Days In Blue Moon

Tegrid Chintya Ifareyne Rauf
Chapter #8

Buku Diari

Gwangju, tahun 1979 bulan November

Hari ini turun hujan.

Aku biasanya sangat benci dengan hujan, tapi hari ini berbeda…

Hangatnya coklat panas dan marshmallow malam itu masih selalu terngiang-ngiang di benakku.

Saat meminumnya, seketika aku merasa menjadi sebuah marshmallow yang meleleh karena coklat panas.

Bukankah itu lucu?? Aku adalah marshmallow dan kamu coklat panasnya.

Eun Hui membaca dengan seksama tulisan syair cinta dari buku coret-coretan milik Hae Jin.

“Apa benar ini tulisanmu?”

Gumam Eun Hui bertanya-tanya setelah membaca syair bertema cinta karya Hae Jin.

“Ini adalah pertama kalinya aku menulis sesuatu bertema romansa. Bagaimana?”

Tanya Hae Jin dengan penuh antusias. Eun Hui menarik nafasnya dalam-dalam mencoba memilih kalimat yang cocok untuk tulisan Eun Hui.


“Kurasa kamu tidak cocok menulis puisi romansa seperti ini.”

Balas Eun Hui memberikan balasan yang sangat to the point.

“Tahu begitu aku tidak akan mengizinkanmu untuk membaca tulisanku lagi.”

Hae Jin mendengus kesal. Eun Hui membelalakkan matanya sambil sedikit menahan tawa.

“Jangan-jangan aku suka membaca coretan-coretanmu. Tapi jika itu adalah tulisan romansa, aku sarankan kamu menulisnya di buku yang berbeda. Seperti buku diary?”

“Seumur hidup aku belum pernah menulis buku diary.”

Balas Hee Jin sambil menghembuskan nafas beratnya.

“Nah, kurasa kamu bisa memulainya sekarang. Biasanya orang akan menulis apa yang terjadi dalam satu hari penuh dan meluapkan semua emosi mereka disana. Marah, sedih, senang, perasaan kupu-kupu jatuh cinta. Hampir semua perasaan.”

“Haruskah aku memulainya?”

Tanya Hee Jin pada Eun Hui untuk memastikan. Diseberangnya Eun Hui kini mengangguk-angguk cepat mencoba meyakinkan Hee Jin.





***


“Apa yang kak Nate lakukan?”

Ucap Hae Jin memberanikan diri memecah keheningan di antara mereka.

“Menulis detail kegiatan latihan drama. Aku harus mengumpulkannya besok.”

Jawab Nathan yang masih terfokus dengan buku kecil di tangannya. Hae Jin mengangguk-angguk.

“Aku selalu melihatmu sesekali menggunakan penyala suara saat sedang tidak sibuk. Lagu apa yang kak Nate dengarkan?”

Tanya Hae Jin yang ingin tahu tentang selera musik milik Nathan.

“Ingin mencoba mendengarkan?”

Tawar Nathan pada Hae Jin. Hae Jin sontak mengangguk cepat. Nathan tersenyum meletakkan buku kecilnya kemudian memasangkan alat penyala suara itu pada Hae Jin.


‘You’re all I need,,, to get by,,,’

Sebuah lagu mulai terdengar oleh Hae Jin.

‘Like sweet morning dews, I took one look at you and it was plain to see you are my destiny.’

Nathan memandangi dengan seksama ekspresi Hae Jin saat mendengarkan lagu kesukaannya.

Lihat selengkapnya