Deadline 34 (404:Husband not Found)

Tata Airy Ananta
Chapter #10

Chapter 9 - Rencana Akhir Tahun

Entah ini perasaannya saja atau bukan, tapi Deya merasa hari ini terlalu panjang dan sangat melelahkan. Setelah menghadiri resepsi pernikahan sepupunya di mana dia dan Gatra menjadi scene stealer dadakan, sang ibu tiba-tiba mengajak foto keluarga di studio.

Apakah selesai sampai di situ? Tentu saja tidak.

Hari sudah benar-benar gelap ketika mereka akhirnya meninggalkan studio milik Reno. Atas inisiatif—lebih tepatnya paksaan halus—Gatra, dia membawa rombongan keluarga Deya untuk makan malam di sebuah restoran mewah bertema nusantara di kawasan Senopati.

Lagi-lagi, Deya sempat menolak ide itu. Dia lelah dan gerah sekali karena seharian memakai kebaya dan jarik batik yang sempit. Rasanya ingin segera berganti baju longgar dan tidur. Dia tidak butuh makan.

Sayangnya, anggota keluarganya yang lain butuh makan.

“Makan di dekat rumah aja, Pa—Mas,” bujuk Deya begitu mereka semua sudah duduk di dalam mobil. Posisinya masih sama, Wima menyetir, Gatra di kursi penumpang depan, dan tiga wanita di belakang. “Pulang dulu, ganti baju, habis itu baru cari makan. Gerah dan sesak banget lho kami seharian pakai kebaya gini.”

“Tapi, kemaleman kalau pulang dulu. Sekarang aja udah jam tujuh lebih.” Gatra tetap teguh pada pendiriannya sebab lokasi mereka berada sekarang memang cukup jauh dari rumah. Butuh waktu satu jam lebih untuk perjalanan.

Perdebatan kecil Gatra dan Deya akhirnya berhenti ketika Wima dan Sigi menyetujui ide Gatra. Terakhir kali mereka makan siang tadi, di acara resepsi Rania. Itu pun mereka hanya makan makanan yang ada di stan pondokan karena merasa kurang nyaman saja makan di tempat yang ramai sesak begitu. Belum lagi, mereka harus antre untuk dapat mengambil makanan yang diinginkan.

Mobil mewah Gatra berhenti di depan lobi restoran dan para rombongan pun turun satu per satu. Gatra menghampiri petugas valet untuk memarkirkan mobilnya.

Memasuki restoran, interior bernuansa kayu jati berukir langsung menyambut mereka. Lampu-lampu gantung keemasan bersinar temaram, menciptakan kesan hangat tenang. Ditambah lagi dengan suara alunan gamelan dan juga suara gemercik air terjun buatan yang berada di ujung lorong menuju area utama restoran tersebut.

Dan seperti sudah menjadi muscle memory-nya sebagai sekretaris, Deya dengan sigap meminta sebuah private room saat salah satu staf restoran menyambut mereka—sebelum Gatra sempat melakukannya terlebih dahulu.

Sekarang, mereka telah duduk di salah satu private room dengan meja bulat besar di tengah. Ruangan itu memang memberikan privasi penuh untuk mereka, tapi terasa cukup intimidatif karena posisi kursi mereka yang melingkar.

Namun …, bisa jadi, hanya Deya yang berpikir begitu karena dia duduk berhadapan langsung dengan ibunya. Sementara, baik Gatra maupun Wima dan Renata, tampak santai membuka setiap lembar di buku menu.

“Kamu mau makan apa?” tanya Gatra yang berada di sampingnya.

Deya tersentak kaget tiba-tiba diajak bicara oleh Gatra. Gadis itu langsung sok-sokan menaruh atensi pada buku menu yang berada di antara dirinya dan Gatra, padahal otaknya sedang kosong saat ini. Dalam batinnya, dia terus bertanya, Ngapain gue di sini? Gue lagi di mana? Siapa orang-orang berbaju merah di hadapan gue itu? Kenapa gue rasanya kayak lagi nonton pertunjukan drama dengan rating bintang lima?

“Hm? Mau makan apa?” ulang Gatra, lalu menggeser buku menu itu sepenuhnya ke hadapan Deya agar gadis itu bisa memilih sendiri.

“Apa aja. Samain aja kayak punya Ba—Mas.” Lidah Deya masih sering kepeleset karena sangat tidak terbiasa dengan panggilan ‘mas’ untuk Gatra.

Begitu semuanya selesai menyebutkan pesanannya satu per satu, ruangan itu kembali sunyi. Hanya sayup-sayup suara gamelan yang terdengar. Mungkin karena saat ini semuanya sudah kelelahan dan kelaparan, jadi tidak ada keinginan untuk membuka percakapan untuk mengisi waktu sampai makanan mereka diantar.

“Jadi ….” Rupanya, Sigi tidak terlalu kelelahan seperti anak-anaknya, sehingga masih punya tenaga untuk membuka obrolan. Nada suaranya lembut, tapi terdengar penuh tekanan bagi Deya. Terutama, saat tatapannya menyorot lurus bergantian pada Gatra dan Deya.

“Ibu rasa ini waktu yang pas buat nanya-nanya. Kalian ini sebenarnya udah berapa lama pacaran? Kenapa Mbak Deya nggak pernah cerita apa-apa ke Ibu? Dan, selalu membantah kalau Ibu ngomongin soal jodoh,” cecar Sigi tanpa jeda.

Tubuh Deya langsung menegang. Di bawah meja, kakinya menendang pelan kaki Gatra, sebagai kode darurat. Dan sepertinya, pria itu menangkap sinyalnya. Sebab, saat ini, tangan Gatra terulur menepuk pelan lutut Deya.

Sementara, atensi Wima dan Renata juga tidak lepas dari Deya dan Gatra, tapi dengan intensi yang berbeda. Dengan tatapan setajam elang, Wima menunggu akan sampai mana mereka berdua akan main-main dengan sandiwara ini. Di sisi lain, Renata tampak antusias menunggu jawaban dari Gatra dan Deya karena—bisa jadi—jawaban mereka akan memengaruhi keputusan Wima untuk menikahinya.

Lihat selengkapnya