Dear Lily

Babrielle
Chapter #1

Chapter 1: To Be Chosen

Jakarta, Juni 1998.

Sejak hari pertama, semua orang tahu mereka tidak seharusnya disini.

Saat dua anak itu tiba, anak-anak lain menatap mereka dengan rasa asing yang sulit dijelaskan. 

Mereka berbeda—berkulit putih bersih, rambut terawat, kuku-kuku rapi dan pakaian yang bagus. Sepatu mary jane kuning dan velcro hitam mengkilap terlihat kontras di atas lantai panti yang kusam. Bahkan nama mereka terdengar asing; Rafael dan Lilian. Seharusnya, anak-anak seperti mereka datang ke panti asuhan untuk merayakan ulang tahun, bukan untuk tinggal di dalamnya. 

Ibu panti sempat khawatir mereka tidak akan mampu berbaur. Namun, anak-anak tetaplah anak-anak. Petak umpet, kejar-kejaran, dan tawa tanpa alasan adalah bahasa universal mereka. Hanya dalam beberapa minggu, Lily yang ceria sudah menjadi bagian alami dari kelompok anak balita panti, sementara Rafa, kakaknya yang lebih dingin dan kaku, setidaknya mulai bisa berbicara dengan anak-anak lain.

Rafa memang berbeda. Saat anak-anak lain masih perlu diingatkan berkali-kali untuk duduk tenang selama makan siang, ia sudah melakukannya tanpa diminta. Punggungnya tegak, kunyahan nya pelan dengan mulut tertutup, garpu dan sendok di tangannya bergerak teratur seperti anak bangsawan kecil. Ibu panti sering memperhatikannya diam-diam, nyaris tak percaya. Andaikan semua anak setertib dan sepintar Rafael... Di umur delapan tahun, ia sudah mahir membaca dan menulis, bahkan memahami kosa kata bahasa Inggris lebih cepat daripada anak-anak seumurannya. Seakan-akan, Rafa selalu berada beberapa langkah di depan anak lain. Seolah-olah, hidup memintanya tumbuh lebih dulu.

Clink.

Dentingan gelas dari ujung garpu yang dipegang ibu panti berhasil mengubah suasana riuh ruang makan menjadi hening, “anak-anak, jangan bercanda terus, ayo habiskan dulu makanannya!” 

Rafa lanjut makan dengan wajah datar, meskipun dia tidak terlalu menyukai menu nya. Ia merindukan Chow Mein buatan mama, itu adalah mie yang dimasak dengan cara digoreng dan biasanya dihidangkan bersama tumis daging sapi. Disini, menu makanannya tidak jauh-jauh dari nasi, telur dadar, tempe atau tahu goreng. Rasanya enak, namun tidak seperti rumah. Sekarang sudah tidak ada lagi yang terasa seperti rumah.

Mata Rafa melirik ke arah adiknya, Lily, yang sudah kembali bercanda dengan teman-temannya meski baru saja diingatkan ibu panti beberapa menit yang lalu. Lily tersenyum lebar, menggenggam sepotong tahu dengan tangan sebelum melemparnya ke sisi lain meja. Rafa menghela nafas. Tapi memang begitu, kan, anak-anak lima tahun? Atau memang begitu, anak-anak kebanyakan … Karena ruang makan kini mulai kembali berisik oleh candaan, dan dalam sesaat, hanya tinggal Rafa seorang yang duduk rapi tanpa celah kekurangan. Anak-anak lain kembali dengan kekacauan naturalnya.

“Nanti kalau sudah besar, Rafa jadi kuat dan jagain mama, ya?” 

“Kalau sudah besar, Rafa akan jadi orang yang sukses, dan papa akan sangat bangga.”

Kata-kata itu kembali terngiang di belakang kepala Rafa. Harapan-harapan yang orang tuanya sebutkan pada ulang tahun Rafa yang ke tujuh. Tepat hari ini, setahun yang lalu. Sepertinya Lily lupa hari ini ulang tahun kakaknya. Seisi panti juga tidak ada yang tau, karena Rafa dan Lily pindah kesini tanpa membawa berkas atau keterangan apapun, akta kelahiran mereka sudah ikut terbakar dalam kerusuhan itu.

