BAB 21
Pilihan
Tak ada seorang pun di antara mereka yang berani menyebut nama itu dengan lantang.
PHANTOM-ROOT.
Dua kata itu tetap terpampang diam di baris terbawah layar monitor monokrom. Huruf-hurufnya berwarna hijau fosfor pucat, berdiri dingin di atas latar hitam tanpa nomor registrasi arsip, tanpa keterangan status, dan tanpa satu baris pun uraian ilmiah yang menjelaskan mengapa nama tersebut baru dimunculkan sistem setelah pemutaran rekaman master selesai.
Kursor persegi di sampingnya tidak lagi berkedip. Terminal analog itu seakan telah menuntaskan segala hal yang ingin ia sampaikan kepada mereka.
Kael berdiri paling dekat dengan tepi meja konsol. Satu tangannya mencengkeram erat tali ranselnya yang terasa semakin berat di pundak.
"Aku nggak akan nanya," gumam Kael pelan seraya menelan ludah.
Axel tidak mengalihkan pandangannya dari kaca cembung layar tabung. "Itu kemajuan."
"Aku serius, Ax," bisik Kael, suaranya pelan seraya menatap layar. "Aku nggak mau nanya itu apa. Aku nggak mau tahu makhluk atau program macam apa yang punya nama seperti itu."
Nazu mengerti betul apa yang dirasakan sahabatnya. Pertanyaan itu terlalu mudah untuk diucapkan, namun sepanjang malam ini mereka telah belajar satu kenyataan pahit: jawaban yang datang di tempat terkutuk seperti ini selalu menuntut harga yang jauh lebih mahal daripada sekadar rasa penasaran.
Senna mengangkat alat pendeteksi medannya. Jarum analog pada meteran itu bergetar sangat halus di zona rendah, tidak menunjukkan lonjakan radiasi elektromagnetik mendadak. Namun rahang wanita itu terkatup sangat rapat, matanya menatap tajam ke arah sudut bawah konsol.
Di sana, di bawah slot modul yang telah kosong, lampu indikator mekanis berkedip dalam pola ritmis yang baru.
Klik... tik.
Dua bunyi mekanis kecil menyentak keheningan kubah.
Layar tabung monokrom berderau sesaat, lalu baris-baris teks baru muncul menggantikan daftar indeks:
TELEMETRY LINK: EXTERNAL PAIR DETECTED
STATUS: UNRESOLVED HANDSHAKE
CHAMBER ACCESS STATE: PENDING LOCAL RESOLUTION
"External pair?" gumam Touvan seraya melangkah maju. "Koneksi pasangan eksternal?"
"Ada pemancar luar yang sedang mencoba menyinkronkan frekuensi dengan kubah ini," bisik Axel cepat, jarinya bergerak memeriksa serangkaian dial dan meteran analog di meja kerja. "Bukan transmisi gelombang pendek biasa. Sistem menara di atas sedang merespons pembukaan pintu Sektor 00."
Senna meraih radionya dengan cepat. "Observer! Kamu masih di sana?"
Hanya desis derau statis tipis yang membalas dari corong radio.
"Observer, kami sudah selesai melihat arsip rekaman," desak Senna dengan nada tajam. "Nama Phantom-Root muncul di indeks lokal, dan sistem mendeteksi koneksi eksternal. Apa yang terjadi di atas?"
Setelah tiga detik keheningan yang menyiksa, sebuah suara serak dan putus-putus merembes keluar dari celah radio yang retak:
"...Otoritas... unit penyapu... telah mencapai... lantai fondasi..."
Nazu merasakan bulu kuduknya meremang.
"...koneksi eksternal itu... bukan kami..." lanjut Observer dengan napas yang memburu di balik desau statis. "Menara... sedang mencoba memulihkan sangkarnya. Jika pintu Sektor 00 tetap terbuka... pemindai kota akan mengunci koordinat kalian dalam hitungan menit..."
"Observer!" panggil Senna. "Jalur evakuasi T0-L di belakang masih aman?"
"...untuk sekarang... hanya untuk beberapa saat..."
KRAK.
Suara transmisi itu terputus total bersamaan dengan letupan bunga api kecil dari soket antena radio. Corong radio mendingin seketika. Hening kembali menelan ruangan.
"Untuk sekarang," gumam Kirel dingin dari dekat pintu masuk. Tangannya mencengkeram pipa baja dengan buku-buku jari memutih. "Artinya waktu kita sudah habis. 'Untuk sekarang' itu bukan satuan waktu yang bisa kita pakai buat bikin rencana."
Di atas meja konsol, layar tabung memuntahkan serangkaian opsi perintah baru yang berkedip lambat:
ISOLATION PROTOCOL: REQUIRED
1. RESTORE ISOLATION [SEAL CHAMBER & REVOKE PASSAGE AUTHORITY]
2. DEFER RESOLUTION [TEMPORARY STANDBY / TIME-LIMIT 180s]
3. MAINTAIN PASSAGE [HOLD ACCESS OPEN / HIGH DETECTION RISK]
"Tiga opsi," kata Kael seraya menatap layar itu dengan dahi berkerut tebal. "Restore, Defer, Maintain. Dan seperti biasa, teknologi masa lalu nggak pernah ngasih buku panduan penggunaan."
Axel membungkuk, menatap lekat-lekat baris pertama. "Kalau kita pilih Restore, sistem akan mengunci kembali seluruh isolasi ruang arsip ini. Gerbang monolitik di belakang kita akan tertutup rapat, memutuskan koneksi eksternal menara, dan mengamankan seluruh data ini dari pemindaian Otoritas."
"Tapi harga yang harus dibayar?" tanya Touvan pelan.
"Otoritas lewat akan dicabut," jawab Axel berat. "Akses lokal dibekukan. Pintu gerbang tidak akan bisa dibuka lagi dari luar. Semua data tentang siklus peradaban, rekaman kegagalan masa lalu, dan asal-usul Soulcode... semuanya akan terkunci di sini selamanya."
"Dan kita kehilangan satu-satunya bukti sejarah," bisik Kael. Lalu pemuda itu menatap Axel dengan tatapan menusuk. "Tapi Ax... kita baru aja nonton rekaman master yang bilang kalau peradaban manusia berkali-kali hancur karena mereka nggak tahu kapan harus berhenti. Dan sekarang kamu mau mempertaruhkan nyawa kita demi data itu lagi?"
Axel terdiam. Kalimat Kael menghantam tepat di pusat logikanya. Pemuda jenius itu menundukkan pandangannya ke arah buku catatannya, menyadari ironi yang baru saja diungkapkan sahabatnya.
"Argumenmu valid, Kael," bisik Axel pelan.
"Dan kalau kita pilih opsi ketiga, Maintain?" tanya Kirel dari ambang pintu.
"Pintu tetap terbuka," jawab Senna tajam. "Kita bisa mempertahankan akses masuk, tapi unit penyapu Otoritas yang sedang menyisir fondasi menara akan menemukan pintu terbuka ini dalam hitungan lima belas menit. Mereka akan membantai siapa pun yang tersisa di sini dan mengambil alih arsip."
"Dan opsi kedua, Defer?" tanya Touvan.