Deadline 34 (404:Husband not Found)

Tata Airy Ananta
Chapter #7

Chapter 6 - Deretan Pria Aneh di Akhir Pekan

Bagi Deya, akhir pekan bukan lagi tentang bersantai dengan masker wajah atau maraton serial di Netflix. Akhir pekan kini telah berubah wujud menjadi jadwal marathon interview calon suami.

Sabtu ini, Deya menyusun jadwal pertemuannya yang padat dengan sangat presisi. Tiga pria dari aplikasi kencan, di tiga kedai kopi yang berdekatan di kawasan Senopati, dengan durasi maksimal satu setengah jam per orang. Logikanya sederhana, yakni memperbesar probabilitas.

Namun, realitasnya ternyata jauh dari kata sederhana.

Pukul sepuluh pagi, Deya bertemu dengan kandidat pertama. Andri (33 tahun). Di lima menit pertama, pria itu mengeluarkan iPad dari dalam tasnya. Alih-alih membicarakan hobi atau keluarga, Andri malah membuka slide presentasi tentang cryptocurrency dan bisnis jaringan multi-level marketing obat herbal. Deya menghabiskan sisa waktunya mengangguk kaku sambil menahan napas setiap kali Andri menyebut kata passive income.

Kesimpulan: FAILED!

Pukul satu siang, kandidat kedua bernama Bowo (35 tahun). Pria ini adalah perwujudan sempurna dari yang namanya ketidaknyamanan dan ketidakhigienisan. Sejak awal duduk, Bowo terus-menerus menggaruk sisi lehernya dengan gelisah, membuat Deya ikut merasa gatal.

Puncaknya adalah ketika Bowo bertanya dengan nada sangat serius, “Kamu nggak keberatan kan kalau setelah nikah, kamu resign terus kita tinggal sama ibuku dan ketujuh kucing persiaku? Ibuku agak cerewet, sih, dan kucing-kucingku suka kencing sembarangan, tapi mereka lucu, kok. Kamu pasti bisa urus, kan?”

Deya nyaris menyiramkan es teh lecinya ke wajah pria itu sebelum beralasan harus ke toilet dan melarikan diri.

Kesimpulan kedua: ABSOLUTELY FAILED!

Pukul empat sore. Sisa energi Deya sudah berada di ambang batas kritis saat ia melangkah masuk ke sebuah coffee shop bernuansa industrial untuk menemui kandidat ketiga, Coki (32 tahun). Di profilnya, Coki mendeskripsikan diri sebagai Digital Creator & Mindset Enthusiast. Namun, Deya tidak pernah menyangka bahwa saat ia menemukan pria itu duduk di sudut kafe, Coki telah menyiapkan dua buah microphone condenser portabel lengkap dengan stand-nya di atas meja.

“Hai, Deya! Glad you made it!” sapa Coki antusias—terlalu antusias malah. Dia mempersilakan Deya duduk di kursi di depannya, kemudian langsung berbicara ke arah mikrofon. “Jadi, Guys, hari ini gue lagi sama Deya. Dia kerja di advertising agency, makanya gue excited banget sama meetup kali ini karena obrolan kami pasti bakalan nyambung.”

Deya mematung di tempat. Matanya memindai bergantian ke arah Coki dan dua mikrofon hitam di atas meja.

“Coki, lo … ngerekam ini?” desis Deya panik. Wajahnya seketika memerah sebab beberapa pengunjung kafe mulai menoleh ke arah meja mereka.

Of course! Konten, Deya. Audiens gue butuh tahu gimana susahnya high-value man mencari partner yang sepadan di era modern ini.” Coki mengibaskan tangan dengan gaya sok asyik. “Ayo, sini duduk. Ngapain kamu masih di situ?”

Deya menghela napas panjang-panjang sebelum akhirnya duduk di kursi yang tiba-tiba kelihatan tidak nyaman sama sekali.

