Dear Macau

Leyla Imtichanah
Chapter #6

Mimpi Aneh

Malam sudah menggelapi langit Macau, tetapi lampu yang menyala dari setiap bangunan bernuansa Eropa itu berpendaran seperti sinar gemintang. Hanya sekitar satu setengah jam, mereka telah menjejakkan kaki di Taipa Ferry Terminal, dekat Macau International Airport.

Melanjutkan perjalanan ke Venetian Hotel dengan menggunakan bus khusus milik The Venetian yang disediakan gratis untuk tamu hotel. Membayangkan Venetian Hotel saja, Salma sudah gemetaran. Hotel itu adalah hotel terbesar di Macau. Perjalanannya sungguh luar biasa, dari mulai jasa penerbangan yang menggunakan pesawat nomor satu di Indonesia, sampai akomodasi di hotel terbesar di Macau.

Ketika bus berhenti di depan The Venetian Hotel, tubuh Salma kaku memandangi bangunan yang super besar dengan arsitektur menyerupai Kota Venezia. Tiang-tiang besar menyangga bangunan itu. Inilah hotel terbesar di Asia, dengan luas menyerupai 56 lapangan sepakbola. 

Bak memasuki istana kerajaan Aladdin di Negeri 1001 Malam. Lobi utama The Venetian tak kalah mencengangkan. Salma sampai menengadahkan kepala, memandangi langit-langit hotel berbentuk kubah yang berkilauan seperti emas tertimpa cahaya lampu Kristal. Langit-langit itu bercorak lukisan klasik khas Italia, seolah berada di dalam gereja abad pertengahan. 

“Salma! Ayo kita berfoto dulu!” Karina memanggil gadis yang masih mengangumi keindahan di depan matanya itu. Salma tergeragap. Seorang juru foto tengah berdiri di tengah ruangan, sambil memegang sebuah kamera. Rupanya, setiap turis yang menginap di hotel tersebut mendapatkan kupon gratis untuk berfoto di dalam hotel. Tentu saja kesempatan itu tidak disia-siakan. 

Mereka berfoto di depan tugu Hotel The Venetian yang berbentuk seperti piala dengan sepuhan emas bertuliskan The Venetian. Setelah melakukan reservasi, masing-masing mendapatkan kamar sendiri-sendiri untuk ditempati selama enam hari, tujuh malam. 

Salma memasuki kamar hotelnya. Sebenarnya lebih enak tidur sekamar dengan Karina dan Hawa, tapi apa boleh buat, fasilitas yang didapatkannya termasuk kamar hotel untuk sendiri. Kamarnya sangat besar, cukup untuk ditempati satu keluarga. 

Salma duduk di atas ranjang empuk yang ditutup seprai putih, seperti lazimnya ranjang hotel. Bedanya, di kepala ranjang terjulur tirai keemasan, seperti ranjang seorang putri raja. Di depannya ada televisi yang bisa ditonton sambil berbaring. 

Di kanan kirinya ada lampu meja yang bersinar redup, dan di dinding terpasang beberapa lukisan Tionghoa. Dipisahkan oleh pagar kayu seukuran pinggang orang dewasa, ada ruang kerja berfasilitas meja, tiga buah kursi, satu televisi, satu printer, telepon, dan sofa  yang empuk. Jadi, ada dua televisi di kamar yang bisa ditempati oleh beberapa orang itu. 

Lihat selengkapnya