DATASOUL TESLA TOWER

Zimaav
Chapter #23

EPILOG - Yang Terbangun

EPILOG

Yang Terbangun


Tidak ada penanda koordinat di tempat itu.

Tidak ada plakat baja, tidak ada nomor sektor, dan tidak ada nama yang terpahat pada kusen pintu batu yang melengkung rendah. Udara di dalam ruangan itu terasa begitu dingin dan hening, seakan-akan waktu itu sendiri telah lama berhenti mengalir dan menolak untuk menjadi bagian dari dunia luar.

Dinding-dinding batu alam membentuk sebuah kubah melingkar yang kasar dan kelam. Langit-langitnya lenyap ditelan bayang-bayang kegelapan pekat yang menggantung di ketinggian. Lantai bebatuannya tertutup lapisan debu tebal, namun pola debu itu tidak merata. Ada bidang-bidang tertentu yang tampak bersih dan tersapu rata, menandakan bahwa sesuatu atau seseorang pernah melangkah di sana belum lama ini.

Namun hal yang paling ganjil terpampang nyata pada permukaan dinding batu.

Akar.

Ratusan cabang berwarna hitam pekat merambat keluar dari celah-celah bebatuan purba. Mereka bertemu, bersilangan, lalu menyebar kembali ke segala arah dalam sebuah konfigurasi simetris yang terlalu teratur untuk disebut sebagai tumbuhan liar.

Sebagian cabang menjalar setipis urat nadi manusia. Sebagian lagi menggembung kokoh sebesar batang lengan orang dewasa.

Di tempat itu tidak ada butiran tanah. Tidak ada tetesan air rembesan. Tidak ada setitik pun cahaya matahari yang mampu menembus kedalaman bumi.

Namun akar-akar hitam itu... hidup.

Salah satu ujung cabangnya bergeser perlahan.

Gerakannya teramat lambat, hanya beberapa milimeter, namun cukup untuk membuat butiran kerikil kecil terlepas dari celah dinding dan jatuh berdenting pelan di atas lantai batu.

Tik.

Dari balik lorong gelap yang menghubungkan ruangan itu ke kedalaman gua, terdengar suara derap langkah kaki.

Langkah itu mantap. Tenang. Tidak terburu-buru.

Seseorang melangkah masuk melintasi ambang pintu kubah.

Cahaya remang yang entah bersumber dari mana hanya mampu menerangi sepasang sepatu bot kulit tua dan bagian kelim bawah jubah panjang kelabu yang ia kenakan. Sosok itu berhenti melangkah tepat di batas lingkaran cahaya, membiarkan tubuh bagian atas dan wajahnya tetap tersembunyi di balik bayang-bayang tudung yang gelap.

Tak ada senjata api yang tersampir di pinggangnya. Tak ada pendar biru perangkat Soulcode di pergelangan tangannya.

Sosok itu berdiri mematung di hadapan dinding batu, seakan-akan ia telah mengetahui dengan pasti apa yang sedang menantinya di sana.

Cabang akar hitam yang berada paling dekat dengannya bergerak kembali.

Kali ini gerakannya lebih tegas. Bukan menjauh untuk bersembunyi, melainkan merayap condong ke arahnya seperti sulur hewan purba yang mengenali hawa keberadaan tuannya.

Sosok bertudung itu mengangkat tangan kanannya perlahan.

Ujung jari-jarinya yang telanjang menyentuh permukaan cabang hitam yang dingin dan kesat itu.

Hening.

Satu detik berlalu tanpa suara.

Lalu... sesuatu berdenyut dari balik batu.

Bukan kilatan cahaya listrik. Bukan percikan energi plasma.

Dinding batu itu sendiri yang bergerak.

Lihat selengkapnya