Aku sedang duduk di meja kayu ruangan mading, menatap kertas kosong yang ada di depanku. Pena di tanganku terasa berat, tetapi aku tahu aku harus mulai menulis. Inilah kesempatan dan caraku mengungkapkan perasaan yang terpendam. Biasanya aku bisa menulis setiap hari tentang Kak Mahendra di jurnal. Namun, semakin dekat dengan penerbitan majalah dinding De Crazie Crue yang pertama, entah kenapa aku malah merasa tidak ada yang bisa ditulis.
Mungkin aku harus menerbitkan puisi yang kubacakan di ruang kelas minggu lalu? Tapi... langsung ketahuan kalau itu tulisanku? Aku ingin jadi sedikit misterius dengan nama pena... biar terkesan penulis. Aku sepertinya butuh asupan tentang Kak Mahendra. Beberapa hari ini anak OSIS sibuk diutus ke sekolah lain, jadinya aku sedikit lesu. Kubolak-balik jurnal yang sengaja kubawa ke sekolah, kubuka platform membaca agar rasa halu atau delulu menggebuku balik lagi, aku juga mendengar lagu-lagu romantis, soundtrack hidupku dan kisah cintaku. Semuanya buntu. Apakah ini namanya writer's block?! Oh my God! Apakah aku sudah seperti penulis sesungguhnya?!
Aku mencoba menulis puisi tentang Kak Mahendra, lagi. Ini bukan pertama kalinya aku menulis tentangnya. Puisi-puisi yang kutulis adalah gambaran dari perasaan yang terus berkelindan di hatiku—perasaan yang belum berani kusampaikan terang-terangan padanya. Setiap kali aku menatap bahkan mendengar namanya disebut, dunia mendadak hening, benakku melukiskan hanya ada aku dan dia. Tapi, di saat yang bersamaan, aku juga merasa terasingkan, hanya melihatnya dari kejauhan, tanpa bisa mengungkapkan apa yang sebenarnya ada di dalam hatiku.
Jika saja waktu berhenti
Aku ingin dijebak bersamamu
Tanganku berhenti sejenak, menatap baris-baris itu dengan rasa campur aduk. Rasanya seperti ada yang terlepas, tetapi sekaligus juga semakin membebani diriku. Aku menggelengkan kepala, mencoba mengusir perasaan itu sejenak. Apa aku yakin untuk membeberkan puisi cintaku ke khalayak umum? Bukankah itu seperti menelanjangi diri? Bagaimana kalau orang-orang tahu perasaanku ke Kak Mahendra? Ah, masa bodoh! Memang itu tujuanku, kan? Menyampaikan perasaan sebelum Kak Mahendra lulus tahun depan! Eh, sejak kapan itu jadi tujuanku?
Saya mencari keberanian
Untuk merangkai kejujuran
Mengenai sesuatu yang tersimpan
Dalam diam dan tanpa kepastian
Saya menanti kesempatan
Untuk menyampaikan perasaan
Yang kian hari kian bermekaran