20 Mei 1980
“Tentara membantai warga sipil di kota Gwangju. Nah ini baru sebuah surat kabar yang nyata!”
Seru seorang pria paruh baya membaca sebuah kertas koran yang baru selesai dicetak di tangannya.
“Tidak ada cara lain lagi. Kita harus membawa berita ini keluar.”
Ujar pria lainnya dengan nada sedikit cemas.
“Tenanglah. Apa hanya dirimu saja reporter di tempat ini? Ada banyak orang telah berkumpul. Termasuk dia reporter asing keturunan Korea Selatan itu. Lagipula kita semua sudah mengambil keputusan.”
Balas pria yang lain sambil menepuk bahu Nathan.
‘BRAKK’
Pintu utama yang sebelumnya sudah diblokade dengan lemari dan meja di ruangan itu, mulai terbuka. Terlihat beberapa orang mulai masuk ke sana.
Seorang pria bertubuh gempal segera mematikan listrik untuk menghentikan mesin produksi koran. Temannya yang berperawakan tinggi kurus juga ikut membanting alat mesin cetak produksi manual. Beberapa pria dengan perawakan lebih kecil tampak membuang dan menyobek beberapa koran yang sudah jadi.
“Apa yang kalian lakukan?”
Seru seseorang berteriak melihat kericuhan yang baru saja terjadi.
“Kami diperintahkan oleh kepala cabang untuk menghentikan kegiatan ilegal ini.”
Seorang pria dengan jas rapi berjalan mendekat ke Nathan dan teman-teman wartawannya.
“Kita harus segera menutup gedung ini!”
Seru pria berjas rapi yang dipanggil kepala cabang itu.