Dear Macau

Leyla Imtichanah
Chapter #4

Selamat Datang di Macau

"Para penumpang yang terhormat. Mohon perhatiannya. Saya akan memperagakan prosedur keselamatan yang harus dilakukan bila pesawat ini berada dalam bahaya." 

Seorang pramugari dengan rambut digelung rapi ke atas, mengenakan seragam biru yang elegan yang potongan kerahnya menyerupai kebaya, dan make up natural yang sesuai untuk wajahnya, sedang memperagakan hal-hal yang harus dilakukan oleh penumpang pesawat bilamana terjadi keadaan darurat: memakai sabuk pengaman, menggunakan masker oksigen, menggunakan pelampung, sampai jalan keluar menuju pintu pesawat yang terdekat. 

Sebagai orang yang baru pertama kali naik pesawat, Salma memperhatikan arahan pramugari cantik itu dengan seksama. Hatinya campur aduk antara mengagumi kecantikan sang pramugari yang sebelas-dua belas dengan model sampul majalah dan khawatir terjadi kecelakaan pesawat sebagaimana yang sering dilihatnya di berita televisi. 

Kalau pesawat langsung meledak di udara, agaknya percuma saja instruksi pramugari tersebut. Yang bisa dilakukannya hanyalah pasrah dan semoga masuk surga. Oh, tidak! Jangan sampai pengalaman naik pesawat yang pertama kali ini menjadi musibah baginya! 

Macau… Macau… Macau….

Aura Macau telah terasa semenjak Salma memasuki kabin pesawat. Banyak penumpang berwajah Tionghoa yang berbicara dengan menggunakan bahasa Mandarin. Di ruang tunggu keberangkatan, ia bahkan duduk bersebelahan dengan satu keluarga Tionghoa: ayah, ibu, dan sepasang anak. 

Si ibu, usianya ia taksir masih sekitar 30-an, karena wajahnya masih muda.  Tubuhnya kecil, rambut pendek keriting, dan kulitnya tentu saja putih kekuningan. Ibu itu mengenakan kaus lengan pendek merah jambu dan celana pendek krem di atas lutut. Pandangannya terus mengarah pada android putih dengan casing merah jambu yang dipegangnya. Tulisan di layar ponsel itu menggunakan huruf Cina. 

Di sebelah sang ibu, duduk anak lelakinya yang berusia sekitar 10 tahun. Wajahnya tampan, dengan hidung mancung dan mata sipit eksotis. Kalau sudah dewasa, anak itu pasti mirip dengan aktor-aktor Mandarin. Anak itu juga asyik memainkan tabletnya. 

Anak-anak sekarang memang sudah akrab dengan gadget, membuat mereka malas bicara dan hanya terfokus pada layar kaca. Satu hal yang membuat Salma ingin tertawa tapi ditahannya adalah sosok si ayah yang wajahnya mengingatkannya pada seorang aktor Mandarin, hanya saja ia lupa namanya. 

Lelaki yang usianya kira-kira 35-an itu dengan sabar menggendong putri keduanya yang masih bayi sampai pulas di pelukannya. Ah, tipe suami yang baik, mau meringankan pekerjaan istrinya selagi sang istri asyik BBM-an. 

“Gimana perasaanmu, Sal? Seneng banget ya bisa ke Macau gratis.” Karina, salah seorang pemenang liburan ke Macau, bertanya dan menjawab pertanyaannya sendiri. 

Salma, Karina, dan Hawa, ketiga pemenang lomba blog itu duduk satu baris. Mereka semua masih lajang, dengan kisaran usia yang tak jauh berbeda. Apakah itu disengaja oleh panitia? Memilih pemenang perempuan, muda, dan lajang? Entahlah. Setahunya, tulisan mereka memang bagus.

“Iya, dong, seneng….” Ketakutan Salma mulai sirna, terlebih setelah mereka bertiga berbincang akrab. Karina juga berasal dari Jakarta, sedangkan Hawa dari Semarang. 

Lihat selengkapnya