Deadline 34 (404:Husband not Found)

Tata Airy Ananta
Chapter #11

Chapter 10 - Plus-one

Sejak Gatra menjadi “bagian” dari keluarga Deya, ada dinding tak kasatmata yang bergeser antara Deya dan Gatra. Tentu saja, dinding itu tidak runtuh sepenuhnya. Di jam kerja, Gatra tetaplah bos perfeksionis yang bisa mengkritik pemilihan font dalam desain poster selama 15 menit tanpa jeda. Sedangkan, Deya tetap sekretaris andalan yang merespons dengan tenang dan menjadi penengah antara Gatra dan para staf lainnya.

Dengan kata lain, profesionalitas keduanya masih terjaga dengan sangat baik.

Namun, di sela-sela rutinitas itu, ada perubahan kecil yang membuat perut Deya seringkali terasa seperti dikerumuni kawanan kupu-kupu. Gatra mulai sering memastikan Deya tidak melewatkan jam makan siangnya. Pria itu bahkan sempat-sempatnya memesankan kopi dan satu boks susyi ketika Deya harus lembur sampai pukul sembilan malam. Padahal, dia sudah pulang sejak sore karena ada urusan lain.

Deya merasa tenang. Sebuah perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan. Namun, sesekali muncul rasa waswas kalau-kalau staf yang lain menyadari tindakan Gatra. Deya beberapa kali memperingatkan Gatra agar tidak terlalu sering membelikannya makan atau kopi. Jika Gatra bersikeras, maka Deya akan menyuruh bosnya itu untuk membeli sekalian untuk staf yang lain.

“Hadeh, ngelunjak kamu lama-lama, De!” Begitu Gatra selalu merespons, yang akan dibalas dengan gelak tawa oleh Deya.

***

Di hari Kamis yang tenang ini, pukul lima sore, Deya sudah mulai bersiap merapikan mejanya, tapi Gatra tiba-tiba memanggilnya. Helaan napas kesal keluar dari mulut Deya.

“Kenapa harus jam segini, sihhh???” gerutu Deya.

Namun, wanita yang hari ini mengenakan blus lengan panjang warna marun dan dipadukan celana panjang abu-abu itu tetap beranjak dari kursinya, lalu melangkah menuju ruangan Gatra. Dia mengetuk lantas membuka pintu ruangan itu tanpa perlu menunggu jawaban dari sang empu, lalu berjalan mendekati sang pimpinan yang berada di kursi kebesarannya.

“Duduk, De,” perintah Gatra, tanpa melepas fokus pada layar komputer di hadapannya.

Deya duduk di kursi seberang meja Gatra dan siap mengeluarkan tabletnya ketika Gatra akhirnya mengalihkan pandangan padanya.

“Sabtu malam besok kamu ada acara?”

Tangan Deya seketika menggantung di udara dan kedua alisnya naik tinggi, kaget sebab tiba-tiba Gatra menanyakan acara di Sabtu malam. “Nggak ada, sih, Pak. Saya sudah nggak punya jadwal kencan sejak Bapak suruh saya uninstall aplikasinya.”

Okay, good.” Sudut bibir Gatra berkedut, membentuk senyum tipis. Kedua tangannya bertaut di atas meja. Intensitas tatapannya mampu membuat Deya sedikit gelisah. “Sabtu malam besok, saya mau kamu temenin saya ke di Hotel Mulia.”

Kepala Deya meneleng dan dahinya makin berkerut. “Gala dinner sama klien yang mana, Pak? Saya perlu nyiapin apa aja, Pak? Dossier atau profil perusahaan mungkin?”

Gatra menggeleng kecil. “Bukan dinner sama klien, Aradeya. Ini gala dinner sekaligus reuni lingkaran bisnis ayah saya. Ayah saya nggak bisa hadir, jadi saya yang wakilin.”

Helaan napas panjang lolos dari bibir Gatra, tampak sedikit tidak nyaman karena matanya kini bergerak tidak tenang. “Dan, saya mau kamu dampingin saya di acara itu.”

Mata Deya mengerjap cepat. “Gi—gimana, Pak?”

Gatra mengembuskan napas lagi untuk kesekian kalinya, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. “Sebenarnya, saya malas datang ke acara circle Ayah. Selain isinya orang-orang seumuran Ayah, mereka suka lama banget ajak ngobrolnya karena saya selalu datang sendirian. Jadi …, maksudnya kalau aku datang sama kamu, seenggaknya saya bisa pamit lebih cepat dengan alasan antar kamu pulang.”

Keheningan seketika menyelimuti ruang kerja berkonsep monokrom itu. Tablet di pangkuan Deya nyaris merosot jatuh ke lantai. Otaknya yang biasa mampu berproses cepat, akhir-akhir ini cukup sering mengalami blank total.

“La—lalu …, saya datang sebagai apa, Pak? Sekretaris atau …..”

Gatra terkekeh lirih. “Ya, terserah kamu aja, sih. Toh, kita juga lagi bersandiwara jadi pasangan, kan? Yaaa …, kecuali kamu tiba-tiba nyodorin cincin buat lamar saya sekarang.”

Deya berdecak kesal dan memicingkan matanya sinis ke arah sang bos. “Nggak lucu, Pak. Yang ada, ya, harusnya Bapak yang kasih cincin dan melamar saya.”

“Mau emang?”

Napas Deya tercekat. Respons Gatra terlalu cepat dan terlalu to the point. Tubuh Deya sampai membeku, tapi suhu badannya terasa hangat. AC mati apa gimana, sih?!

“Pucet banget, De?” Tawa Gatra menggelegar. “Oke, intinya, saya butuh plus-one Sabtu malam besok. Dan, saya tahu, kamu nggak akan malu-maluin saya.”

Deya menggigit bibir bawahnya. Apa ini caranya deketin gue? Sejak ketemu Ibu, dia jadi kebanyakan modus gue rasa. Wajah Deya menghangat dan dadanya bergemuruh hangat.

“Ini …, Bapak suruh saya balas budi karena saya minta Bapak pura-pura jadi pacar saya di acara Rania kemarin, ya?” balas Deya akhirnya, berusaha menyembunyikan getar suaranya dengan candaan.

Gatra tergelak lagi. Bahunya terangkat sekilas. “Mungkin. Anggap aja begitu. Tapi, kali ini kamu tenang aja. Saya bakal hitung kamu lagi lembur besok.”

“Saya nggak minta, sih, Pak. Tapi, kalau Bapak maksa, ya apa boleh buat,” jawab Deya, mengangkat tablet menutupi sebagian wajahnya yang malu.

Gatra tersenyum lega. “Saya jemput pukul tujuh malam. Pakai pakaian terbaikmu, Aradeya. Kalau kamu butuh apa-apa, bilang sama saya. Nanti saya belikan.”

***

Sabtu malam ternyata tiba lebih cepat dari yang Deya perkirakan.

Berdiri di depan cermin kamarnya, dia menatap pantulan dirinya dengan perasaan campur aduk. Dia mengenakan gaun sutra berwarna biru navy dengan potongan leher sabrina yang mengekspos tulang selangkanya dengan elegan. Rambutnya disanggul modern, menyisakan beberapa helai yang dibiarkan menjuntai membingkai wajahnya yang dipulas makeup sedikit lebih bold dari biasanya.

Dengan tambahan sepatu hak tinggi dan clutch mewah warna hitam, dia tidak lagi terlihat seperti Aradeya si sekretaris perfeksionis. Malam ini, dia lebih terlihat seperti wanita yang memang cocok mendampingi Gatra Alkafi sebagai pasangan.

Lihat selengkapnya