Deadline 34 (404:Husband not Found)

Tata Airy Ananta
Chapter #15

Chapter 13 - Deja Vu

“Yang ini nanti bakal putus lagi, nggak?” desak Sigi sembari membawa stoples berisi kerupuk dan meletakkannya di atas meja makan. Malam ini, dia memasak opor ayam, lengkap dengan sambal goreng krecek, telur bacem, dan juga lontongnya.

Deya yang juga tengah menata meja makan pun menjawab, “Ya, penginnya enggak, Bu. Mana ada orang pacaran kepengin putus?”

Deya baru memberi tahu ibu dan adiknya tentang maksud kedatangan Adit kemarin malam. Di saat yang sama, dia juga menceritakan kalau dia dan Gatra sudah putus—sesuai perkataan Gatra di mobil setelah resepsi Rania tempo hari.

Tentu saja, Sigi dan Wima terkejut. Bukan soal Deya dan Gatra yang putus, melainkan Deya yang sudah punya pacar lagi dan akan datang untuk berkenalan. Padahal, Deya dan Gatra belum lama putus.

“Kamu putus sama Gatra bukan karena selingkuh, kan?” Sigi akhirnya mengutarakan kecurigaannya.

Deya berdecak kesal. “Apa Deya kelihatan tukang selingkuh, Bu?”

“Ya, enggak. Soalnya, kamu sama Gatra kan baru putus, kok sekarang udah punya pacar lagi. Cepet banget.”

“Ibu tu aneh. Deya nggak punya pacar, Ibu marah-marah. Sekarang, Deya cepet punya pacar lagi setelah putus, Ibu malah curiga. Ibu maunya Deya gimana, sih?” Deya agak meninggikan nada bicaranya. Kesal.

Bukan kesal dengan ibunya, melainkan dengan dirinya sendiri. Sang ibu tidak salah sama sekali kalau mencurigainya selingkuh karena rentang waktu antara putusnya dengan Gatra dan pacarannya dengan Adit sangatlah singkat. Yang salah memang dirinya dan Gatra yang sempat bersandiwara pacaran sehingga ketika dia punya pacar betulan, semuanya jadi terkesan kurang masuk akal dan dipaksakan.

Obrolan Sigi dan Deya terhenti ketika suara bel terdengar. Deya berlari kecil untuk membuka pintu dan menemukan Adit berdiri dengan senyum lebar yang begitu manis. Pria itu mengenakan kemeja slimfit warna hijau army yang dipadukan celana chino warna khaki. Kedua tangannya masing-masing membawa parsel buah impor dan buket bunga peony putih.

Deya membalas senyum sang kekasih. Sedikit gugup, tapi juga lega di saat yang bersamaan. Apalagi, Adit lagi-lagi memberikannya buket bunga peony yang sangat cantik malam ini. Dia lalu mempersilakan Adit untuk segera masuk sebab ibu dan adiknya sudah menunggu di meja makan.

Meskipun sempat terdiam sejenak, Sigi dan Wima tetap menyambut kedatangan Adit dengan baik. Mereka berkenalan sebentar dan langsung mempersilakan Adit untuk duduk di kursi di samping Deya. Sebelumnya, Adit sempat menyerahkan parsel buah mahalnya terlebih dulu kepada Sigi.

“Maaf, saya datangnya pas jam dinner banget, ya?” ujar Adit yang merasa tidak enak hati, baru datang sudah langsung ke ruang makan.

“Nggak apa-apa, Nak. Justru sambil makan, kita bisa lebih akrab,” jawab Sigi ramah, tapi matanya tidak lepas memperhatikan pria yang menjadi kekasih sang putri itu. “Tapi, Ibu juga minta maaf, ini Ibu cuma bisanya masak masakan rumahan.”

“Saya malah suka sekali dengan masakan rumahan. Maklum, anak rantau, Bu. Sudah jarang makan masakan rumah,” balas Adit dengan suara beratnya yang begitu tenang dan sopan.

Makan malam itu berjalan dengan lancar. Adit sangat pandai mengambil hati Sigi. Tatapan curiga yang sempat Deya lihat di mata sang ibu, perlahan berganti dengan binar bahagia dan kekaguman setiap Adit berbicara. Pria itu memuji masakan Sigi tanpa terdengar berlebihan. Dia juga bisa berbincang dengan Wima tentang perkembangan dunia medis, menunjukkan pengetahuannya yang luas dan kemampuannya menempatkan diri.

“Jadi, Nak Adit datang ke sini untuk sekadar berkenalan dulu atau punya niat yang lain?” tanya Sigi sangat to the point.

Suasana santai yang dipenuhi obrolan hangat seketika senyap dan dingin. Deya menegang dengan kedua tangan saling meremas di bawah meja. Bukan karena pertanyaan ibunya atau gugup menunggu reaksi yang Adit, melainkan perasaan deja vu yang muncul seperti saat ibunya bertanya hal yang sama pada Gatra beberapa waktu lalu.

Fokus Deya tiba-tiba lepas dari keadaan di sekitarnya saat ini. Di kepalanya kini justru sibuk memutar ingatan ketika Gatra menceritakan hubungan palsunya dengan Deya pada sang ibu. Deya masih sangat hafal dengan semua detail ekspresi dan kalimat Gatra di hari itu.

Lihat selengkapnya