Bagi Gatra, kehilangan klien bernilai ratusan juta masih jauh lebih mudah diatasi daripada kehilangan Deya versi normal.
Sudah lebih dari sebulan sejak perang dingin antara dirinya dan Deya dimulai. Lebih tepatnya, Deya yang mengibarkan bendera perang. Deya tidak resign, kinerjanya bahkan makin gila-gilaan sempurnanya. Namun, interaksi mereka telah menyusut menjadi transaksi data belaka. Tidak ada lagi perdebatan soal kopi, tidak ada lagi rutinitas saling menyindir, dan tidak ada lagi tatapan hangat yang biasanya melembutkan kerasnya hari-hari Gatra di kantor.
Di satu siang, Gatra baru saja keluar dari ruang editing setelah mengecek hasil draft pertama video iklan Chocozy yang rencananya akan dikirim hari ini juga. Dia berjalan santai menuju ruangannya kembali sambil sesekali fokus pada ponselnya yang baru saja berbunyi.
Langkahnya terhenti di tengah ruangan besar berkonsep coworking space—di mana ruang kerja Gatra berada di sudut ruangan itu, dengan meja kerja Deya berada tepat di depannya. Pria itu menoleh pada kerumunan yang ada di depan meja Deya.
“Hei, pada ngapain itu?” seru Gatra, membuat para stafnya tersentak kaget dan refleks mematung melihat Gatra yang sudah kembali dari ruang editing.
“Ini, Pak ….” Suara Tania, staf marketing, terdengar. “Mbak Deya dapet kiriman bunga. Jadinya, pada kepo, hihihi. Tumben soalnya.”
Mata Gatra melebar tanpa ia sadari. Pandangannya bergeser pada Deya dan sebuah buket besar berisi bunga peony merah muda di tangan sekretarisnya itu. Gatra merasakan rahangnya mengeras dan ada sekelumit ngilu yang muncul di dadanya. Apalagi, ketika dia melihat semu merah di pipi Deya.
“Bubar. Ini masih jam kerja. Bukan waktunya bergosip,” titah Gatra dengan suara rendah, tapi terdengar sangat menyeramkan. Para staf pun langsung bubar kembali ke kursi masing-masing tanpa perlawanan sedikit pun.
Gatra lalu berjalan cepat menuju meja Deya. Matanya memandang tajam pada buket bunga di pelukan Deya, seolah-olah matanya bisa meledakkan buket itu kapan saja.
“Dalam rangka apa klien kirim bunga ke kamu? Seingat saya, kamu nggak ulang tahun hari ini.” Gatra agak terkejut dengan nada bicaranya sendiri. Sebenarnya, dia berniat untuk bertanya baik-baik, tapi yang keluar dari mulutnya adalah nada sinis dan sarkastis.
“Saya memang tidak sedang ulang tahun hari ini dan ini bukan dari klien,” jawab Deya datar tanpa memandang Gatra sama sekali. Lalu, diletakkannya buket tersebut di sudut meja dengan sangat hati-hati.