Days In Blue Moon

Tegrid Chintya Ifareyne Rauf
Chapter #6

Terkesima

(Para tentara mendorong kasar Pangeran Jan dan Putri Gea menuju ke tempat eksekusi publik dengan mata mereka yang masih tertutup kain.)

“Melangkah lebih cepat. Aku tidak mau menghabiskan waktu memegang tangan kalian.”

(Tentara yang menggiring mereka berdua melepaskan ikatannya. Mereka berdua dipaksa duduk disana, sebelum para penjaga melepas tutup mata mereka. Ketika tutup mata dilepas. Dengan jelas mereka melihat orang-orang yang sudah tak sabar melihat ajal mereka tiba.)

“Eksekusi dua penghianat itu!”

“Laki-laki itu keturunan asli keRajaan Quillara. Semua orang Verdentia baik, selain Verdentia adalah orang buruk.”

“Perempuan itu adalah penghianat karena ia sudah membantu laki-laki itu bersembunyi selama ini.”

(Pangeran Jan mencoba menggenggam tangan Putri Gea. Memberi sinyal bahwa ia sudah pasrah jika hidupnya harus berakhir seperti ini.)


Disisi lain tampak beberapa anggota Blue Moon dari angkatan 1979 tengah asik berbincang-bincang mengamati pertunjukkan dari belakang panggung.

“Bukankah Kak Soo Ah terlihat sangat luar biasa saat memerankan tokoh Putri Gea? Setiap latihan drama aku selalu takjub memandangnya dari sini.”

Ucap Kang Jiyeon mengagumi dari bawah panggung.

“Fotonya yang terpampang di papan pengumuman terlihat sangat cantik. Tapi saat melihat Kak Soo Ah secara langsung apalagi ketika berakting ia terlihat lebih cantik.”

Balas Son Dong Hae.

“Tidak sia-sia aku sengaja membawa poster fotonya dari papan pengumuman kemarin.”

Lanjut Son Dong Hae sambil bergumam.

“Jelas. Memang anggota kebanggaan klub drama.”

Balas Jiyeon yang masih mengagumi An Soo Ah untuk sesaat tidak terlalu memahami arti ucapan Dong Hae barusan.

“Jadi kau yang kemarin mengambil poster itu?”

Seru Woo Shik dari belakang yang membuat Dong Hae terkejut. Dengan sigap Woo Shik segera mencengkram leher Dong Hae lalu mengunci kepalanya.

“Dasar kurang ajar, benar-benar pembuat onar. Apa kau tahu bagaimana aku dan Tae Oh terus-terusan dihukum oleh staf tentang itu.”

*

“Nate! Apa kamu bisa membantu tim dekorasi latar bersama dengan Hae Jin?”

Tanya Hee Joon yang menghampirinya saat ia tengah menulis log book untuk laporannya.

“Ada banyak dekorasi yang belum kami selesaikan, mungkin untuk penjelasan lebih lanjut nanti Hae Jin bisa mengajarimu.”

“Baiklah.”

Nathan mengangguk mendengar penjelasan Hee Joon lalu segera pergi dari sana dan menuju ke belakang panggung sesuai instruksi dari Hae Joon.

“Hai, aku Nate.”

Ujar Nathan menyapa Hae Jin.

“Lee Hae Jin.”

Balas Hae Jin pelan.

“Apa yang harus aku lakukan?”

“Ini tolong bantu aku untuk membuat batu dan rumput palsu ini. Kamu bisa menggunakan kuas disini untuk mengecat batu itu dan gunting untuk membentuk rumputnya.”

Nathan mengangguk-angguk tanda paham menyimak penjelasan Hae Jin barusan.

“Baiklah, latihan akan dimulai kita akan melakukan adegan bagian awal satu,,, dua,,, tiga,,”

Min Woo memberi aba-aba. Disaat bersamaan Nathan dan Hae Jin mulai terfokus dengan pekerjaan mereka.

“Apa sejak awal kamu bergabung dengan Blue Moon kamu selalu menjadi bagian dekorasi latar?”

Tanya Nathan berusaha mencoba memulai percakapan di sela-sela bekerja. Hae Jin mengangguk.

“Hm. Aku bergabung dengan Blue Moon karena tidak tahu harus mengikuti kegiatan apa selama di kampus.”

Balas Hae Jin lalu kesunyian kembali meliputi mereka berdua.

Selama berada disana sesekali Nathan bersin karena masih belum terbiasa dengan beberapa debu di area belakang panggung. Kala itu seberkas cahaya dari jendela tanpa disadari mengenai wajah Hae Jin, Nathan yang berniat untuk menegur Hae Jin agar tidak terkena cahaya silau itu malah terkesima melihat paras Hae Jin dari samping. Jantungnya berdegup lumayan kencang melihat paras Hae Jin sedekat ini. Hal ini membuatnya memandangi Hae Jin dalam waktu lama. Disisi lain Hae Jin yang sedang fokus dengan pekerjaannya tidak menyadari apa yang baru saja dilakukan oleh Nathan.

Semua orang terfokus menyaksikan latihan drama dari salah satu bagian klimaks pertunjukkan. Saat melihat adegan itu kebanyakan dari mereka yang menjadi iba akan nasib tokoh ‘Pangeran Jan dan Putri Gea’ tampak sedikit menahan air matanya.

Disisi lain tampak beberapa anggota Blue Moon dari angkatan 1979 tengah asik berbincang-bincang mengamati pertunjukkan dari belakang panggung.

“Bukankah Kak Soo Ah terlihat sangat luar biasa saat memerankan tokoh Putri Gea? Setiap latihan drama aku selalu takjub memandangnya dari sini.”

Ucap Kang Jiyeon mengagumi dari bawah panggung.

“Fotonya yang terpampang di papan pengumuman terlihat sangat cantik. Tapi saat melihat Kak Soo Ah secara langsung apalagi ketika berakting ia terlihat lebih cantik.”

Balas Son Dong Hae.

“Tidak sia-sia aku sengaja membawa poster fotonya dari papan pengumuman kemarin.”

Lanjut Son Dong Hae sambil bergumam.

“Jelas. Memang anggota kebanggaan klub drama.”

Balas Jiyeon yang masih mengagumi An Soo Ah untuk sesaat tidak terlalu memahami arti ucapan Dong Hae barusan.

“Jadi kau yang kemarin mengambil poster itu?”

Seru Woo Shik dari belakang yang membuat Dong Hae terkejut. Dengan sigap Woo Shik segera mencengkram leher Dong Hae lalu mengunci kepalanya.

“Dasar kurang ajar, benar-benar pembuat onar. Apa kau tahu bagaimana aku dan Tae Oh terus-terusan dihukum oleh staf tentang itu.”

*

“Nate! Apa kamu bisa membantu tim dekorasi latar bersama dengan Hae Jin?”

Tanya Hee Joon yang menghampirinya saat ia tengah menulis log book untuk laporannya.

“Ada banyak dekorasi yang belum kami selesaikan, mungkin untuk penjelasan lebih lanjut nanti Hae Jin bisa mengajarimu.”

“Baiklah.”

Lihat selengkapnya