BAB 19
Gerbang
"Kalian... sudah terlambat."
Suara Observer pecah bersamaan dengan desis derau statis yang melengking pendek di dalam lorong bawah tanah.
Lalu, keheningan total kembali menelan terowongan purba itu.
Tidak ada penjelasan tambahan. Tidak ada transmisi susulan.
Jarum analog pada meteran radio tabung vakum di tangan Senna tersentak jatuh dari tengah skala, membentur angka nol. Filamen kaca di bagian atasnya telah menghitam padam, menyisakan bau kawat tembaga hangus yang tipis di udara dingin.
Nazu berdiri mematung menghadap celah pintu baja bundar di hadapannya.
Celah gerbang Sektor Nol-Alfa yang tadi terbuka beberapa puluh sentimeter kini telah berhenti bergerak, menyisakan bukaan yang cukup untuk dilewati satu orang secara menyamping. Hembusan udara dingin yang pekat mengalir keluar dari baliknya, membawa aroma logam purba, ozon, dan bebatuan basah yang terkubur dari jangkauan matahari.
Dari dalam kegelapan di balik pintu, dengung frekuensi itu berdenyut dalam irama yang konstan.
Rendah. Dalam. Berat.
Bummm.
Bummm.
Bummm.
Getarannya merayap naik melalui kisi-kisi pelat baja di bawah telapak sepatu mereka, bergetar di tulang rusuk dan pergelangan kaki.
Kael adalah orang pertama yang memecah keheningan dengan suara berbisik pelan. "Terlambat... terlambat untuk apa sebenarnya?"
Tak seorang pun di antara mereka yang mampu memberi jawaban pasti.
Senna mengangkat radio komunikasi itu lebih tinggi, mengetuk pelan sasis kayunya yang dingin. "Observer. Protokol Tiga Belas memanggil. Masuk."
Hanya ada desis statis tipis yang sekarat di corong speakernya.
Lalu, hening seutuhnya.
"Observer," panggil Senna sekali lagi, suaranya ditekan tenang meski sorot matanya menajam waspada.
Tidak ada transmisi balasan. Frekuensi gelombang pendeknya telah mati total.
Axel melangkah mendekat ke sisi Senna, menyorotkan senter redupnya ke meteran kaca seraya memeriksa sambungan kabel baterai di bawah sasis radio. "Gelombang pembawanya hilang. Rangkaian filamen di dalamnya mengalami lonjakan arus induksi lokal dan putus."
Kael menoleh seraya merapatkan jaketnya yang berdebu. "Maksudmu... radio ini mati total?"
"Jarumnya terkunci di angka nol," sahut Axel kaku.
"Itu juga aku bisa lihat sendiri, Xel," gumam Kael seraya mengusap tengkuknya yang dingin. "Maksudku... kita sekarang benar-benar terputus dari arahan Observer?"
"Secara teknis komunikasi, iya."
"Bagus sekali. Informasi yang sangat menenangkan."
Kali ini tidak ada tawa yang menyusul. Kael pun tidak bermaksud melontarkan lelucon sarkas; ia hanya menghela napas panjang di tengah kegelapan yang kian menekan dada.
Getaran dari balik pintu baja bundar itu kembali berdentum pelan.
Bummm.
Kabut uap dingin berhembus lembut, membungkus ujung sepatu mereka di atas lantai pelat baja.
Touvan melangkah mendekati kusen pintu baja setebal setengah meter itu, menatap celah gelap di baliknya dengan kening berkerut. "Kalau Observer melarang kita masuk... berarti ada sistem aktif yang menunggu di dalam sana."
"Dan kalau kita mundur?" potong Kirel dengan nada suara yang tenang dan dingin dari barisan belakang.
Kelima pasang mata menoleh menatap pemuda bertubuh tegap itu.