Deadline 34 (404:Husband not Found)

Tata Airy Ananta
Chapter #13

Chapter 11 - Perang Dingin

Di dunia ini, ada dua jenis kemarahan manusia. Yang pertama adalah jenis amarah yang meledak-ledak seperti kembang api—berisik, suara keras, tapi cepat padam. Sementara, kemarahan yang kedua adalah kemarahan yang seperti gletser—dingin, sunyi, tapi mampu menghancurkan apapun yang dilewatinya secara perlahan.

Deya … saat ini adalah sebuah gletser.

Senin pagi di Lumea, biasanya diwarnai dengan suara musik lo-fi dari speaker pantri, obrolan ringan tentang akhir pekan, serta perdebatan kecil antara Deya dan Gatra soal hasil kencan buta Deya. Namun, udara di sekitar meja Deya pagi ini terasa begitu dingin dan atmosfernya begitu tenang, tapi mematikan.

Sekretaris andalan pimpinan tertinggi Lumea itu duduk dengan punggung tegak lurus menatap layar komputer. Tubuhnya dibalut setelan blazer hitam yang sangat formal, rambutnya disanggul rapi tanpa sehelai pun yang jatuh menjuntai, serta pulasan lipstiknya berwarna nude pucat. Tidak ada senyum. Tidak ada juga yang berani mengajak ngobrol dirinya.

Pukul 08.45, pintu kaca utama kantor terbuka. Gatra berjalan masuk. Pria itu memakai kemeja abu-abu gelap. Mata kurang tidurnya langsung mencari sosok sang sekretaris dan kakinya melangkah menuju meja kerja gadis itu begitu menemukannya.

“Pa—pagi, De,” sapa Gatra agak terbata karena melihat postur tubuh Deya yang begitu kaku. “Saya cari kamu di pantri, ternyata kamu sudah di sini.”

Deya berhenti mengetik. Dia bangkit dari kursinya, lalu menganggukkan kepalanya sekilas. Sebuah formalitas yang sudah lima tahun terakhir tidak pernah ia lakukan lagi saat menyapa Gatra di pagi hari.

“Selamat pagi, Pak Gatra. Kopi Bapak sudah di meja. Jadwal meeting hari ini juga sudah saya kirim ke email dan kalender Bapak. Nanti pukul sepuluh, ada briefing dengan tim content creator. Lalu, lunch meeting dengan vendor printing pukul satu siang,” jelas Deya panjang lebar tanpa diminta. Nada bicaranya sangat datar dan sorot matanya kosong.

Gatra mematung dengan seluruh gestur Deya. Intonasi robotik serta pemilihan kata-kata yang terlalu formal itu terasa seperti tamparan di wajahnya. Sejak insiden di balkon Hotel Mulia hari Sabtu lalu, Gatra sudah menduga kalau Deya marah. Sekretarisnya itu sama sekali tidak merespons telepon maupun pesannya.

Gatra sudah mempersiapkan diri untuk diomeli, disindir, atau bahkan diteriaki di pantri hari ini. Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Deya justru memasang dinding es di antara mereka. Gadis itu melenyapkan semua dinding keakraban mereka yang sudah dibangun sejak bertahun-tahun lalu, dan makin intens beberapa minggu terakhir. Dan, Gatra sama sekali tidak siap menghadapi Deya yang ini.

Gatra menumpukan tangannya di tepi meja dan matanya menatap lurus ke arah Deya. “Deya, soal Sabtu kema—”

“Kalau tidak ada instruksi tambahan terkait pekerjaan, saya izin kembali menyelesaikan pekerjaan saya, Pak,” potong Deya cepat. Dia menatap tepat di titik antara kedua alis Gatra, bukan ke matanya. “Bapak punya waktu 15 menit sebelum briefing pagi dimulai.”

Deya kembali duduk dan mulai mengetik di atas keyboard. Dinding es itu begitu tinggi dan lebar hingga mampu memisahkan jarak Deya dan Gatra sepenuhnya.

Gatra menelan ludah, mengusap tengkuknya dengan canggung, lalu berjalan masuk ke ruangannya setelah sempat menatap Deya lagi selama beberapa saat. Di atas meja kerjanya, kopi buatan Deya sudah tersaji di samping tumpukan berkas yang perlu ia periksa hari ini. Sepintas, kopi itu terlihat sama saja seperti kopi buatan Deya biasanya. Namun, hari ini, kopi itu sudah dingin dan rasanya lebih pahit dari biasanya.

***

Tepat pukul 12 siang, Lumea Studio mulai sepi karena jam istirahat. Setelah menyiapkan semua keperluan Gatra untuk bertemu vendor nanti pukul satu siang, Deya memutuskan untuk beristirahat sejenak—sebelum mengikuti Gatra untuk rapat tersebut.

Deya meraih ponselnya dan membuka aplikasi bergradasi merah muda yang baru ia unduh lagi akhir pekan lalu. Dia menarik napas panjang. Keputusasaannya tidak berkurang, justru makin mengakar jauh ke lubuk hati terdalamnya. Tamparan realitas Gatra dan mantan istrinya menyadarkannya bahwa dia benar-benar tidak punya siapa pun untuk diandalkan. Dia ternyata tidak bisa lari dari masalah Wima dan tuntutan ibunya ke balik jas sang bos. Dia harus menyelesaikannya sendiri. Secepat mungkin.

Ibu jari Deya mulai menggeser layar. Kiri. Kiri. Kiri. Pria dengan foto bertelanjang dada di gym? Kiri. Pria yang memegang segepok uang? Kiri. Pria yang profilnya hanya berisi kutipan zodiak? Kiri.

Jarinya lalu berhenti di satu profil yang menurutnya cukup menarik.

Pria itu memasang foto dirinya sedang duduk di sebuah kafe semi-terbuka dengan senyum tipis yang sangat natural. Tidak ada properti aneh, tidak ada filter berlebihan.

Lihat selengkapnya