Sebagai cewek yang suka baca webtoon, komik, hingga nonton drama Korea romantis, aku selalu berharap kehidupan cintaku berbunga-bunga dan bahagia. Setiap kali ada karakter cewek yang jatuh cinta pada cowok tampan, tinggi, kaya, dan bucin padanya, aku sering membayangkan diriku berada di posisi itu. Mungkin, lantaran aku sering tenggelam dalam cerita-cerita itu, aku mulai memimpikan hidupku akan seromantis itu suatu hari nanti. Aku ingin bertemu cowok yang sempurna—yang selalu ada untukku, bisa membuat hatiku berdebar dengan senyumannya yang manis, dia nggak segan melakukan hal-hal kecil yang manis untuk menunjukkan perasaannya padaku. Sebuah kisah cinta yang sempurna, seperti yang sering kulihat di drama Korea –selalu membuatku tersipu malu dan berharap bisa mengalami hal yang sama–
Namun, kenyataannya, kehidupan SMA-ku sangat jauh berbeda dengan apa yang kubaca dan kutonton selama ini. Aku hanya seorang cewek biasa yang maniak cerita romantis. Mungkin juga... karena aku fatherless, tak punya ayah sejak kecil?
Waktu itu usiaku lima belas tahun, baru saja menjadi anak SMA. Hari pertama di SMA terasa sangat biasa. Pagi yang cerah, suara riuh para siswa yang sibuk bergerombol dan berbicara dengan teman-temannya memenuhi koridor. Aku menyukai suasana seperti ini—suasana yang penuh dengan kemungkinan dan tantangan baru. Tapi, sayangnya, aku terlambat pulang hari itu. Semuanya bermula saat aku terlalu asyik dengan buku-buku di perpustakaan. Tanpa sengaja, aku tertidur di sana karena mengantuk, dan saat terbangun, waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Aku langsung panik dan menuju tempat parkir sepeda. Sialan! Harusnya Tiar, sahabat sekaligus tetanggaku itu membangunkanku. Ke mana dia?!
Aku menarik napas panjang, menyusuri jalan setapak menuju tempat parkir sepeda. Angin sore yang sejuk bertiup melewati rambut kepang duaku, rasanya seperti memberi energi baru untuk menuntaskan hari yang cukup melelahkan ini. Tapi begitu aku mendekati area parkir, ada sesuatu yang mengusik perhatian. Telinga mendengar suara berisik dari kejauhan, seperti suara pertengkaran atau perdebatan. Aku menajamkan indra pendengaran, mencoba mencari tahu dari mana asal suara itu. Retinaku lantas melihat sekelompok orang berkumpul di sudut halaman sekolah yang cukup tersembunyi, jauh dari pandangan mata para guru atau siswa lain.
Mungkin karena aku sering baca webtoon atau menonton drama Korea, aku jadi tahu bahwa suara seperti itu biasanya pertanda buruk—seperti perisakan atau bullying– ditambah area ini dipenuhi oleh negative aura. Meskipun aku bukan tipe orang yang suka ikut campur, kali ini aku merasa ada yang harus aku lakukan. Dengan hati-hati kakiku melangkah ke arah yang lebih tersembunyi, berusaha agar tidak ketahuan. Dari balik dinding, aku mengintip, mencoba melihat apa yang sedang terjadi sembari membenarkan letak kacamataku yang melorot.
Dan ternyata, benar saja. Aku melihat seorang murid perempuan berambut keriting dikerumuni oleh beberapa cowok – dengan tampilan berandalan, merokok pula – yang terus-menerus mengolok-oloknya. Cewek itu terlihat terpojok, tubuhnya cemas dan matanya tampak berkaca-kaca. Mereka mengejek penampilannya dengan kata-kata pedas, bahkan mendorongnya dengan kasar, membuat tubuhnya goyah. Aku merasa hatiku terkoyak, tubuhku seperti membeku, seolah ada tali tak terlihat yang mengikatku pada tempat itu. Aku ingin berlari ke kantor guru, tapi tidak bisa. Aku hanya bisa mengintip dari balik dinding, menahan diri. Ini pertama kalinya aku melihat seseorang dirisak, dan rasanya... sangat menyakitkan.
Tiba-tiba, seorang cowok dengan sikap penuh dominasi mendekati cewek itu, menjenggut rambut keritingnya, dan mengolok-oloknya dengan tawa bak tokoh antagonis. Aku nyaris berteriak, atau melemparkan sepatuku, tapi sesuatu yang tak terduga terjadi. Sebuah suara lantang terdengar, menggema dan memecah ketegangan.
"Berhenti!" teriak seseorang dengan tegas.
Kak Mahendra.
Kak Mahendra Saputra—ketua OSIS yang cool, tampan, dan keren. Dia adalah cowok yang menjadi pusat perhatian, dengan aura yang sangat menarik. So rizz, mewing, and slay! Dengan langkah penuh percaya diri, Kak Mahendra menyelamatkan situasi itu, menghentikan gerakan para cowok berandalan yang terkejut. Dengan wajah yang tetap dingin, dia mengulurkan tangannya ke cewek berambut keriting yang gemetaran, seolah dia adalah pahlawan yang datang untuk menyelamatkan.
Di dalam hatiku, sebuah bel berdentang dengan keras. Apakah itu tandanya? Tanda kalau Kak Mahendra adalah orangnya? Apakah ini saatnya? Kisah cintaku akan dimulai, kah? Meskipun aku bukan korban perisakan itu, ada sesuatu yang menjalar dalam diriku, seperti aliran yang tak bisa kuhentikan. Aku merasakan bunga-bunga mekar di dalam dadaku, dan mataku... hanya tertuju padanya. Hanya padanya.
Setelah kejadian itu, benakku selalu memikirkan Kak Mahendra, 24 jam seperti lagu Heavy Rotation. Setiap kali melihatnya di sekolah, jantungku berdetak lebih dari normal. Aku mulai memperhatikannya, setiap jengkal, setiap tingkah laku, setiap tutur kata yang lembut dan sopan. Semuanya menyihirku. Kak Mahendra adalah tokoh utama di ceritaku, idolaku.
"Allegra, silakan dibaca puisinya..." suara Bu Linda, guru bahasa Indonesia tiba-tiba memecahkan imajinasiku. Baru saja aku melihat Kak Mahendra melintas di koridor dan bau parfumnya yang segar dan manly tercium. Tak sia-sia aku duduk di dekat jendela. Aku kembali ke mode serius di masa ini, satu tahun semenjak aku jatuh cinta pada Kak Mahendra. Sekarang Kak Mahendra kelas XII dan aku kelas XI. Tidak ada progress signifikan antara aku dan Kak Mahendra. Menyebalkan.
Aku berdiri dan melangkah ke tengah kelas untuk membaca puisi karanganku sendiri. Temanya adalah cinta, tentu saja... kutulis khusus untuk Kakak kesayanganku yang telah memenuhi hati dan pikiran selama setahun belakangan ini.
"Hari Itu karya Allegra Hasya." Kupandang seisi kelas yang membisu, mendengar. Aku mengatur ritme napas karena ini kali pertama kubacakan puisi karanganku di depan orang lain kecuali Bachtiar –dia pasti sudah bosan mendengar kehaluanku selama belasan tahun ini–. Bachtiar, yang duduk persis di belakangku, di barisan kedua pojok kiri kelas tak peduli dan sibuk menggambar sketsa. Ok, beranikan dirimu, Allegra! Anggap saja latihan sebelum menyatakan perasaan ke Kak Mahendra, inspirasi dari puisi bebas ini.
Hari itu adalah keajaiban