Siang itu diakhir pekan Hee Joon sudah ada janji pergi ke rumah Bibinya untuk mengembalikan toples. Bibi Hee Joon sering berbagi kimchi dengan Ibunya. Jadi setiap beberapa minggu sekali Hee Joon selalu mengunjungi rumah Bibinya untuk mengembalikan wadah. Sesampainya disana Hee Joon terus berseru dari luar memanggil nama sang Bibi, karena rumahnya yang terkunci rapat kala itu.
‘Kriet’
Pintu rumah itu kini terbuka, namun bukan sang Bibi yang muncul. Ternyata itu adalah Pamannya yang sedang tergesa-gesa untuk pergi dengan membawa banyak koran di lengannya.
“Ah ada Hee Joon! Hee Joon bisakah kamu membantu Paman sebentar? Pekerjaan paruh waktu ku masih belum selesai. Ada banyak koran yang masih belum ku kirim.”
Ucap Paman Hee Joon memohon kepada Hee Joon yang baru saja sampai di rumahnya.
“Tapi aku belum pernah melakukannya.”
Jawab Hee Joon datar. Paman Hee Joon terdiam dan melangkah mengambil sepedanya di garasi untuk menuntunnya ke arah Hee Joon.
“Gunakan sepeda ini dan bantu aku mengirim ke beberapa rumah.”
“Sebentar, tetapi hari ini aku tidak berjanji membantu Paman. Aku kesini hanya untuk mengembalikan toples kimchi.”
Hee Joon berusaha menghindari permintaan tolong dari Pamannya itu. Paman Hee Joon terdiam, memicingkan alisnya lalu mendorong pundak Hee Joon.
“Tolonglah, hanya untuk kali ini saja. Aku akan pergi dulu mengirim koran yang lain. Alamatnya sudah ku selipkan disana.”
Pamannya pergi berpamitan dengan menaiki sepeda dan kini sudah berada jauh dari posisi Hee Joon berdiri. Hee Joon terdiam sesaat akibat perlakuan Pamannya barusan. Ia mengambil selipan kertas yang berisi alamat tujuan pengiriman koran. Ada 10 koran yang harus dikirim. Hee Joon memandangi tumpukkan koran itu sepersekian detik sebelum ia menghembuskan nafas berat dan melanjutkan aktivitasnya.
Ia langsung mengayuh sepeda dari satu rumah menuju rumah lain untuk mulai mengirim koran. Perjalanan mengirim koran itu berjalan lancar hingga ia sampai di sebuah rumah berpagar dengan tangga masuknya yang cukup tinggi. Di pagar rumah itu tertulis dengan jelas tulisan ‘Jangan melempar koran’. Hee Joon yang baru saja pertama kali mengantar koran kebingungan harus bagaimana untuk memberikan koran ke rumah itu. Ia mencoba berteriak siapa tau bisa memanggil seseorang dari dalam rumah.
“Permisi, kiriman koran!”
Seru Hee Joon berkali-kali dari bawah tapi hasilnya nihil tidak ada jawaban. Hal ini membuat Hee Joon akhirnya memutuskan untuk berjalan naik ke atas.
“Mengapa kamu selalu membuat masalah? Apa kamu tidak pernah sekalipun berfikir bagaimana nasib karir ayahmu kedepannya jika teman-temannya tahu anak perempuannya bergabung dengan kelompok aktivis yang melawan pemerintah?”
Pekik suara wanita paruh baya yang berasal dari dalam rumah.
“Itu hanyalah sebuah kelompok drama.”
Balas suara lainnya dengan nada yang tak kalah tinggi.
“Kamu kira aku tidak tahu apa yang kamu lakukan saat pergi ke kota lain? Tidak bisakah kamu menjadi anak yang penurut? Lebih baik kamu berdiam diri di rumah, tidak melakukan apa-apa ketimbang melakukan hal yang sembrono seperti ini.”
Lanjut suara wanita paruh baya itu. Hee Joon kini terdiam mencoba mendengar suara tadi dengan seksama.
“Aku hanya melakukan hal yang ku anggap benar. Dan anda tidak punya hak untuk mengaturku karena aku sudah lama tidak punya Ibu.”
Balas suara lain yang terdengar lebih muda dari suara sebelumnya, suara ini cukup familiar di telinga Hee Joon.
“Hei kamu mau pergi kemana? Dasar anak tak tahu diri.”
Suara wanita paruh baya itu terdengar semakin meninggi.