Dear Macau

Leyla Imtichanah
Chapter #1

Prolog

Getir, pedih, dan terlalu menyakitkan saat serbuan kata-kata keluar dari bibir Zhilan yang tipis dan merah. Dengan pandangan mata yang menusuk, meski berkabut, Zhilan terlihat seperti sudah tak punya hati.

“Aku belum selesai bertanya,” tukas Jinhai, “Apakah kau… masih mencintaiku?” 

Zhilan mengepalkan tangannya. Sebelum sempat menjawab, ketukan keras di pintu memecah perhatian. 

“Nyonya Chao! Buka pintunya atau kami dobrak!” 

Terdengar suara salah seorang ajudan Mr. Chao, yang disusul dengan suara berat Mr. Chao. “Zhilan, aku tahu kau di dalam. Buka pintunya.” 

Zhilan dan Jinhai berpandangan. Melarikan diri adalah hal mustahil. Mereka berada di dalam gudang yang berada di tengah bukit. Tanah kosong mengelilingi. Hanya ada satu pintu untuk keluar. Pintu yang tengah dijaga oleh ajudan Mr. Chao. Zhilan tersenyum. Astaga. Mengapa ia harus takut kepada suaminya? Ia bermaksud membuka pintu….

“Zhilan, jangan!” Jinhai mencegahnya dengan mencengkeram tangan Zhilan. 

“Kenapa? Aku akan jelaskan tentang pertemuan kita ini.”

“Zhilan, kau sungguh-sungguh akan kembali kepada suamimu?” 

“Kau menyuruhku mengkhianati suamiku? Kisah kita sudah selesai, Jinhai. Carilah gadis lain yang lebih cocok untukmu. Aku sudah pasrah dengan takdir. Bahkan bila aku mati hari ini….”

“Tidak! Kau tidak boleh mengatakan itu!”

“Jinhai, kita bukan berada di dalam sebuah drama. Ini nyata. Kau harus bisa menerima kenyataan.” Zhilan melepaskan pegangan tangan Jinhai, kemudian membuka pintu gudang, dan keluar dari sana dengan santai. 

Di hadapannya, beberapa orang ajudan suaminya sudah mengepung. Suaminya pun berdiri dengan tegap, mengenakan mantel hitam yang tebal. 

“Kau mengkhianatiku. Kau berselingkuh dengan bawahanku,” Mr. Chao berkata, tajam.

“Tidak. Aku tidak mengkhianatimu.” Zhilan hendak berjalan menghampiri suaminya.

“Berhenti! Tetap di sana!” Mr. Chao berteriak. Zhilan terkejut. Jinhai bergerak maju dan berdiri di sisinya. “Akhirnya kau keluar juga, pengkhianat!” 

“Kau salah duga. Aku tidak mengkhianatimu!” Zhilan berseru.

“Tidak usah mengelak. Kalau kau setia kepadaku, kau tidak akan datang ke sini. Aku mengangkatmu dari bawah, tetapi kau tidak menghargaiku. Dari dulu, wanita memang tidak bisa dipercaya.” Mr. Chao mengeluarkan pistol dari balik mantelnya dan mengarahkannya ke Zhilan.

Lihat selengkapnya