“Nah, Deya, pertanyaan pertama. Sebagai wanita karier umur tiga puluhan, kamu ngerasa insecure nggak, sih, bersaing sama cewek-cewek Gen Z di dating apps?” todong Coki tanpa tedeng aling-aling. Pria itu bahkan tidak bertanya kabar terlebih dulu untuk sekadar basa-basi.

Mata Deya memejam dan tangannya meremas tali tasnya erat-erat. Di dalam hati, dia memohon pada Tuhan agar lantai kafe ini terbuka dan menelannya hidup-hidup. Kesabarannya sudah menguap sejak pertemuannya dengan Andri si kandidat pertama. Dan sekarang, dia sudah lelah sekali. Dia hanya ingin bertemu pria normal, tapi kenyataan yang didapat semuanya abnormal.

Deya membuka kembali matanya dan siap melontarkan kalimat-kalimat sarkastis. Akan tetapi, kata-katanya seketika tertelan saat sebuah tangan besar dan kokoh bertumpu di sandaran kursinya.

Aroma cedarwood dan citrus yang familier menyapa indra penciuman Deya. Wanita itu pun mendongak untuk memastikan. Dan benar saja, Gatra sudah berdiri di sampingnya dengan senyum miring di bibirnya.

“Maaf mengganggu sesi podcast yang sangat … high value ini,” sindir Gatra dengan suaranya yang berat dan dingin. Pria itu mengenakan kemeja linen hitam yang tidak dikancingkan penuh. Tampak santai, tapi tetap terlihat elegan. Di tangan kirinya, ia memegang paperbag bertuliskan logo kafe ini. Matanya menatap tajam ke arah Coki.

“Eh, Bro, sori, kami lagi recording—” Coki mencoba protes, tapi kalimatnya seketika terhenti saat melihat apa yang dilakukan Gatra.

Pimpinan Lumea itu kini menatap Deya lekat-lekat, lalu membawa satu tangannya menggenggam sebelah Deya. “Kamu tu … kebiasaan, ya, Sayang. Kalau lagi kesel sama aku, selalu aja cari hiburan ke dating apps. Kalau marah, lampiasin ke aku aja. Jangan ke cowok lain.”

Deya mengerjap pelan, berusaha mencerna kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Gatra. Apa, sih, maksudnya? Tadi, dia manggil gue … ‘sayang’?

“Sori, Bro, cewek gue emang suka ngasih shock therapy ke gue kalau lagi marah,” ujar Gatra pada Coki sambil menarik Deya agar wanita itu berdiri dari kursinya. “Gue bawa Deya balik, ya. Sori sekali lagi.”

Tanpa menunggu balasan Coki, Gatra mengajak Deya pergi dengan tangan mereka yang masih saling bertautan.

Deya sendiri masih bingung dengan situasinya, tapi tetap mengikuti Gatra karena memang ini keinginannya sejak tadi. Sesegera mungkin pergi dari hadapan Coki.

Sesampainya di area parkir kafe, keduanya langsung menuju mobil BMW X5 hitam milik Gatra. Mereka memasuki kabin mobil dan kebisingan di luar sana seketika terisolasi begitu pintunya tertutup. Hujan rintik-rintik mulai turun, menitik di kaca depan mobil.

Gatra menyalakan mesin, tapi tidak langsung menjalankan mobilnya. Dia justru menoleh ke arah Deya yang duduk dengan napas sedikit tersengal. Tangan Gatra terangkat bersandar pada kemudi. Alisnya bertaut di tengah, membentuk kerutan di area glabelanya.

“IT yang ngatain rahim kamu kayak hardware yang butuh maintenance, joki chat, terus sekarang … podcaster jalur kencan buta?” Gatra berdecak sambil menggelengkan kepalanya. “Saya harus akui mental kamu juara, De. Nggak kapok-kapok.”

Deya menyandarkan kepalanya ke kursi dengan lemah, seraya memijat keningnya yang terasa berdenyut “Tolong, jangan nyinyir dulu, Pak. Kepala saya mau pecah rasanya.”

Gatra mendengkus pelan. “Kamu bawa mobil, nggak?”

Lihat selengkapnya