TV kecil di ujung ruangan menunjukan siaran berita. Ini dia kondisi pasar Glodok yang hancur setelah penjarahan yang terjadi 14 Mei lalu, tercatat hampir dua ratus orang tewas terbakar. Selain itu, sejumlah tempat usaha dan rumah-rumah di pusat kota juga habis dijarah massa–

Ibu panti segera mematikan televisi itu. Tatapannya beralih cepat ke arah Rafa dan Lily, memperhatikan reaksi keduanya. Lily masih sibuk bercanda hingga tidak mendengar suara televisi yang memutar tragedi yang merenggut keluarganya. Sementara Rafa hanya pura-pura tidak mendengar. 

Keluarga mereka hanya memiliki darah keturunan Chinese, hanya itu. Apa salahnya tentang itu? Selain Chow Mein buatan ibunya pun, tidak ada hal lain lagi tentang keluarga mereka yang seperti orang Chinese. Lily bahkan memanggil Rafa dengan sebutan ‘abang’, bukan ‘koko’. Kenapa mereka harus diperlakukan seperti ini?

Terulang kembali dengan jelas di ingatan Rafa, suara tangisan Lily dan jangkauan tangannya yang terpaksa lepas ketika ibunya menyerahkan mereka kepada pembantu yang bekerja di rumah. Bawa Rafa dan Lily ke tempat yang aman! Rafa belum pernah melihat ibunya setakut itu. Wajah ketakutan itu juga yang menjadi memori terakhir Rafa tentang ibunya.

TENG!

Saat jam dinding besar di tengah ruang makan panti mengeluarkan suara, itu tandanya waktu makan siang sudah selesai. Anak-anak antusias berlarian ke ruang bermain termasuk Lily yang belum menghabiskan makanan. Sekali lagi, Rafa hanya menghela nafas. Dalam beberapa jam, adiknya itu pasti akan mengeluh lapar lagi, kan? Kenapa anak kecil tidak pernah berpikir panjang..

Ruang bermain panti adalah tempat yang berisik, dipenuhi tawa, teriakan kecil, dan kadang, tangisan anak-anak yang berebut mainan. Semuanya terasa berantakan—dunia kecil yang berjalan tanpa aturan yang jelas. Di tengah semua itu, Rafa mengendap-endap ke sudut ruangan, menuju lemari tua yang hampir tidak pernah diperhatikan siapa pun. Badan kecilnya menyelip mudah ke sela antara lemari dan tembok. Disana, ada sebuah lubang kecil yang sudah menarik perhatiannya sejak beberapa hari lalu. 

Rafa menunduk, mendekatkan matanya ke lubang di tembok itu, dan senyum langsung mengembang di wajahnya. Seperti dugaan awal, lubang itu terhubung langsung ke ruang tamu, tempat para calon orang tua berbincang dengan ibu panti. 

Tidak butuh waktu lama untuk Rafa mengerti cara kerja tempat ini. Orang tua-orang tua putus asa akan datang, bercerita tentang keinginan mereka untuk memiliki anak, lalu memindai anak-anak disana satu-persatu, sebelum akhirnya memilih. Rafa telah memperhatikannya, hanya yang terbaik yang terpilih. Dan lubang kecil di tembok ini, akan membantunya dan Lily untuk menjadi yang terbaik. Menjadi yang terpilih.

Ketika pintu ruang tamu terbuka, tubuh Rafa otomatis merunduk lebih rendah, seolah ibu panti atau calon orang tua yang baru datang bisa menangkap basah dirinya sedang mengintip. Itu adalah pasangan suami istri yang terlihat muda, seperti berumur 30 an. Sang suami bertubuh tegap, dengan postur yang mengingatkan Rafa pada polisi atau tentara. Sementara istrinya terlihat lebih kurus namun bertutur anggun. Mereka mulai bercerita tentang bagaimana mereka sudah mencoba bertahun-tahun, namun belum juga dikaruniai seorang anak. 

Rafa mendekatkan telinganya hingga menempel pada lubang di tembok itu. Ibu panti bertanya, anak seperti apa yang orang tua di ruangan itu harapkan. Si ibu menjawab, mereka menginginkan anak yang manis dan lucu. 

Dengan cepat, Rafa meninggalkan lubang di balik lemari itu dan mencari Lily. 

Lihat selengkapnya