Deadline 34 (404:Husband not Found)

Tata Airy Ananta
Chapter #2

Chapter 1 - Notifikasi Bencana

Pagi itu, Lumea Studio masih terlelap. Belum ada suara ketikan keyboard yang brutal dari meja para copywriter, atau perdebatan alot tim desain grafis soal palet warna. Bangunan bergaya monokrom minimalis itu hanya diisi oleh dengung pelan pendingin ruangan dan suara gemeretak biji kopi yang sedang digiling di pantri.

Aradeya Bintari berdiri dengan tenang di depan meja pantri. Kemeja silk berwarna nude dan celana kulot hitam membingkai tubuhnya yang ramping. Di usianya yang menginjak 34 tahun, Deya tahu betul bagaimana tampil elegan tanpa terlihat berusaha terlalu keras. Kata rekan-rekan kantornya, Deya adalah definisi dari effortlessly pretty and stylish.

Tangannya meraih teko leher angsa, lalu menuangkan air panas dengan gerakan memutar yang presisi di atas dripper V60. Uap panas langsung mengepul, membawa aroma yang sangat tajam dari biji kopi Flores Bajawa ke udara. Ini bukan sekadar rutinitas, ini adalah ritual harian sebelum menghadapi sang bos.

“Tumben pakai Bajawa. Bukannya, hari ini jadwalnya Gayo?”

Sebuah suara bariton yang dalam dan sedikit serak memecah keheningan pantri. Deya tidak perlu repot-repot menoleh. Bahkan, dari tarikan napasnya saja, Deya sudah hafal mati siapa yang baru saja berbicara.

Gatra Alkafi. Pendiri Lumea Studio sekaligus pria yang telah menjadi bos, mentor, sekaligus sumber sakit kepala Deya selama hampir satu dekade terakhir. Julukan high quality jomlo tidak disematkan secara sembarangan untuknya. Sebab, dia tampan, cerdas, sudah mapan, dan yang paling penting … dia masih single di usianya yang sudah 39 tahun.

“Bapak kurang tidur. Gayo terlalu asam untuk perut kosong yang diisi stres lembur semalaman. Bajawa lebih aman,” jawab Deya tenang, tanpa mengalihkan pandangan dari tetesan kopi yang turun perlahan ke dalam server kaca.

Gatra melangkah masuk, menarik bar stool tinggi, dan duduk di samping Deya seraya melipat tangan di dada. Sudut bibirnya berkedut tipis, membentuk senyum asimetris yang sering kali membuat klien wanita Lumea Studio salah fokus. Namun, Deya sudah kebal dengan senyum itu.

“Delapan tahun kerja sama saya, kamu lama-lama berevolusi jadi dokter gizi, ya, De,” sindir Gatra, menerima cangkir keramik hitam yang disodorkan Deya. Dia menghirup aromanya sesaat sebelum menyesapnya perlahan.

“Itu karena saya yang repot kalau Bapak ambruk.” Deya meraih tabletnya di atas meja, langsung beralih ke mode sekretaris profesional. “Jam sepuluh nanti ada meeting finalisasi deck presentasi untuk Valerion, Pak. Pak Gatra harus me-review hasil proofreading dari saya sebelum—”

Lihat selengkapnya