Dear Macau

Leyla Imtichanah
Chapter #5

Anak Tuan Besar

“Hai!”

Hampir saja gadis muda itu menjatuhkan puluhan batang bunga yang baru saja dipetiknya, mendengar suara yang memanggilnya menyelisihi kabut dari atas bukit. Pipinya seketika merona menyadari dari mana suara itu berasal. Seorang pemuda yang mengenakan jaket bulu tebal berwarna cokelat, memamerkan senyum usil yang membuat jantungnya berdebar keras. 

“Zhilan, sekarang kau tidak lari lagi melihatku, bukan?” pemuda itu berjalan mendekat. Kali ini, Zhilan tidak berjalan mundur, melainkan diam di tempat. Dagu belah milik Jinhai menarik perhatiannya, membuat darahnya berdesir. 

Usianya sudah 18 tahun, tetapi baru pertama kali ini ia memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis. Bagaimana tidak? Sosok dan perawakan Jinhai memang di atas standar kebanyakan pemuda di desanya. Terlalu tampan. 

“Apa  kau tidak punya pakaian lain selain gaun putih dan sweater biru muda? Sudah dua hari ini aku melihatmu mengenakan pakaian itu,” Jinhai mengkritisi pakaian Zhilan. Sepasang mata Zhilan yang sipit membelalak lebar, baru kali ini pakaiannya dikritik orang. Di desa ini, orang-orang tidak memedulikan pakaian orang lain, selama masih mengenakan pakaian. 

“Kau usil sekali. Laki-laki yang aneh!” Zhilan mendengus, lalu meneruskan pekerjaannya, memetiki bunga lili yang baru mekar. 

“Di kota, gadis-gadis memedulikan pakaian yang mereka kenakan. Tidak ada gadis yang memakai pakaian yang sama dengan yang dipakainya hari kemarin.” Jinhai masih belum beranjak dari obrolan bertopik pakaian. 

“Oooh… kau lupa ya kalau kita ini sedang berada di desa? Aku belum sempat mencuci pakaian ini, jadi aku pakai lagi sekarang.” Zhilan menjawab tanpa menoleh, sehingga tak menyadari Jinhai terlonjak kaget. 

“Jadi… jadi… kau memakai pakaian yang belum dicuci?” 

“Kenapa? Apakah bau pakaian ini tercium sampai ke tempatmu?” Zhilan menoleh, lalu tertawa nakal. 

Tentu saja tidak. Seluruh tempat itu dipenuhi oleh bunga. Harumnya mengalahi bau tubuh siapa pun. Lagipula, udara di kaki bukit sangatlah dingin. Bau tubuh tak sempat keluar. 

“Jadi, apa yang sudah kaudapatkan di Beijing? Kau beruntung sekali. Menjadi anak tunggal dari Tuan Besar Wo yang kaya raya dan sudah menamatkan kuliah di ibukota.”

Alis Jinhai mengernyit mendengar pertanyaan itu. Nadanya seperti iri. 

“Apa kau ingin juga kuliah di ibukota?” 

Lihat selengkapnya