Aku berdiri di depan ruang kosong yang akan menjadi markas klub majalah dinding. Bu Linda mengajakku melihat-lihat. Di ruangan berdebu itu ada kipas angin yang menempel di plafon, meja kayu, empat kursi kayu, rak, dan sebuah lemari kayu. Di dindingnya tertempel beberapa karton berisi foto-foto dan kertas warna-warni. Bu Linda ternyata salah satu pengurus majalah dinding belasan tahun lalu. Aku baru tahu karena melihat foto Bu Linda, sedikit lebih muda dan kurus. Beliau senior ternyata! Aku jadi makin respect. Aku mengitari ruangan sederhana ini, membuka jendela agar udara pengap keluar.
"Saya sebenarnya ingin membersihkan tempat ini... tapi selalu disibukkan sama Pak kepsek dan Bu Nadia. Kalau klub ini kembali hidup, saya akan merasa sangat bahagia. Saya merindukan masa-masa itu. Setidaknya, jadi anak SMA lebih sedikit stress-nya." Bu Linda menyentuh beberapa kertas karton majalah dinding, matanya nampak berkaca-kaca.
Sayup, aku mendengar dari dinding seseorang menggenjreng gitar akustik. Biar kutebak, Kak Mahendra! Suara lembut Kak Mahendra mulai menari-nari di udara, memasuki indra pendengaranku dengan sopan. Ia menyanyikan bait demi bait lagu Bernadya, syahdu sekali rasanya. Aku ingin buru-buru membersihkan ruangan ini, berdiam setiap pulang sekolah dan mendengarkan suara Kak Mahendra. Ah, bahagianya! Kehidupan SMA-ku menjadi lebih hidup dan takkan terlupakan. "Bu Linda, ayo buat tim mading, Bu! Besok saya akan buat pengumuman perekrutan! Hanya butuh dua orang, kan? Mudah!" aku dengan optimis membayangkan ruangan klub yang bersih, aku mungkin akan membawa cemilan, membaca buku, sembari mendengarkan nyanyian malaikat.
Namun, ternyata bacot memang lebih mudah dilakukan dibandingkan menerima kenyataan. Sampai hari ini, Jumat pagi, tidak ada seorang pun yang mau bergabung di klub majalah dinding. Rata-rata berkata, sibuk, klubnya nggak jelas, mading? Kau hidup zaman batu? Dan kata-kata penolakan lainnya. Aku tahu bahwa ide membentuk klub ini memang tidak menarik bagi kebanyakan orang. Siapa coba yang mau repot-repot bergabung dengan klub majalah dinding yang tidak jelas tujuannya, apalagi di sekolah yang lebih mengutamakan organisasi seperti OSIS dan ekstrakurikuler lain yang lebih populer –teater, paskibraka, pencinta alam?
Dengan sedikit rasa frustrasi, aku menghela napas. Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi! Aku harus segera menemukan dua anggota lagi agar klub mading bisa berjalan. Aku sebenarnya pernah memikirkan siapa yang paling cocok untuk bergabung, dia terlintas sejak pertama kali. Namun... menghadapi orangnya bukan keahlianku.
Aku menoleh ke belakang tempat dudukku. Cowok bertubuh cenderung kurus dengan kulit sawo matang itu sedang menekuni buku sketsanya. Kali ini, ia menggambar burung-burung. Bachtiar mungkin bukan orang yang suka berbicara banyak tentang mimpi-mimpinya, tapi aku tahu dia pasti akan tertarik pada sesuatu yang memberinya ruang untuk berkarya tanpa gangguan. Ruang sebelah OSIS yang tenang itu pasti alasan yang cukup untuk membujuknya. Mungkin.
"Tiar, kau tahu soal klub majalah dinding yang lagi rekrutmen?" aku bertanya dengan nada antusias. Tiar hanya hm. "Sebenarnya... aku salah satu anggotanya. Kami butuh dua orang lagi biar resmi. Jadi... kau mau gabung?"
"Ogah." Tiar mulai mengarsir dengan pensil hitam sembari sesekali menggerak-gerakkan buku sketsanya, mengubah angle.
"Ruang klubnya di sebelah OSIS, di dekat kantin. Yang sering disangka gudang berhantu itu loh. Kalau kau gabung... kau bisa nggambar di sana dengan nyaman. Ibumu juga... kalau beliau tahu anaknya aktif bersosialisasi, ikut klub, pasti lebih senang, kan? Kau bisa pulang telat..."
Tangan Tiar berhenti bergerak, matanya yang lentik dan berbentuk almon itu menatapku. Aku agak deg-degan, semoga dia setuju dengan tawaranku. Ini solusi yang win-win di antara kami berdua. Apalagi, aku tahu seberapa menyeramkannya ibu Tiar. Kalau sudah ngomel... seluruh kompleks tahu! Semua aib dan dosa Tiar dibeberkan langsung oleh Ibunya.
Tiar mengusap poni belah tengahnya dan membenarkan postur punggungnya yang lebih cenderung membungkuk daripada tegak. "Benar begitu? Kalau iya, aku gabung. Tapi... aku nggak akan ikut rapat atau apa pun, ya."
Aku tersenyum lega, itu sudah cukup. Kucubit pipi Tiar dengan gemas dan spontan, "Thanks, Tiar! Kau memang sohib terbaikku!" Aku merasa sedikit lebih tenang karena sudah mendapatkan satu anggota. Sekarang, hanya tinggal satu lagi yang harus aku cari. Tentu, aku menawari teman sebangkuku, Dianeka. Namun, si anak paskibraka itu sudah terlalu sibuk dan tak mungkin bisa membagi waktu dengan klub baru. Jadi, dia kucoret dari daftar.