Days In Blue Moon

Tegrid Chintya Ifareyne Rauf
Chapter #3

Promosi Jabatan

Kisah ini dimulai dari bulan Februari tahun 1979. Di sebuah diskotik kota Frankfurt, Jerman dipadati oleh para muda-mudi yang ingin menghabiskan waktu mereka sepanjang malam disana. Malam itu lagu Born to be Alive milik Patrick Hernandez terus menggema di ruangan ini. Semua orang disana tampak asik menari mengikuti irama lagu, mereka bergerak mengikuti kata hati mereka tanpa melihat siapa yang berada disampingnya, atau khawatir akan menyenggol sesuatu. Mengingat keadaan di dalam diskotik yang remang-remang dan hanya ada lampu sorot warna-warni yang tidak terlalu berguna sebagai pencahayaan.

Disudut ruangan, tampak sepasang sahabat Nathan dan Garry. Sedang berbincang-bincang dengan ditemani sebotol anggur di meja mereka. Hari ini mereka merayakan Nathan yang baru saja dipromosikan sebagai Koordinator Liputan, setelah bertahun-tahun ia menjadi asisten redaktur untuk perusahaan penerbitan koran.

“Aku kagum dan juga bangga untukmu Nate. Tak kusangka dari hanya sekedar iseng mengikutiku sebagai fotografer freelance. Kini kamu sudah berada di posisi Koordinator Liputan. Ayo bersulang untuk karirmu kedepannya!”

Garry berbicara cukup panjang lalu menyulangkan minumannya ke arah Nathan.

“Terima kasih, aku bukan apa-apa tanpa bantuanmu.”

Balas Nathan sembari menepuk bahu Garry. Garry yang sudah setengah mabuk menggelengkan kepalanya.

“Itu semua tentang kerja keras dan dedikasimu beberapa tahun ini. Jujur untuk saat ini aku takut kamu akan pergi jauh Nate,,, jika kamu pergi siapa yang akan menjadi teman dekatku lagi? Jika kamu naik pangkat bukankah berarti kamu juga akan mengemban tugas yang berat. Aku masih belum resmi berpacaran dengan Adele. Apakah kamu benar-benar akan meninggalkanku jika kamu ditugaskan ke suatu tempat yang sangat jauh? Siapa yang bisa kujadikan tempat ceritaku nanti?”

Garry semakin mengoceh tidak jelas dengan air matanya yang kini mulai berderai. Nathan yang menyadari sahabatnya sedang mabuk berat itu, hanya bisa menggelengkan kepalanya sesaat. Sebelum akhirnya ia memutuskan untuk segera membawa Garry keluar dari tempat diskotik. Tangannya segera meraih lengan Garry untuk menuntunnya menuju pintu keluar.


“Taksi!!!”

Teriak Nathan saat memanggil sebuah taksi untuk mengantarkan Garry pulang ke rumahnya.

“Tolong antar ke Mitte-West.”

Ujar Nathan kepada sopir taksi sembari memberikan sebuah uang untuk ongkos perjalanan Garry. Sang sopir mengangguk tanda paham atas ucapan Nathan tadi dan segera pergi ke tempat yang dimaksud Nathan. Nathan memandangi mobil taksi yang semakin lama semakin menjauh darinya. Setelah merasa bayangan taksi sudah tak terlihat lagi, ia segera memutar badan dan mulai berjalan menuju ke rumahnya yang berjarak sekitar enam ratus meter dari situ. Disepanjang perjalanan Nathan melantunkan lagu favoritnya sembari sesekali melompat kecil tanda suasana hatinya sedang sangat bagus.


***


“Aku pulang.”

Seru Nathan sambil membuka pintu rumahnya perlahan.

“Ah, Yoon Beom kamu sudah datang? Ada sebuah surat baru sampai tadi siang untukmu.”

Ayah Nathan alias Tuan Bang memberikan sebuah surat dengan perangko Korea Selatan kepadanya.

“Terima kasih yah. Aku akan langsung pergi ke kamar, takut mengganggu orang yang sedang tidur.”

Nathan mengambil surat dari tangan ayahnya. Ayahnya tersenyum simpul.

“Oh ya, tadi aku mendengar dari ibumu tentang kabar promosimu hari ini? Bagaimana jika besok kita merayakannya?”

Tawar sang Ayah. Nathan menunjukkan raut wajah berfikir sejenak.

“Boleh,,”

“Apa ada yang ingin kamu makan?”

