Deadline 34 (404:Husband not Found)

Tata Airy Ananta
Chapter #5

Chapter 4 - Kurang Fokus

Ada tiga hal yang pantang dilakukan oleh seorang Aradeya di hari kerja, yaitu memakai sepatu berhak kurang dari lima sentimeter, membiarkan kotak masuk email menumpuk tanpa kategori, dan menyeduh kopi yang salah untuk Gatra.

Pagi ini, Deya melanggar poin ketiga. Dan mungkin, sebentar lagi, ia akan melanggar lebih banyak aturan profesionalnya sendiri.

Matahari pagi menembus jendela kaca besar Lumea Studio, memantul di atas meja konter pantri tempat Deya berdiri. Kantung matanya bengkak, sisa tangis semalaman usai mendengar percakapan Wima dan Renata di rumah sakit. Concealer tebal yang ia pulas pagi ini hanya sedikit membantu menutupi warna gelapnya, tapi tidak bisa menyembunyikan tatapan kosongnya.

Kepala Deya berdenyut. Rentetan profil pria dari aplikasi kencan yang ia swipe secara brutal semalam masih berbayang di pelupuk matanya. Ratusan wajah asing yang ia harapkan bisa menjadi jalan keluar instan bagi kebuntuan keluarganya.

Tanpa sadar, Deya menuangkan biji kopi dari toples berlabel 'Gayo' ke dalam grinder, menyeduhnya dengan air yang suhunya belum mencapai titik optimal, lalu menuangkannya begitu saja ke dalam cangkir keramik hitam. Tidak ada timer, tidak ada gerakan melingkar yang presisi. Hanya sekadar menuang.

“Tumben aromanya beda.”

Deya sedikit tersentak hingga beberapa tetes air panas terciprat ke punggung tangannya. Ia buru-buru mengambil tisu, mengabaikan rasa perihnya, lalu menoleh.

Gatra sudah berdiri di ambang pintu pantri, mengenakan kemeja abu-abu gelap dengan jas yang tersampir di tangan kanannya. Pria itu menatap Deya dengan alis berkerut, tatapannya menyapu dari tangan Deya yang mengusap tisu hingga ke wajah sekretarisnya.

“Kopinya, Pak.” Deya menyodorkan cangkir berisi kopi yang baru diseduhnya, mengabaikan komentar Gatra. Suaranya terdengar lebih serak dari biasanya.

Gatra menerima cangkir tersebut, menatap permukaannya yang tidak sepekat biasa, lalu menyesapnya sedikit. Pria itu menghentikan gerakannya. Ia memandangi cangkir itu, lalu menatap Deya lagi.

“Ini Gayo. Dan, ekstraksinya kurang matang,” ucap Gatra datar.

Deya kembali tersentak, seakan baru sadar apa yang baru saja dilakukannya. Tangannya terulur untuk meminta kembali cangkir dari tangan Gatra. “Maaf, Pak. Saya sedang sedikit … kurang fokus. Saya buatkan yang baru sekarang—"

“Nggak perlu.” Gatra menggeleng, membuat Deya menarik kembali tangannya. Pria itu kemudian meletakkan sendiri cangkirnya di atas meja konter. Matanya kini sepenuhnya mengunci wajah Deya. Insting Gatra sebagai seorang bos yang telah bekerja delapan tahun dengan Deya menyala seketika. “Kamu kelihatan kayak zombi pagi ini, De. Kamu kurang tidur? Matamu bengkak. Dan, kamu sama sekali nggak fokus, padahal masih pagi. Ada apa?”

Deya memaksakan senyum profesional andalannya. Namun, ia tahu senyum itu tidak mencapai matanya. “Nggak ada apa-apa, Pak. Cuma kurang tidur. Semalam, saya maraton nonton drama Korea.”

Sebuah kebohongan yang sangat buruk. Sejak kapan Aradeya Bintari menyukai drama Korea, bahkan sampai menangisinya?

Gatra jelas tidak mempercayainya. Dia sudah hafal betul soal itu. Namun, dia memilih untuk tidak menekan lebih jauh. Pria itu hanya mendengkus pelan dan mengedikkan bahunya sekilas. “Pastikan drama Koreamu itu nggak bikin kamu salah kirim draf kontrak hari ini. Kita juga ada briefing internal untuk EGO dan Chocozy, kan? Saya butuh kamu fokus.”

Deya mengangguk paham. “Pasti, Pak.”

“Dan, pesankan saya kopi dari kafe di bawah. Saya lagi nggak mau minum kopi kurang mateng buatanmu. Saya nggak mau mengundang penyakit di perut saya.”

“Baik, mengerti, Pak.”

Namun, kata ‘pasti’ dan ‘mengerti’ yang diucapkan Deya nyatanya hanya bertahan selama kurang dari dua jam.

Ruang rapat Lumea Studio diisi oleh enam orang dari tim desain dan copywriter. Gatra berdiri di depan layar interaktif, membedah draf layout untuk katalog rilis musim depan milik EGO, klien fashion brand lokal yang sedang naik daun. Deya duduk di kursi sudutnya, memangku tablet untuk mencatat setiap revisi.

Biasanya, stylus Deya akan menari lincah di atas layar, mencatat semua revisi dan catatan dari Gatra. Serta, menyortir tugas untuk masing-masing divisi bahkan sebelum rapat selesai. Akan tetapi, hari ini layar tabletnya bersih dari coretan. Mata Deya lebih banyak fokus pada layar ponsel yang juga dipangkunya—tersembunyi dari pandangan Gatra karena terhalang oleh tablet yang berdiri.

Semalam, usai menyukai ratusan profil secara membabi buta, Deya mendapatkan beberapa match. Dan pagi ini, beberapa dari mereka mulai mengirim pesan. Pesan-pesan yang sebagian besar berisi sapaan standar, tawaran meet up, hingga pertanyaan aneh. Deya membalasnya satu per satu dengan kalimat singkat. Pikirannya terbagi antara mendengarkan suara Gatra dan mengatur jadwal pertemuan dengan para pria asing ini.

Siapa saja. Pokoknya siapa saja yang mau bertemu akhir pekan ini.

“Deya.”

Panggilan itu membuat Deya sedikit berjengit. Ia buru-buru menelungkupkan ponselnya, lantas mendongak menghadap Gatra. Seluruh pasang mata di ruang rapat kini menatapnya, termasuk Gatra yang berdiri dengan spidol di tangan.

Lihat selengkapnya