Jika ada penghargaan untuk kategori “Best Scene Stealer” di pernikahan Rania dan Edo hari ini, penghargaan itu pasti jatuh pada Deya dan Gatra.
Bagaimana tidak? Di dalam ballroom sebuah hotel bintang lima dengan dekorasi khas Jawa klasik itu, berkumpul seluruh keluarga besar Sigi. Dan, hampir setiap anggota keluarga spontan bereaksi heboh ketika bertemu Deya yang tengah menggandeng Gatra. Mereka semua mendoakan Deya dan Gatra—juga Wima dan Renata—supaya segera menikah.
Sigi juga tak kalah menjadi pusat perhatian. Pujian bertubi-tubi mengalir padanya karena kedua calon menantunya memiliki karier yang cemerlang.
“Nggak usah lama-lama, barengin aja sekalian nikahin merekanya.” Begitu pesan dari beberapa kerabat. Sigi dengan senyum merekah lebarnya membalas dengan nada merendah. “Ya, terserah anak-anaknya.”
Deya menyeringai tipis melihat ekspresi ibunya. Di balik jawaban yang terdengar merendah dan pasrah itu, Deya tahu persis kalau ibunya juga tengah berekspektasi tinggi pada dirinya saat ini.
Ironis, Deya benci situasi seperti ini, menghalalkan segala cara demi memberi makan ego sang ibu. Namun, jauh di sudut hatinya, muncul pula perasaan hangat ketika melihat ibunya tersenyum, bahkan tertawa lebar seperti itu. Rasanya, sudah lama sekali Deya tawa dan melihat ekspresi seperti itu.
***
Acara resepsi Rania dan Edo akhirnya selesai menjelang sore. Satu per satu keluarga besar berpamitan pulang, termasuk keluarga Sigi. Mereka meninggalkan gedung hotel dan berjalan menuju area parkir, tempat di mana BMW X5 warna hitam milik Gatra terparkir.
Setelah tadi pagi Gatra yang menyetir mobil, kali ini Wima yang mengambil alih. Awalnya, Gatra tidak mengizinkan karena dia merasa orang baru di keluarga itu, tapi Wima tetap memaksa. Selain karena dia anak laki-laki termuda, Wima juga merasa tidak enak hati membiarkan bos dari kakaknya menyopiri keluarganya.
Perdebatan kecil Wima dan Gatra berhenti setelah Sigi yang menyuruh Gatra membiarkan Wima saja yang menyetir. Mau tidak mau, Gatra pun menurut, lalu melangkahkan kakinya menuju pintu penumpang depan, sementara Wima langsung menempati kursi kemudi. Sigi, Deya, dan Renata duduk berjajar di kursi belakang.
Kabin mobil mewah itu dipenuhi aroma cedarwood yang maskulin dan menenangkan. Pendingin ruangan yang sejuk terasa sangat melegakan setelah berjam-jam terjebak di dalam venue resepsi.
“Ibu seneng banget hari ini.” Sigi membuka suara, memecah keheningan di dalam kabin mobil tersebut. Deya yang hampir memejamkan matanya untuk beristirahat pun seketika terjaga kembali.
Sigi menoleh bergantian pada Deya dan Renata yang duduk di samping kanan-kirinya dengan mata berbinar. Kedua tangannya masing-masing dibawa ke atas pangkuan Deya dan Renata. “Kapan lagi keluarga kita bisa kumpul lengkap begini? Pakai bajunya juga seragam gini.”
Deya menoleh sekilas, memberikan senyum tipis, tanpa memberikan tanggapan apa pun. Masih ada rasa waswas dalam dirinya kalau sang ibu mulai membahas formasi keluarganya saat ini. Sementara, Renata menanggapi kata-kata Sigi sama antusiasnya.
Deya menghela napas, membiarkan Renata semangat mengobrol dengan ibunya. Biar, lah, itu jadi tugas Renata.
“Wima,” panggil Sigi tiba-tiba. Tubuhnya condong ke depan dan kepalanya menoleh ke arah sang putra. “Kita jangan langsung pulang. Mampir studio foto dulu, ya. Kita foto keluarga. Mumpung lagi lengkap dan pakai baju seragam. Makeup Ibu sama Deya dan Renata juga masih cantik.”
Ajakan Sigi yang sangat tiba-tiba sontak mengagetkan semua orang yang ada di dalam mobil mewah itu, kecuali Sigi sendiri yang masih dengan senyum lebar dan mata berbinarnya. Wima melirik dari spion tengah. Gatra sempat menoleh sebentar untuk memastikan pendengarannya tidak salah. Renata mengerjapkan matanya beberapa kali. Deya yang semula menyandarkan kepalanya ke jendela pun seketika menegakkan badan dan menoleh sepenuhnya pada sang ibu.
“Foto keluarga?” Deya yang akhirnya merespons ajakan Sigi. “Bu, ini udah sore banget, lho.”
“Ya, nggak apa-apa, Mbak. Studio foto, kan, banyak yang buka sampai malam,” bantah Sigi cepat.
“Bukan gitu, Bu. Sekarang ini, kalau mau foto di studio, apalagi yang konsepnya keluarga atau yang rame-rame gitu, harus booking dulu dari jauh-jauh hari.” Deya mencoba memberikan argumen logis, panik dengan ide impulsif ibunya. “Apalagi weekend begini, pasti full booked semua. Kita nggak bisa asal datang.”
“Ya, makanya, kamu coba cari itu di internet, studio foto yang bisa didatangi dadakan kayak gini,” titah Sigi, sama sekali tidak menerima penolakan. “Kamu juga mikir, Wim. Ibu mau fotonya dipajang besar di ruang tamu nantinya.”
Deya mengusap wajah frustrasi, sebelum akhirnya menuruti perintah sang ibu—mencari studio foto yang bisa didatangi dadakan. Sedangkan, Wima melirik lagi dari kaca spion tengah dengan raut muka tak kalah pasrah. Membantah Sigi di saat mood-nya sedang sangat bagus sama saja dengan menyalakan bom waktu.
Tak berapa lama kemudian, suara dering telepon memecah ketegangan di dalam mobil. Suara itu berasal dari ponsel Gatra. Pria itu pun menerimanya. “Ya, Ren? Aman, ya? Oke, mungkin sekitar satu jam lagi, saya sampai sana. Soalnya, ini harus muter dulu. Oh, bukan buat foto produk …, tapi foto keluarga.”
Volume suara Gatra memelan ketika mengucapkan kata ‘foto keluarga’. Pria itu juga melirik ke arah Wima dan kembali menatap ke depan, canggung setengah mati.