“Aku ingin makan domba panggang spesial buatanmu!”

Balas Nathan sambil tersenyum lebar. Ayah Nathan yang mendengar itu mengacungkan kedua jempolnya kemudian tertawa melihat tingkah anaknya yang paling tua.

*


Dear Nate

How are you? I hope you and your family are always fine.

Maafkan aku baru sempat membalas pesanmu setelah sekian lama. Akhir-akhir ini aku sedang sibuk dengan aktivitas di perkuliahan. Saat ini kami sedang menyiapkan sebuah pertunjukkan drama yang kami peruntukkan untuk publik. Dan kami berencana akan mengadakan pertunjukkan drama ke beberapa tempat.

Kau tahu disini semua semakin menggila bung. Pemerintah sekarang sedang gencar membatasi semua aktivitas demokrasi mahasiswa. Setiap ada mahasiswa berorasi atau menyuarakan pendapatnya. Mereka tidak segan untuk langsung ditangkap di tempat dan dibawa oleh aparat.

Sedangkan pertunjukkan drama ini adalah salah satu ide yang muncul dari kelompok kami. Dan saat aku mendengarnya dua tahun lalu. BOOM! Itu sangat brilliant. Untuk pertunjukkan tahun ini aku yang membuat naskah dramanya. Kuharap kamu bisa membacanya nanti agar kau tahu betapa hebatnya aku menulis naskah drama. HAHAHAHA.

How about you? Is your work going well?

Setiap membaca surat tentang ceritamu sebagai wartawan dan pengalaman asam garam lainnya. Membuat firasatku berkata jika kelak suatu saat kamu akan menjadi seorang wartawan yang hebat haha. Suatu hari jika kita bisa bertemu, pada saat itu aku akan memberimu kado sebuah jimat keberuntungan yang tiada duanya agar karirmu lebih baik.

Aku kemarin mendapatkan jimat itu dari ibuku. Beliau mendapatkannya setelah pergi ke sebuah kuil di kota Daejeon. Aku berpesan pada Ibuku, jika pergi kesana lagi kuharap ia juga akan membawakan jimat yang sama untukmu juga.

Aku akan memberikannya padamu nanti. Tolong diingat!

Bagaimana dengan bahasa inggrisku? Apakah menurutmu sudah ada peningkatan? Aku baru mempelajari beberapa kalimat dari adikku dan baru kucoba menggunakannya untuk menulis surat untukmu.

Sekian dulu surat dariku, saat ini aku bingung harus menulis sepanjang apa untuk membalas suratmu. Terima kasih sudah membaca.

God bless you always!


Dari sahabat penamu

Hee Joon


Nathan tersenyum membaca sebuah surat dari temannya. Ia melipat surat itu lalu segera meletakkannya ke atas meja. Ini sudah cukup larut jadi dia berniat untuk menulis balasannya besok. Nathan merebahkan badannya ke atas kasur. Ia menghembuskan nafas beratnya sesaat memikirkan apa saja yang harus ia lakukan esok hari.

Tangannya meraba ke sebuah benda kecil yang kini menempel di dadanya. Itu adalah sebuah kalung. Di kalung itu terdapat sebuah kunci yang menggantung disana. Ia mendapat kalung itu dari keluarganya pada awal bulan Oktober tahun kemarin saat perayaan ulang tahunnya yang ke-23. Kata mereka kalung itu akan memberikan banyak keberuntungan pada Nathan kedepannya, jadi mereka ingin ia selalu menggunakan kalung itu dan tidak boleh melepasnya kecuali dalam beberapa keadaan darurat. Nathan memegang kalung itu untuk beberapa saat.

“Kurasa kalung ini cukup manjur juga.”

Gumam Nathan sebelum kemudian ia langsung terlelap dalam tidur.


***


“Ayah bisa kau besarkan suara radionya??”

Ibu Nathan berteriak dari dapur, namun tak digubris oleh ayahnya. Nathan yang mendengar suara itu terkekeh dan tanpa sepengetahuan Ibunya mulai membesarkan volume radio.

“Ada apa dengan Ibu? Biasanya Ibu memarahi kami jika menyetel sesuatu terlalu keras.”

Ucap Nathan kepada Ibunya yang sedang asik menyiapkan sarapan.

“Itu adalah lagu kesukaanku. Jadi aku akan mendengarkannya sekeras yang kumau.”

Jawab Nyonya Bang dengan nada menggoda.

Lihat selengkapnya