Menjadikan rumah dan penghuninya sebagai tempat ternyaman untuk pulang adalah impian bagi banyak orang. Karena, rumah bukan hanya sekadar bangunan, melainkan tempat berbagi semua emosi penghuninya. Senang, sedih, bahagia, marah, semuanya.
Deya pun ingin memiliki rasa yang sama. Ralat, dia pernah merasakan hal itu. Dia pernah merasakan rindunya pulang ke rumah setelah lelah bekerja seharian. Namun, semua rasa itu berhenti sejak umurnya menginjak 30 tahun.
Sore tadi, rekan-rekan kantor Deya berinisiatif untuk nongkrong sekalian makan malam karena pekerjaan mereka sudah selesai semua. Kebetulan, Gatra juga sudah pulang sejak siang karena ada acara keluarga dadakan.
Namun, Deya menolak ajakan itu karena merasa sudah cukup lama dia tidak makan malam di rumah. Pekerjaannya akhir-akhir ini cukup sering membuatnya lembur hingga melewati jam makan malam. Dan kini, Deya menyesal sudah memutuskan untuk pulang dan makan malam di rumah.
Semuanya berawal dari Deya dan Wima yang sedang menyusun rencana untuk menghadiri pernikahan sepupu mereka, Rania, akhir pekan ini. Obrolan kakak-beradik itu mengalir santai dan tenang. Namun, atmosfer di ruang makan keluarga itu seketika menjadi kaku saat Sigi mulai ikut bicara.
“Kamu nggak jemput Renata dulu? Apa Renata yang ke sini?” tanya Sigi pada Wima, sukses mematikan obrolan hangat dan santai kedua anaknya.
Wima menatap ibunya bingung. “Kenapa mesti jemput Renata?”
“Kamu nggak ajak Renata buat dateng besok?” Intonasi bicara Sigi sedikit meninggi, terdengar kaget dengan pertanyaan Wima.
“Ya, buat apa, Bu?”
“Ya, biar Renata kenal keluarga kita.”
“Belum waktunya. Nanti, kan, kenal sendiri kalau memang kami jadi menikah,” jawab Wima santai. Dia kembali menyantap nasi rendang dagingnya.
Kedua alis Sigi menukik tajam. “Kok, kata-kata kamu kayak nggak yakin kalian bakal nikah apa enggak?”
Wima akhirnya meletakkan sendok garpunya ke atas piring, lalu menatap sang ibu dengan tatapan serius. “Jadi, Ibu tu maunya gimana? Ibu belakangan ini sering nyuruh aku bawa Renata ke acara keluarga. Tapi, Ibu juga ngelarang kami nikah ngelangkahin Mbak Deya. Ibu maunya yang mana?”
Sigi berdecak pelan. Matanya melirik sekilas ke arah si putri sulung. “Kalau mbakmu sudah punya pasangan, kita nggak akan ribet kayak gini.”
Deya yang sejak tadi diam, kini hanya menghela napas panjang sambil menutup matanya. Dia sudah tahu kalau ujung-ujungnya pembicaraan ini akan mengarah padanya.
“Kita bisa dateng dengan bangga karena keluarga kita lengkap. Walaupun Bapak udah nggak ada, seenggaknya anak-anak Ibu sudah bawa gandengan masing-masing. Ibu nggak akan malu lagi kalau ada yang tanya.”
Deya memutar kepalanya, menoleh pada sang Ibu dengan tatapan menuntut. Kedua tangannya mengepal kuat, mencengkeram sendok dan garpu. “Jadi, Deya malu-maluin Ibu gitu? Yasudah, Deya nggak usah dateng aja besok.”
“Lho, ya, nggak gitu, Mbak. Itu malah makin malu-maluin Ibu—”
“Bener kata Wima,” potong Deya. Tangannya mencengkeram kencang sendok dan garpu tanpa ia sadari. “Ibu tu maunya gimana? Deya dateng sendiri malu-maluin, Deya nggak dateng juga malu-maluin? Intinya, semua ini salah Deya, kan? Cuma karena Deya belum nikah, Deya dianggap aib dan malu-maluin Ibu. Seolah-olah, Deya nggak pernah ada kontribusinya ke keluarga ini, ke keluarga besar.”
“Mbak, jaga bicara—”
“Deya nyesel udah pulang, Bu.” Deya berdiri dari kursinya. “Emang kayaknya lebih baik Deya nggak pernah duduk bareng sama Ibu di kursi makan ini.”
Deya segera pergi dari ruang makan menuju kamarnya. Mengabaikan panggilan sang ibu yang terdengar makin marah. Sementara, Wima hanya bisa pasrah melihat kembali perseteruan ibu dan kakaknya. Dia mengusap wajahnya dengan kasar.
***
Gatra dan Deya sedang berada di sebuah restoran Sunda, menikmati makan siang yang tertunda akibat rapat hari ini berjalan agak lebih lama dari perkiraan. Sambil menyantap gurami bakar di hadapannya, Gatra sesekali melirik pada Deya yang tampak tidak fokus pada makanannya. Alih-alih, wanita itu terus sibuk pada ponselnya.
“Ada kerjaan urgent?” tanya Gatra satire.