“Jadi, basically, waktu gue bangun agensi gue, Apex Creative, gue bilang ke tim gue kalau kita nggak boleh main aman. Kita harus disruptive. Apalagi, tim gue isinya anak-anak Gen Z yang visionary dan ambis banget. Mereka langsung ngerti sama maksud gue. Lo juga ngerti maksud gue, kan, Deya?”
Deya mengaduk lychee tea-nya dengan gerakan pelan, menatap pria di hadapannya dengan ekspresi datar yang sudah ia latih selama setengah jam terakhir.
Devan, pria yang fotonya tampak memukau di aplikasi kencan, saat ini mengenakan blazer navy yang lengannya digulung hingga siku. Gaya yang mirip dengan Gatra. Namun, entah mengapa, Devan justru terlihat seperti tenaga sales yang sedang over-trying.
Ditambah lagi, pria itu ternyata memiliki kemampuan luar biasa yang membuat Deya hanya bisa menyeringai miris—mengasihani dirinya sendiri. Selama 45 menit mereka bertemu, Devan mampu berbicara tanpa jeda. Dan, seratus persen topiknya adalah tentang dirinya sendiri. Sejak mereka duduk di restoran mewah bergaya rooftop ini, pria itu sama sekali belum menanyakan apapun tentang Deya.
Deya beralih ke piring berisi steak dan memotongnya seiris kecil. Makanan di depannya tampak lebih menarik. Dia pun merespons Devan tanpa menatap pria itu. “Tentu. Menjadi disruptive itu penting di industri kreatif. Lumea juga selalu menekankan inovasi setiap kali kami—"
“Nah, itu masalahnya dari agensi-agensi konvensional kayak tempat lo kerja,” potong Devan cepat, mengibaskan tangannya seolah sedang mengusir lalat imajiner. “Lumea itu …, ya, lumayan, lah. Tapi, mainnya masih terlalu safe. Kalau di Apex, gue yang pegang kendali penuh dari hulu ke hilir. Gue founder, gue creative director, gue juga yang pitching ke klien-klien kakap. Lo tahu, kan, betapa stresnya mikirin konsep besar?”
Devan mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Deya dengan senyum meremehkan yang disamarkan sebagai rasa simpati. “Lo beruntung banget, sih, Deya. Kerja jadi sekretaris itu, kan, enak. Jam sembilan datang, ngatur-ngatur jadwal bos, angkat telepon, pesenin kopi, terus jam lima teng bisa pulang. That’s it. Lo nggak perlu pusing mikirin layout, revisi klien, atau margin profit kayak gue.”
Pisau di tangan Deya berhenti bergerak. Urat kesabaran yang sangat tipis di dalam kepalanya baru saja putus. Dia sedang mati-matian menahan diri untuk tidak melempar pisau di tangannya itu ke arah Devan. Rasa lelah, putus asa, dan stres digantikan oleh rasa jengkel membakar ubun-ubun.
Deya meletakkan pisau dan garpunya di sisi piring. Diambilnya serbet di atas meja, menepuk pelan sudut bibirnya, lalu menatap Devan lekat-lekat. Tidak ada lagi senyum sopan. Tidak ada lagi Deya yang putus asa mencari validasi.
“Devan …, gue mau kasih tahu lo satu hal supaya kita punya pemahaman yang sama.” Suara Deya mengalun tenang, tapi terdengar mengintimidasi. “Sekretaris di agensi ‘konvensional’ kayak Lumea kerjaannya nggak cuma pesan kopi. Kami memastikan bos kami nggak kelihatan bodoh di depan klien. Kami juga ngelakuin proofreading kontrak bernilai miliran rupiah, yang kalau salah koma aja bisa bikin perusahaan kami dituntut. Dan, kami juga memastikan bos kami memiliki jadwal yang masuk akal supaya nggak mati muda karena serangan jantung.”
Devan terdiam. Mulutnya sedikit terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar.
