Deadline 34 (404:Husband not Found)

Tata Airy Ananta
Chapter #3

Chapter 3 - PBBKAB (Pusat Bantuan Bencana Kencan Aradeya Bintari)

Kutukan Gatra sepertinya memang punya tingkat keberhasilan mencapai hampir seratus persen.

Deya duduk kaku di kursi rotan kafe seberang gedung Lumea Studio, menatap nanar cangkir chamomile tea-nya yang sudah mulai dingin. Di seberang meja, Bastian—pria mapan bergelar Manajer IT yang fotonya terlihat sangat menjanjikan di aplikasi kencan—sedang berbicara dengan kecepatan cahaya.

Masalahnya, selama 20 menit terakhir, Bastian sama sekali tidak menanyakan apapun tentang Deya. Hobinya kek, makanan kesukaannya kek, atau sekadar memuji cuaca hari ini yang cukup cerah. Tidak sama sekali.

“Jadi begini, Deya. Kalau kita ibaratkan pernikahan itu seperti server utama, maka komunikasi adalah bandwith-nya," Bastian menjelaskan dengan mata berbinar di balik kacamata frame kotaknya. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk meja seolah sedang menekan keyboard imajiner. “Dan, di usia kamu yang sudah 34 tahun ini, secara biologis hardware-mu sedang memasuki fase … maintenance kritis. Kita butuh integrasi sistem secepatnya supaya backup keturunan kita tidak mengalami error log.”

Deya mengerjap pelan. Otaknya berusaha keras memproses rentetan kalimat Bastian. Barusan dia nyamain rahim gue sama hardware yang butuh maintenance, ya?

“Bastian …,” sela Deya selembut mungkin. Dia belum banyak bicara sepanjang pertemuan mereka ini, tapi rasanya sudah letih sekali. “Aku rasa kita—”

“Oh, tunggu! Aku belum selesai menjelaskan return of investment dari pernikahan di usia tiga puluhan.” Bastian ganti memotong kalimat Deya. Dia sekarng malah mencondongkan tubuhnya ke depan, tampak sangat antusias.

Di bawah meja, jari Deya dengan cepat merogoh ponsel di dalam tasnya. Dia menekan tombol panggilan cepat nomor satu. Tidak sampai dua detik, nada sambung itu terputus, lalu disusul dengan dering panggilan telepon dari nomor yang sama. Deya buru-buru mengangkatnya

“Halo, dengan PBBKAB, Pusat Bantuan Bencana Kencan Aradeya Bintari, ada yang bisa dibantu?” Suara bariton Gatra yang sarat akan nada meledek terdengar jelas di ujung telepon.

Deya memasang wajah panik terbaiknya, mengabaikan kekehan tertahan Gatra di seberang sana. “Halo, ada apa, Pak? Klien mendadak minta revisi draf kontrak sekarang? Baik, Pak. Saya segera kembali ke kantor. Lima menit. Saya cuma di kafe depan kantor.”

Deya memutus panggilan, lalu menatap Bastian dengan raut penuh penyesalan yang ia latih selama bertahun-tahun dalam menghadapi klien rewel. “Bastian, maaf banget. Ada krisis server—maksudku, krisis desain di kantor yang butuh penanganan secepatnya. Bosku bisa ngamuk kalau aku nggak balik sekarang.”

Bastian tampak kecewa, tapi dia hanya mengangguk mengiakan. “Yah, padahal obrolan kita masih seru, ya. Aku juga baru mau masuk ke bab optimasi jaringan."

Not even in my wildest dream. Deya membatin kesal. Dia meletakkan selembar uang 50 ribuan di atas meja untuk menutupi harga tehnya—hal yang selalu dilakukan Deya setiap bertemu dengan pria dari aplikasi kencannya. Deya kemudian setengah berlari keluar dari kafe itu secepat sepatu hak tingginya mengizinkan.

Saat dia memasuki ruang kerja Lumea Studio, Gatra sedang berdiri bersandar di pinggiran meja wanita itu. Bosnya itu tengah memegang secangkir kopi hitam sambil menatap jam tangan mahalnya.

“27 menit.” Gatra manggut-manggut, lantas mengangkat pandangannya menuju Deya. Senyum miringnya mengembang sempurna. “Rekor baru. Jadi …, apa lagi kelakuan aneh teman kencan kamu yang sekarang?”

Deya merotasikan bola matanya, lantas berjalan melewati Gatra begitu saja. Diempaskannya tubuhnya ke kursi kerja, dia lalu menghela napas panjang hingga poni rapinya sedikit berantakan. “Dia bilang rahim saya kayak hardware yang butuh maintenance kritis.”

Gatra nyaris menyemburkan kopinya. Tawa pria itu meledak, memenuhi ruangan yang sepi. Kepalanya memutar menghadap Deya yang duduk di balik mejanya. “Ya Tuhan, Deya. Kamu tu nemu fosil-fosil hidup kayak gitu di mana, sih?”

Deya meraih tumbler berisi air putih miliknya yang berada di samping laptop, lalu meneguknya hingga hampir habis—mengabaikan ledekan Gatra. “Sudahlah, Pak, tolong jangan bahas ini lagi. Energi saya sudah terkuras habis hari ini."

Gatra berhenti tertawa, meski sisa geli masih menari di matanya. Dia lalu melangkah mengitari meja Deya dan berhenti tepat di samping sekretarisnya itu. Satu kotak croissant hangat dari toko roti mahal dekat kantor diletakkannya tepat di depan Deya. “Ni makan. Hardware-mu butuh tambahan kalori buat ketemu fosil hidup berikutnya.”

Lihat selengkapnya