Selamat, blogger ini mendapatkan hadiah liburan ke Macau selama tujuh hari tujuh malam!
Salma memandangi layar laptopnya tanpa berkedip. Baru saja ia mendapatkan notifikasi pemberitahuan yang membuat jantungnya seolah berhenti berdetak. Tubuhnya bergetar hebat, mata sipitnya membelalak, dan mulutnya kaku. Masya Allah! Benarkah itu namanya yang tertulis di sana, satu dari tiga blogger pemenang liburan ke Macau…?!?
Salma Alia… Salma Alia… Salma Alia…. Jelas-jelas itu memang namanya! Tujuh hari tujuh malam ke Macau?! Setelah ia yakin bahwa itu bukanlah fatamorgana, ia segera menciumi laptopnya.
“Aku ke Macau! Aku ke Macau…!” teriaknya tanpa bisa ditahan. Liburan ke luar negeri, siapa yang tidak mau? Label pengangguran yang selama ini melekat padanya, seolah dimentahkan dengan kenyataan bahwa sebentar lagi ia akan jalan-jalan ke Macau, gratis!
“Apa, Nak? Kamu mau ke Macau?” Bunda memandang putri bungsunya tanpa berkedip, sama seperti ekspresi Salma saat membaca pengumuman pemenang tadi. Gadis itu mengangguk-angguk kesenangan, mengabaikan semua orang yang memandang aneh ke arahnya.
“Tidak mungkin….” Shefa mendesis lirih. Kakak nomer tiga, sekaligus saingan beratnya itu agaknya syok bukan main. Ia yang selalu menyebut Salma “pengangguran” harus menghadapi kenyataan bahwa adiknya akan pergi ke Macau! Adik yang sehari-hari di rumah saja, setelah lulus dari sebuah universitas ternama setahun yang lalu.
“Memangnya kamu ngapain kok bisa?” Bunda bertanya lagi.
“Aku menang lomba blog, Buuun… Nggak percaya, ya? Tunggu aja sampe aku berangkat ke Macau,” Salma berbicara seperti di atas angin. Tubuhnya yang ramping karena hanya memiliki berat 48 kg dan tinggi 160 cm itu meloncat-loncat ke udara.
Pergi ke luar negeri adalah salah satu mimpinya yang tak pernah ia sangka akan terwujud dalam waktu singkat. Bahkan sebelum ia mendapatkan pekerjaan permanen di sebuah perusahaan.
Apa itu blog? Lomba apa? Bagaimana bisa? Semua pertanyaan itu berputar-putar di dalam kepala wanita menjelang usia 60 itu. Setahunya, putrinya Salma, masih belum bekerja. Sulit mendapatkan pekerjaan di zaman sekarang, meskipun Salma lulusan sebuah universitas negeri dengan IPK cumlaude. Lagipula, Salma seolah enggan bekerja di kantor. Anak itu lebih suka berkutat dengan laptopnya, menghabiskan biaya ratusan ribu untuk membayar pulsa internet.
“Serius kamu, Sal? Cuma nulis di blog bisa jalan-jalan ke Macau?” Shefa masih ragu, walaupun Salma sudah beberapa kali memperlihatkan “penghasilan” dari menulis di blog, seperti uang tunai, buku, pakaian, dan lain-lain. Semua itu diperolehnya, konon dari lomba-lomba blog yang diikuti.
“Ah, sudahlah. Mau percaya atau nggak percaya, aku akan berangkat ke Macau!” Salma menyahut, mantap. Bunda dan Shefa berpandangan. Tunggu sampai Papa tahu. Di rumah itu memang tinggal mereka berempat, karena dua kakak Salma sudah berkeluarga.