“Jadi, basically, core business dari startup gue ini adalah merevolusi cara orang mengonsumsi protein powder, Deya. You know, gen Z sekarang itu butuh sesuatu yang aesthetic tapi tetap high impact ke muscle building mereka.”
Deya menatap pria di seberangnya dengan tatapan kosong. Pria itu bernama Kevin. Atau setidaknya, itu nama yang tertera di profil aplikasi kencannya. Di foto, Kevin tampak seperti seorang pria berkacamata yang sedang membaca buku di sebuah perpustakaan estetik. Di kolom chat selama tiga hari terakhir, Kevin kerap membalas pesan Deya dengan kutipan puisi Kahlil Gibran dan diskusi mendalam tentang work-life balance.
Namun kenyataannya, pria yang duduk di hadapan Deya saat ini mengenakan kaus v-neck ketat yang memperlihatkan otot dadanya, tidak memakai kacamata, dan selalu mengucapkan kata 'basically' dan 'literally' di hampir setiap kalimatnya.
“Oh, begitu. Menarik. Tapi, gimana kalau kita lanjutin dulu pembahasan kita soal Kahlil Gibran yang belum selesai tempo hari? Kebetulan, gue lagi tertarik sama bidang itu lately.” Deya menekankan kata ‘lately’ mengikuti gaya bicara Kevin.
Kevin mengernyit. Tangannya sibuk merapikan tatanan rambut pompadour-nya yang sudah keras oleh pomade. “Kahlil siapa? Oh, broker properti, ya? Gue kurang main di sektor properti, sih.”
Deya menarik napas panjang, menahan dorongan untuk menyiramkan es matcha latte yang sedang diaduknya. Dia pun mulai curiga. “Kevin, yang chat gue selama tiga hari terakhir ini … elo, kan?"
Kevin terdiam, tampak berpikir sejenak, lalu tiba-tiba tertawa, seakan-akan Deya baru saja melontarkan lelucon paling lucu abad ini. “Well, gue tu sibuk banget, Deya. Lo bayangin aja, meeting sana-sini, gym dua jam sehari. Jadi, gue pakai jasa admin—semacam asisten virtual lah—buat handle dating apps gue. Biar efisien. Mereka yang screening dan chatting awal, gue tinggal datang pas eksekusi date-nya aja. Pinter, kan?"
Gantian Deya yang terdiam. Joki chat? Cowok sinting ini sewa joki buat cari jodoh?
Di usia 34 tahun, Deya merasa dirinya sudah melihat segala keanehan laki-laki di dunia ini. Namun, Kevin berhasil menciptakan standar kekecewaan yang baru.
Deya tersenyum, sebuah senyum tipis mematikan yang biasa ia gunakan saat klien menawar harga desain Lumea Studio hingga tidak masuk akal. “Efisien sekali. Saking efisiennya, gue rasa gue malah lebih cocok ngobrol sama asisten virtual lo daripada sama lo, Kevin. Salam untuk 'Kahlil Gibran' di sektor properti.”
Deya merogoh tasnya, mengeluarkan selembar uang seratus ribu, dan meletakkannya di samping gelas matcha-nya. Dia bangkit berdiri sambil menyampirkan tas di bahunya, kemudian meninggalkan Kevin yang masih kebingungan mencerna kalimatnya.
***
Deya menjatuhkan asal tasnya begitu ia sampai di meja kerjanya. Kepalanya jatuh bersembunyi di atas lipatan lengan di atas meja. Dia lelah. Bukan hanya lelah fisik, melainkan lelah mental.
“Berapa menit rekor kali ini?”
Suara berat dan berwibawa itu terdengar dari arah pintu ruangan bosnya. Deya mengangkat kepalanya perlahan, mendapati Gatra sudah bersandar di kusen pintu ruangannya—tepat di depan meja kerja Deya.
Kemeja putih slimfit membungkus tubuh atletis Gatra. Lengan kemejanya digulung hingga siku. Jari-jemarinya memutar sebuah pena dengan cekatan, sementara tangan satunya diselipkan ke saku celana.
Deya menghela napas lelah. “Tiga puluh menit. Dan, saya nggak dapat pelajaran tentang jaringan komputer hari ini. Saya justru dapat pelajaran tentang startup protein powder dan … joki chat.”
Alis Gatra terangkat tinggi. “Joki chat?”
Kepala Deya mengangguk lemah. “Dia sewa admin buat balas semua pesan di dating apps-nya, termasuk waktu chatting-an sama saya. Sumpah, ini pria teraneh yang pernah saya temui selama ini. Kayaknya, setelah ini saya harus minta portofolio dan KTP sebelum setuju diajak meet up.” Deya meracau tanpa henti, mengungkapkan kekesalannya.
Gatra tertawa pelan, lalu melangkah mendekati meja Deya dan meletakkan sebuah map folder berisi draf revisi desain. “Saya sudah bilang, kan? Pria di aplikasi itu hanya sebatas layar. Kalau kamu cari partner hidup hanya dengan bermodalkan foto dan biografi sepuluh baris, kamu bakalan terus berakhir minum kopi dengan sekumpulan komedian gagal. Belum lagi kamu ketemu cowok-cowok mesum ….”