DATASOUL TESLA TOWER

Zimaav
Chapter #18

BAB 18 Observer

BAB 18

Observer


Kata itu tidak langsung terasa seperti sebuah jawaban.

Terlalu pendek. Terlalu bersih setelah derau statis panjang yang memekakkan telinga.

Nazu tetap berdiri dua langkah dari meja kerja kayu tua. Lampu filamen merah pada radio komunikasi tabung vakum itu telah padam, jarum analognya terkulai ke angka nol, dan corong pengeras suaranya membisu kaku seperti rongsokan logam yang tidak tersentuh arus listrik puluhan tahun.

Tak seorang pun di dalam ruangan stasiun kendali berkubah granit itu yang bergerak.

Kael berdiri di samping dipan lipatnya, kedua tangannya terbenam di saku jaket. Touvan menahan napas seraya menatap sasis radio dengan pandangan lelah dan waspada. Di dekat pintu geser besi, Kirel berdiri tegak dengan tangan kanan bertumpu santai di dekat pipa baja berulir di sabuknya, mengawasi setiap sudut lorong luar.

Axel mencondongkan tubuhnya ke depan, memandangi rangkaian tembaga radio itu dengan kening berkerut dalam.

Senna berdiri di dekat meja. Sorot matanya tajam, terpaku lurus ke arah meteran jarum yang mati.

Hanya suara detak jam mekanis tua di dinding yang memecah keheningan ruangan: tik, tik, tik.

Kael akhirnya memecah kebekuan dengan suara berbisik pelan. "Dia... barusan benar-benar menyebut kata Observer?"

Axel menyahut tanpa mengalihkan pandangan dari radio. "Iya."

"Observer yang sama dengan yang meninggalkan log di terminal arsip?" kejar Kael, suaranya tegang. "Observer yang memantau anomali di kampus?"

Tak ada yang menjawab pertanyaan itu. Kata Observer selama ini hanyalah sebaris teks peringatan di layar terminal yang dingin, label protokol tak bertuan di basis data tertutup, atau bayangan tak kasatmata di balik anomali yang mereka temukan.

Namun malam ini, di kedalaman dua ratus meter di bawah tanah, entitas itu berbicara menggunakan frekuensi suara manusia yang nyata.

Sebelum Axel sempat melangkah maju untuk memeriksa kenop frekuensi di sasis radio, perangkat komunikasi kuno itu tiba-tiba berderak kembali.

Krrrrk!

Lampu filamen kaca di atas sasisnya menyala dengan pendar merah jingga yang stabil. Jarum analog pada meteran frekuensi tersentak naik, bergetar di titik tengah skala gelombang pendek mekanis.

Derau statis berdesis lembut, disusul suara napas berat seorang pria yang terdengar tenang dan dekat, seolah orang itu sedang berdiri di sisi lain meja mereka:

"Jangan buang waktu memikirkan dari mana sinyal ini dipancarkan, Axel. Ruangan tempat kalian berdiri dibangun dengan sangkar peredam elektromagnetik ganda. Tidak ada gelombang nirkabel modern yang bisa menembus dinding granit ini... kecuali kabel transmisi fisik bawah tanah yang ditanam sebelum institut kalian berdiri."

Axel melangkah mendekati meja, matanya menatap pengeras suara radio.

"Siapa kalian sebenarnya?" tanya Axel, suaranya dingin dan terarah. "Kalian yang merancang arsitektur Soulcode? Kalian yang mengaktifkan protokol pembersihan yang mengejar kami malam ini?"

Terdengar hembusan napas pendek dari pengeras suara radio sebuah helaan napas letih dari seseorang yang telah menyaksikan terlalu banyak pergantian waktu.

Suara pria itu membalas, tenang dan berat:

"Kami bukan perancang sistem itu.

Kami adalah orang-orang yang gagal menghentikannya."

Kata-kata itu menggantung di udara stasiun kendali.

"Gagal menghentikannya?" bisik Touvan pelan. "Maksudmu... kalian sisa kelompok sebelumnya?"

"Siklus sebelumnya," sahut suara di radio, nadanya datar dan tanpa emosi berlebih. "Apa yang kalian lihat di permukaan kota hari ini... apa yang kalian sebut sebagai Soulcode, menara transmisi nirkabel, dan keteraturan mutlak peradaban modern... hanyalah pengulangan dari sebuah mesin siklus yang terus berputar ulang tanpa henti."

Jarum analog bergetar halus mengikuti ritme suaranya:

"Setiap kali sebuah peradaban mencapai puncak integrasi teknologi, mereka selalu terjebak dalam ilusi yang sama. Mereka percaya telah menaklukkan kekacauan alamiah. Mereka menciptakan arsitektur masif untuk memetakan, mengukur, dan menyelaraskan setiap kesadaran manusia demi keteraturan total. Namun mereka lupa... kesadaran manusia tidak pernah dirancang untuk bekerja sebagai variabel tetap di dalam kalkulasi mesin."

Nazu menatap lampu filamen yang berpendar tenang di atas kotak kayu itu. Di dalam benaknya, potongan-potongan ganjil yang mereka temukan mulai saling terhubung.

Catatan usang di laboratorium arsip. Sketsa struktur fondasi di bawah menara. Dan rekaman biner di Fasilitas 03 yang dihapus dari peta kemarin sore.

"Kalian mengawasi kami sejak awal," kata Nazu seraya melangkah sejajar dengan Senna di tepi meja. "Kenapa membiarkan sistem menandai aku sebagai anomali kalau kalian ingin menghentikan siklus itu?"

Lihat selengkapnya