BAB 22
Deviation
"Aku yang tinggal."
Ujung jari Nazu menekan tombol konfirmasi pada panel konsol.
Tidak ada kilatan cahaya dramatis. Tidak ada alarm yang memekakkan telinga. Hanya satu bunyi mekanis halus yang berdentang dari balik pelat baja di bawah meja.
Klik.
Pilihan pembatalan lenyap seketika dari kaca monitor cembung. Teks di layar tabung monokrom bergeser cepat:
VOLUNTARY ACCEPTANCE: CONFIRMED
LOCAL VALIDATION IN PROGRESS...
CONTACT TELEMETRY: STABLE
>
LOCAL PERSONNEL: VALID
NETWORK ID: NOT REQUIRED
CUSTODIAN ASSIGNMENT: ACTIVE // IDENTIFIER: LOCAL-01
FACILITY BOUNDARY: SECTOR 00 ARCHIVE VAULT
STRUCTURAL ISOLATION: ENGAGING
COUNTDOWN TO MONOLITHIC SEAL: 90 SECONDS
Nazu tidak menarik tangannya. Permukaan pelat tembaga itu terasa dingin di bawah telapak tangannya, namun sebuah getaran hangat merayap perlahan dari sirkuit kuno masuk ke pori-pori kulitnya.
Network ID: Not Required. Tidak membutuhkan nomor identitas jaringan.
Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di Institut, seluruh sistem di permukaan kota selalu menuntut identitas digitalnya. Kartu pelajar, nomor registrasi, kelas sosial, dan sinkronisasi biometrik Soulcode. Jika jaringan pusat tidak mengenali nomor registrasinya, keberadaannya dianggap anomali yang harus dihapus.
Namun sistem purba ini sama sekali tidak peduli pada nomor registrasi atau kelas sosial.
Sistem ini hanya membutuhkan seorang manusia bernapas yang berdiri secara sukarela untuk memikul tanggung jawab.
"Sembilan puluh detik..." gumam Axel seraya membaca baris terakhir dengan mata menajam. Jari-jemarinya langsung menyapu diagram fasilitas di samping layar. "Pintu gerbang monolitik ruang arsip ini akan mengunci permanen dari dalam!"
Kael melangkah maju dengan napas memburu. "Tunggu! Maksudmu Nazu harus tetap di ruangan ini?!"
"Bukan cuma harus, Kael," suara Senna memotong tajam namun sarat ketegasan. "Protokol Custodian mengisolasi seluruh ruang kubah ini untuk memutus keterikatan frekuensi dari jaringan kota. Begitu segel hidrolik menutup, ruangan ini akan terputus total dari dunia luar. Pintu gerbang utama tidak bisa dibuka lagi dari luar tanpa otoritas penerus!"
Senna menunjuk ke lorong darurat di sisi barat ruangan yang kini berkedip lampu oranye tipis. "Jalur evakuasi T0-L sudah terbuka. Kita punya waktu kurang dari delapan puluh detik sebelum gerbang monolitik menutup rapat!"
Touvan menatap Nazu, lalu menggeleng kaku. Langkah kakinya justru berbalik mendekati meja konsol. "Nggak. Kita cari cara lain. Pasti ada mekanisme pemutus "
"Touvan, berhenti," kata Nazu tenang.
Suara Nazu begitu jernih dan datar, menghentikan langkah Touvan seketika.
Nazu menatap keempat sahabatnya satu per satu. "Kalau kita semua lari, sistem kota akan melacak sinyal kluster kita sebelum kita sempat keluar dari terowongan. Kalian berlima akan tertangkap di lereng luar."
Nazu meletakkan tangannya di bahu Touvan, menatap lurus ke dalam mata pemuda yang selama ini menjadi tiang pelindung mereka. "Aku yang terdaftar sebagai deviasi inti sejak Pod Enam. Dengan aku tetap di sini memegang terminal Custodian, seluruh pemindaian kota akan terkunci ke ruangan ini. Sinyal kalian berlima akan dianggap terputus dan hilang dari radar."
"Naz..." bisik Touvan, rahangnya mengeras menahan gelombang kepedihan yang menekan dadanya.
"Jalan, Touvan," kata Nazu pelan namun tak terbantahkan. "Bawa mereka keluar. Jangan bikin keputusan ini sia-sia."
Di sekeliling ruangan, dengung piston hidrolik mulai bergetar rendah di dalam lantai batu.
Enam puluh detik.
Axel menatap Nazu beberapa detik dalam diam. Pemuda berkacamata itu menelan ludah, lalu mengangguk lambat sebuah pengakuan getir dari seorang analis yang memahami kebenaran mutlak di balik kalkulasi pengorbanan sahabatnya.
"Terowongan T0-L menembus batuan dasar menuju lereng pegunungan luar," kata Axel dengan suara yang ditekan stabil. "Kami akan menyalin seluruh data peradaban ini, Nazu. Dan kami akan menemukan cara untuk kembali ke pintu ini."
Kirel melangkah mendekati meja konsol. Pemuda tegap itu tidak membuang kata. Tangannya terangkat, meninju pelan dada kiri Nazu dengan kepalan tangan kokohnya.