BAB 17
Dunia Bawah
Lorong beton itu terus menurun ke kedalaman bumi, membelah lapisan-lapisan sedimen geologis yang telah tertidur puluhan tahun.
Mula-mula kemiringannya hampir tidak terasa di bawah telapak kaki mereka. Hanya cukup untuk membuat langkah terasa lebih berat dan suara gesekan sepatu memantul lebih panjang di antara dinding-dinding yang lembap. Di sisi kanan, dinding terowongan masih dilapisi beton cor abu-abu khas era pembangunan awal kampus. Pipa-pipa utilitas melintang rendah di langit-langit, menyerupai jalinan urat logam yang ditanam dekat dengan permukaan kota.
Namun beberapa ratus meter kemudian, struktur dinding itu mulai berubah.
Sebuah rekahan memanjang pada beton memperlihatkan susunan material yang berbeda di baliknya batu granit kasar yang diikat oleh semen hitam tebal peninggalan era rekayasa awal. Pada tikungan berikutnya, lapisan pelat tembaga tua berkarat muncul di sela-sela sambungan dinding, disambung oleh paku-paku keling baja sebesar kepalan tangan. Lantai terowongan tidak lagi memiliki garis kuning penanda jalur pemeliharaan institut.
Garis batas infrastruktur modern telah mereka tinggalkan di belakang.
Kael yang sejak tadi berjalan di belakang Axel akhirnya memecah keheningan dengan suara berbisik pelan. "Kak Senna."
Senna yang melangkah di barisan depan hanya membalas dengan gumaman tanpa menoleh. "Hm?"
"Kita sudah turun berapa jauh?"
"Hampir dua ratus meter di bawah permukaan jalan raya," sahut Senna tenang. Berkas cahaya dari senter halogennnya menembus kabut udara dingin yang melayang di depan mereka. "Tepat di bawah lapisan batuan dasar granit lembah."
"Definisi 'belum terlalu jauh' versi Kak Senna ini mulai terdengar mengkhawatirkan," gumam Kael seraya merapatkan jaketnya yang berdebu. "Lututku mulai kaku dan telingaku berdenging karena tekanan udara. Kita ini sedang mencari tempat sembunyi atau mau menembus kerak bumi?"
Touvan yang berjalan di samping Kael menepuk pelan bahu sahabatnya. "Kamu baru lima menit lalu berjanji tidak akan mengeluh sepanjang jalan, Kael."
"Itu lima menit lalu, Touvan," balas Kael tanpa rasa bersalah. "Sekarang situasinya berkembang. Udara di bawah sini baunya mirip ruang bawah tanah rumah sakit tua."
"Kadar oksigen normal," potong Axel dari barisan depan, matanya mengawasi layar pemindai portabel di tangannya yang mengukur komposisi udara terowongan. "Sensor mencatat kadar oksigen stabil di angka dua puluh koma delapan persen. Rasa sesak itu murni reaksi terhadap lorong tertutup karena kamu terlalu banyak bicara saat menuruni lereng curam."
Kael melirik Axel dengan dengusan pelan. "Terima kasih banyak atas analisis gratisnya, Axel. Sangat menenangkan."
Nazu berjalan berdampingan dengan Kirel di barisan tengah. Kirel tidak banyak bicara sejak mereka meninggalkan saluran drainase, namun pandangannya menyapu setiap ceruk gelap dan langit-langit terowongan, memastikan tidak ada runtuhan batu atau jejak pengawasan yang menyusup di belakang mereka.
Nazu melirik telapak tangannya sendiri yang masih dingin. Di atas kepala mereka, jauh di permukaan tanah sana, kota mungkin sedang disisir oleh patroli keamanan untuk mencari keberadaannya.
Namun di bawah sini, di lorong sunyi ini, raungan sirene kota tidak terdengar sama sekali.
Yang tersisa hanyalah suara langkah kaki mereka, embusan napas yang mengembun putih, dan tetesan air tanah yang jatuh dari celah langit-langit batu: tik, tik, tik.
"Di depan ada anak tangga turun," suara Senna kembali terdengar seraya memelankan langkah. "Hati-hati. Pijakannya licin oleh lumut dan tidak ada pegangan besi."
Mereka menuruni anak-anak tangga batu yang sempit satu per satu. Semakin dalam mereka melangkah, udara terasa semakin dingin, berbau minyak pelumas mekanis yang telah mengering dan debu mineral tua.
Ketika kaki Nazu akhirnya menyentuh lantai pelat baja yang datar di ujung tangga, langkahnya seketika terhenti.
"Lihat ini..." bisik Touvan tertahan dari samping bahunya.
Senna mengangkat senter halogennya tinggi-tinggi, memutar cincin fokus hingga berkas cahaya putih membelah kegelapan di hadapan mereka.
Pemandangan yang terhampar di depan mata membuat mereka mematung dalam hening.
Mereka tidak lagi berada di dalam lorong sempit.
Mereka sedang berdiri di atas balkon logam berkarat yang menjorok ke dalam rongga gua buatan berukuran raksasa.
Sebuah fondasi peradaban yang terkubur.
Rongga bawah tanah itu begitu luas dan tinggi hingga lengkungan kubah baja di atasnya nyaris tak terjangkau oleh cahaya senter. Di dasar jurang buatan itu, puluhan meter di bawah balkon tempat mereka berdiri, terbentang jaringan infrastruktur mekanis purba yang sunyi.
Pipa-pipa uap berdiameter sebesar badan truk melintang melintasi jurang bagaikan jembatan raksasa yang menghubungkan tebing-tebing batu. Menara-menara silinder logam berderet teratur di antara sisa-sisa bangunan stasiun kendali berlantai dua yang dinding batunya telah berlumut tebal.
Dan tepat di tengah bentang jurang tersebut, berdiri tiga buah kumparan elektromagnetik heliks berukuran masif setinggi gedung lima lantai. Kumparan tembaga raksasa itu memantulkan cahaya senter dengan pendar keemasan tua yang kusam struktur yang rancangannya identik dengan cincin konsentris Tesla Tower di permukaan kota, namun tanpa balutan polimer ataupun komponen Soulcode.