazu. Jemari mereka menempel siaga di atas sarung pelumpuh kejut elektromagnetik di ikat pinggang taktis.

"Saudara Nazu Zivren," ujar petugas yang berdiri di sebelah kiri, suaranya dingin dan terlatih secara birokratis. "Komite keamanan telah menerbitkan instruksi pengamanan khusus atas nama Anda. Bersikaplah kooperatif, letakkan tangan di belakang kepala, dan ikuti kami ke fasilitas medis pusat sekarang."

Ratusan pasang mata mahasiswa di sepanjang boulevard kini tertuju lurus ke arah Nazu.

Touvan melangkah maju satu tapak penuh, memposisikan tubuhnya tepat di depan Nazu. "Atas dasar apa teman kami harus diisolasi? Evaluasi medis Dr. Havel siang tadi menyatakan kasusnya murni gangguan sensor teknis."

Petugas itu menatap Touvan tanpa ekspresi. "Status subjek dinaikkan menjadi Anomali Tingkat Satu secara otomatis oleh peladen pusat kota, bukan departemen kampus. Tindakan ini demi menjaga kestabilan jaringan."

"Kalian memajang fotonya di videotron sebesar gedung," potong Kael seraya melangkah ke samping Touvan, suaranya tajam menahan geram. "Lalu datang membawa drone pelacak dan bilang ini demi keselamatan? Kalian pikir kami bodoh?"

"Mundur dari subjek sekarang juga," nada bicara petugas kedua merendah tajam. "Menghalangi protokol pengamanan tergolong tindak pidana sabotase keteraturan umum."

Lihat selengkapnya