Keadaan sedang riuh, beberapa warga desa tampak berlarian)
“Pangeran Jan, sepertinya anda harus pergi dari sini dan bawalah kudamu juga.”
“Apa yang terjadi?”
“Akibat aksimu dan Putri Gea memasang bola terang di desa kami. Membuat Lael merasa terganggu, apalagi saat beberapa orang mengatakan kau bukan warga asli sini.”
(Pangeran Jan berpandangan dengan Putri Gea mengirim telepati. Sebelum akhirnya mereka berdua memutuskan pergi dari sana dengan menunggangi kuda)
“Pencahayaan mode fokus!”
Seru Min Woo dari angkatan 76 memberikan aba-aba.
(Di tengah perjalanan, beberapa pasukan tentara Lael yang juga menunggangi kuda memblokir jalan mereka)
“Berhenti wahai orang asing! Kau sudah membuat onar di kerajaan kami. Raja Lael ingin bertemu dengan kalian!”
Beberapa mahasiswa tampak sedang sibuk berlatih pementasan drama disini. Tidak terkecuali Lee Hae Jin yang bertugas sebagai kru dekorasi latar panggung. Sedari tadi ia asik mengamati jalannya cerita drama sembari sesekali melihat bayangan orang yang hadir di kursi penonton. Matanya tercekat ketika melihat dua orang bayangan pemuda yang baru saja masuk.
‘Plok,,, plok,,, plok,,,’
Suara orang bertepuk tangan menggema di ruangan ini. Tak berapa lama kemudian lampu ruangan mulai menyala.
“Maaf aku menginterupsi latihan drama kalian. Tapi izinkan aku memperkenalkan teman lamaku. Dia Nathan, wartawan yang baru saja datang dari Jerman. Disini dia akan meliput dan menulis artikel tentang kegiatan drama kita. Jadi dia akan bergabung bersama kita untuk sementara waktu.”
Hee Joon memperkenalkan Nathan kepada anggota kelompok drama yang ada disana. Nathan mengangguk lalu membungkukkan badannya sebagai tanda mengucapkan salam.
“Hallo. Ich bin Nathan Bang, Journalist aus Deutschland und werde in den kommenden Monaten bei Ihnen sein. Bitte führen Sie mich durch. Nice to meet you all.”
Nathan menyapa dengan bahasa Jerman dan bahasa Inggris, lalu tersenyum menunjukkan rentetan giginya. Akibat salam Nathan barusan membuat beberapa orang disana saling berbisik.
“Ah, sepertinya dia tidak fasih bahasa Korea.”
“Tetapi bukankah matanya terlihat sama seperti kita?”
“Seumur hidupku aku tidak pernah bisa bahasa Inggris apalagi bahasa asing seperti Jerman itu, bagaimana kami bisa berbincang dengannya?”
Hee Joon dan Nathan tertawa setelah berhasil mengelabui mereka dan mendengar ocehan-ocehan tadi.
“Tidak apa-apa, keluargaku adalah orang Korea. Jadi aku masih bisa berbahasa Korea.”
Kali ini Nathan berbicara dalam bahasa Korea dengan aksen sedikit aneh, yang membuat semua orang dalam ruangan itu takjub sesaat.
“Nama Korea ku Bang Yoon Beom, saat pindah ke luar negeri aku menggunakan nama Nathan Bang. Karena sudah terbiasa dengan nama baruku jadi kalian bisa memanggilku Nathan atau Nate saja.”
“Apa-apaan itu! Padahal kamu tak perlu sampai mengaku seperti itu. Lagipula disini kami juga punya anggota dari sastra Inggris.”
Hee Joon menyela menepuk pundak Nathan.
“Oh ya, Nate ini lebih tua satu tahun dariku. Dan kami sudah saling mengenal cukup lama. Jadi bisa kubilang dia adalah teman dekatku.”
Ujar Hee Joon tersenyum bangga sembari merangkul pundak Nathan.
“Berapa banyak anggota aktivis mahasiswa disini?”