“Dan, satu lagi …. Untuk seorang founder yang pegang kendali penuh dari hulu ke hilir, gue saranin lo ganti bio di aplikasi lo. Agensi yang punya tiga karyawan freelance dan semuanya kerja remote belum bisa disebut disruptive. Itu namanya startup yang masih bootstrapping. Lo ngerti, kan?” lanjut Deya, membalikkan kata-kata Devan sebelumnya.
Gadis itu kemudian merogoh tasnya, mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan dan meletakkannya di atas meja. “Thank you buat waktunya dan makan malamnya yang luar biasa … membosankan. Dan, lo nggak perlu traktir gue karena gue bisa bayar sendiri.”
Tanpa menunggu balasan pria narsistik itu, Deya bangkit dari kursi, merapikan rok pensilnya, dan berjalan keluar menuju lift dengan langkah tegap. Hak sepatunya yang beradu dengan lantai marmer restoran menciptakan ritme statis, seirama dengan detak jantungnya yang memompa hormon adrenalin.
Begitu pintu lift tertutup dan Deya sendirian, badannya terhuyung lemas menyandar ke dinding. Dia memejamkan mata seraya menghela napas panjang.
Lagi-lagi gagal.
Namun anehnya, kali ini Deya tidak ingin menangis. Dia justru merasa lega. Rasa percaya dirinya yang sempat terinjak-injak oleh tekanan sang ibu dan ekspektasi lingkungan perlahan kembali. Pria seperti Devan tidak pantas mendapatkan waktunya, apalagi masa depannya.
Deya mengeluarkan ponsel, membuka aplikasi kencan sialan itu, dan tanpa ragu menekan tombol ‘Unmatch’.
***
Tiga hari setelah insiden kencan menyebalkan itu, Deya menemukan dirinya berdiri di tengah hiruk pikuk sebuah gudang raksasa yang disewa khusus oleh Lumea Studio.
Udara dalam ruangan itu terasa pengap, bercampur dengan aroma karet ban mobil baru, kopi hitam, dan asap dari smoke machine. Kabel-kabel hitam tebal menjalar di lantai beton, seperti ular yang saling membelit. Di tengah ruangan, sebuah mobil SUV premium keluaran terbaru berwarna abu-abu matte terparkir gagah di atas panggung putar, dikelilingi oleh lampu-lampu sorot raksasa dengan softbox yang memancarkan cahaya dramatis.
Hari ini adalah hari eksekusi syuting iklan untuk klien terbesar mereka bulan ini, Valerion.
Deya berdiri di dekat meja operator yang dipenuhi deretan monitor laptop dan kabel penghubung. Di pelukannya, terdapat clipboard berisi susunan jadwal dan storyboard. Mengenakan setelan kemeja hitam dan celana bahan yang nyaman untuk bergerak, serta rambut yang diikat kuda agar tidak mengganggu pandangan, Deya merasa lebih hidup di sini. Di tengah kekacauan yang terstruktur ini, ia tahu persis apa fungsi dirinya dan bagaimana dirinya dihargai sebagaimana mestinya.
Di belakang area kamera utama, Gatra berdiri dengan tenang, mengawasi jalannya persiapan syuting bak seekor elang. Pria itu mengenakan kaus oblong hitam polos yang dilapisi jas kasual warna senada dan dipadukan dengan celana kargo. Gayanya terkesan agak santai, tapi aura otoritasnya memancar kuat.
Sebagai founder dan pimpinan Lumea Studio, masa-masa di mana ia harus berteriak memindahkan properti atau mengatur letak lampu secara langsung sudah lama lewat. Kini, ia mendelegasikan seluruh eksekusi teknis kepada para staf kepercayaannya. Namun, tidak ada satu pun detail yang luput dari pandangannya, serta tidak ada satu frame pun yang lolos tayang tanpa anggukan mutlak darinya.
Gatra menunjuk sekilas ke arah monitor tethering, memberikan masukan pelan kepada Art Director di sebelahnya agar bayangan di kap mesin dibuat lebih tajam. Dia lalu menoleh ke belakang mencari keberadaan sekretaris andalannya.