»»ββ>πππ π β ππ°ππ₯ πππ«π©ππππ‘ππ§ <ββ««
β β‘β β‘β β‘β β‘β
.
.
.
β β‘β β‘β β‘β β‘β
"Dukk!!! Duk!!!"
Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Pukulan dari balik pintu makin keras, membuat tubuh Pak Edward terguncang
Berulang kali, sesuatu di luar ingin menerobos masuk, namun tak bisa karena pintu dihalangi tubuh Pak Edward.
Ia masih menahan hingga wajahnya mulai pucat pasi.
Keringat dingin menetes dari pelipisnya, meninggalkan jejak basah di lantai yang ia berusaha abaikan saat ia menahan pintu.
Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Ia takut akan apa yang terjadi jika ia bergerak sedikit saja.
Ditegaskannya kepada diri sendiri untuk tetap bertahan, demi para murid yang harus ia lindungi, meski dengan rasa takut yang ada.
Di balik pintu yang ia tahan, suara geraman terdengar menggema di lorong, suara itu diiringi goresan yang cukup menyakiti telinga.
"Grrrrrrhhh"
"Critttt critt"
Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Disertai oleh suara yang kian menjadi, tubuh Pak Edward mulai lunglai, gedoran itu terlalu kuat untuk ditahan sendirian.
Salah satu murid bernama Mark melihat kondisi Pak Edward.
Ia terlihat khawatir juga takut, tapi itu lah yang mendorongnya untuk bersuara.
"Kita... kita harus bantu Pak Edward! dia ga bisa sendiri! Ayo semuanya! Kita bergerak!"
Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Ucapan yang awalnya gugup kini menggema nyaring, dengan penuh tekad.
Satu kalimat yang terucap dari Mark, berhasil menepis rasa takut dari beberapa murid, hingga mereka mulai bergerak dari tempatnya.
Tim adalah salah satunya yang bergerak dengan cepat ke arah pintu yang ditahan oleh Pak Edward.
Tim menggerakkan tubuhnya, menempelkan punggungnya pada pintu, membuatnya kini, berada tepat di samping Pak Edward.
Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Dari sudut matanya, ia bisa melihat kondisi Gurunya, yang sedang berusaha mengatur nafas.
Agar tidak terlihat kelelahan di mata murid-muridnya.
Tim diam, tak bicara, hanya menguatkan tubuhnya pada pintu.
Berharap bisa mengurangi rasa lelah Gurunya di dalam hati.
Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Pak Edward bisa merasakan sedikit keringanan.
Ia lalu memandangi Tim, senyum singkat terukir di bibirnya.
Ia merasa bahwa Tim bukan hanya mau menemaninya menahan pintu tapi juga berusaha sekuat tenaga untuk itu.
Sebuah kehangatan menjalar di dada Pak Edward, mengusir sebagian rasa lelahnya. Ia menatap Tim, bukan lagi sebagai murid, melainkan sebagai sekutu dalam masa chaos ini.
Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Tekadnya mengeras untuk melakukan yang terbaik bagi anak didiknya.
Murid-murid lain mulai menyusul untuk menahan pintu juga.
Beberapa lagi berusaha memikirkan hal lain yang dapat membantu.
Kebetulan, ada Jessie di sana. Sosok yang dikenal paling cerdas dikelas, nampaknya karena situasi yang masih was-was, ia mendapat ide lalu, bergerak ke arah meja dan menyentuhnya.
Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Di saat bersamaan, kebetulan Risa juga menyentuh meja yang sama.
Mereka saling bertukar pandang sejenak, sebelum akhirnya mengangguk.
Memahami bahwa mereka memikirkan hal yang sama sekarang.
Kemudian tanpa menunggu atau bicara, mereka berdua dengan kompak menggeser meja, lalu disusul Ellie yang juga membantu menggeser meja tersebut.
"Sreek... Sreek"