Jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan pagi, tetapi tubuh yang terbaring di ranjang beralaskan seprai satin putih itu masih tak bergerak sama sekali. Tidurnya terlampau nyenyak, karena baru dimulai pukul tiga pagi. Semalam, beberapa teman lama mengajaknya minum-minum di kedai terdekat. Anggur merah yang memenuhi lambung, membuatnya tak punya daya untuk sekadar membuka mata. Entah siapa yang membuka tirai jendela, atau barangkali semalam ia lupa menutupnya. Cahaya matahari pagi yang menyelusup masuk, tak ayal menerpa wajah dan membuatnya silau. Dengan berat, dibukanya mata. Samar-samar terdengar suara nyaring dari Mama, yang membahana ke seantero rumah.
“Mengapa kau terlambat, hah?!”
Jinhai membuka mata. Pemuda berusia 25 tahun itu menggeliat, lalu tersadar tubuhnya masih mengenakan sweater dan syal semalam. Ia pasti tidur begitu saja di ranjang, setelah mabuk. Tirai kamarnya pun lupa ditutup. Di luar jendela terlihat bukit tempatnya kemarin menghabiskan pagi. Ah, seharusnya tadi pagi ia datang ke bukit itu lagi, tapi toh ia sudah meninggalkan vila. Dan di sinilah ia berada, di rumah orang tuanya yang memiliki jendela-jendela dan pintu-pintu berukuran besar dan panjang. Suara Mama dari lantai bawah mengusik pendengarannya. Mama memang pemarah. Tak ada seorang pelayan pun yang luput dari omelannya.
Ia bangkit dari ranjang sambil melepas sweater. Udara masih terasa dingin. Ia mengganti sweater dan syalnya dengan piyama yang terbuat dari bahan handuk tebal berwarna putih. Ia ingin mengisi perutnya yang kosong dulu sebelum membersihkan diri dan kembali ke danau itu. Barangkali ia bisa bertemu lagi dengan gadis yang kemarin menarik hatinya.
“Siapa kau?” gadis itu menoleh takut-takut, sambil berusaha menjauhkan diri darinya. Ia segera menarik tangan si gadis, sebelum tubuh mungil gadis itu tercebur ke dalam danau.
“Hey, jangan takut! Aku orang sini juga,” senyumnya, menggoda. Aha! Benar dugaannya, gadis itu memang cantik. Kulitnya putih kemerahan, hidungnya mungil, bibirnya tipis, dan matanya seperti sebagian besar mata gadis Cina, sipit dengan kelopak mata yang tertutup. Ia menangkap pinggang gadis itu yang ramping, dan langsung mendapatkan penolakan berupa entakan tubuh si gadis.
“Lepaskan aku!” teriak si gadis, panik. Nyaris meninggalkan keranjang bunganya, sebelum ia menahan lengan gadis itu.
“Tunggu! Namaku Jinhai!” serunya.
Gadis itu menghentikan langkah. Memicingkan mata sambil meneliti sosok pria yang berdiri di hadapannya. Dadanya berdesir. Lelaki itu tampan juga. Tapi, tidak. Kebun bunga tempat mereka berbicara itu sangat sepi. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi dengannya bila masih berdiri di depan lelaki itu?
Gadis itu berbalik, lalu berlari sekencang-kencangnya. Jinhai melihat gadis itu menaiki sepeda yang tersandar di bawah bukit, lalu mengayuhnya cepat-cepat. Jinhai, pemuda yang baru lulus kuliah di Beijing dan kembali ke rumah orang tuanya itu, untuk pertama kalinya merasakan ditolak seorang gadis.