Deadline 34 (404:Husband not Found)

Tata Airy Ananta
Chapter #12

Chapter 10.5 - Kunci Pintunya Sudah Kubuang

Jumat malam, ketika sebagian besar pekerja Jakarta merayakan awal akhir pekan di bar atau kelab malam yang bising, Gatra justru memilih mengisolasi dirinya di sebuah kelab eksekutif privat di kawasan SCBD.

Ruangan itu temaram, dihiasi perabotan kulit berwarna gelap. Aroma khas cerutu premium memenuhi ruangan. Gatra duduk sendirian di sudut yang paling sepi. Di atas meja di hadapannya, terdapat segelas single malt whiskey yang es batunya mulai mencair.

Pikirannya sedang kacau. Bukan karena perusahaannya, melainkan karena insiden beberapa hari lalu. Ingatan tentang Deya yang tiba-tiba memiliki keputusan impulsif ingin menikahi pria mana saja asal terbebas dari desakan ibunya dan agar adiknya bisa menikah, entah mengapa terus menghantui benak pria itu.

Ada amarah yang muncul dari dalam dirinya. Namun, kemarahan itu justru itu lebih banyak tertuju pada dirinya sendiri karena merasa gagal melindungi sang sekretaris terbebas dari tekanan yang begitu berat sehingga Deya nyaris kehilangan akal sehat.

Pemilik Lumea itu terus meyakinkan diri bahwa perasaan itu muncul karena takut Deya tidak bisa bekerja maksimal, lalu merugikan Lumea. Akan tetapi, siapa yang mau dia bohongi? Pria itu tahu betul kalau ada alasan lain yang tidak bisa—ralat, belum berani—ia terjemahkan.

Helaan napas berat lolos dari mulutnya. Dia menyugar rambutnya dengan kasar, lalu mengangkat gelas untuk kembali menyesap minumannya ketika aroma campuran bergamot dan freesia yang familier menusuk indra penciumannya.

“Kamu ternyata masih suka ke sini kalau lagi kalut, ya, Gat?”

Gerakan tangan Gatra terhenti di udara. Dia tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa pemilik suara tersebut. Pria itu meletakkan gelasnya kembali seraya mendengkus pelan. “Cynthia …. Kalau tahu kamu masih sering ke sini, aku nggak akan datang lagi ke sini.”

Cynthia, mantan istrinya, terkekeh pelan. Tawa yang dulu pernah Gatra anggap sebagai melodi paling indah. Wanita itu kemudian menarik kursi dan duduk di samping Gatra, tanpa dipersilakan. Kakinya disilangkan secara elegan hingga sepatu hak tinggi warna merah menyalanya hampir menyentuh betis Gatra. Belahan gaun sutra hitamnya terbuka dan mengekspos pahanya yang putih mulus.

“Asal kamu tahu, manajer tempat ini masih nganggep aku sebagai Nyonya Gatra Alkafi.” Cynthia menopang dagu dengan sebelah tangan dan menatap Gatra lekat-lekat. Senyum percaya diri yang sangat Gatra kenal terulas sempurna. Senyum seorang wanita yang selalu merasa dunia hanya berputar di sekelilingnya. “Kamu … kenapa nggak pernah balas chat-ku, Gat?”

“Karena nggak ada yang penting untuk dibalas,” jawab Gatra singkat, kemudian menyesap rokok di sela jarinya.

Cynthia tidak membalas kata-kata pedas Gatra. Dia menatap mantan suaminya itu, lalu beralih pada rokok di tangannya. “Kayaknya …, kamu lagi frustrasi berat, Gat.”

Gatra jarang merokok. Dia hanya melakukannya ketika kepalanya sedang sangat penuh. Itu pun, dia hanya mampu mengisap maksimal tiga batang. Dan, Cynthia sangat hafal kebiasaan itu.

“Baguslah, kalau kamu paham.” Gatra akhirnya menoleh pada wanita yang sudah duduk di sampingnya sejak sepuluh menit lalu itu. “So …, mind you …?

Cynthia tahu betul kalau Gatra menyuruhnya untuk pergi. Namun, alih-alih menuruti permintaan itu, Cynthia justru tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Aku pengin di sini nemenin kamu.”

Tatapan Cynthia makin lekat dan penuh damba. “Kamu makin irit bicara, makin kelihatan karismatik, Gat. Menjelang umur 40, kamu jauh lebih tampan daripada waktu kita masih umur 20-an dulu. You’re indeed aging like wine.”

“Simpan aja basa-basi kamu buat kolega bisnismu,” balas Gatra sinis. Dia bersandar pada kursinya, melipat tangan di dada, dan menatap Cynthia dengan tatapan malas. “Ada perlu apa kamu nyamperin aku? Kalau nggak ada yang penting, bisa tinggalin aku? Aku lagi butuh waktu sendiri.”

Lihat selengkapnya