Dear Macau

Leyla Imtichanah
Chapter #7

Cinta yang Bersemi

Pagi seolah begitu lama mendatangi langit di desa mereka, kabut tebal masih menutupi pandangan mata. Meski berat matanya membuka, Jinhai tak akan melewatkan hari ini lagi. Ia cepat-cepat turun dari ranjang, berjalan menuju wastafel, dan mencuci wajahnya dengan air dingin. 

Air kran yang berasal dari pegunungan yang ada di ujung desa membuatnya sedikit menggigil. Setelah membasuh wajahnya dengan handuk, ia mengganti piyama tidurnya dengan kaus cokelat lengan panjang dari bahan wol yang tebal dan celana dari bahan yang tak kalah tebal. Ia melewatkan sarapan, karena hari masih terlalu pagi untuk mengisi lambungnya dengan roti.

Kali ini ia tidak menggunakan mobil yang terlihat mentereng di desanya itu, tapi dengan sepeda olahraga yang sudah lama ada di garasi rumahnya. Sepeda itu terawat dengan baik dan segera meluncur menuju ke atas bukit yang menjadi pusat keindahan desa ini. Penduduk desa sudah terlihat beraktivitas, sebagian berjalan kaki, sebagian bersepeda seperti dirinya. 

Sebuah mobil dengan bak terbuka, tampak baru saja mengambil bunga dari perkebunan. Bunga-bunga berwarna-warni menyembul, sekilas nampak seperti senyum gadis-gadis cantik. Harumnya membuat aroma desa ini  begitu khas. Ini memang desa bunga, desa di mana ada banyak bunga bermekaran. 

Jinhai berbelok ke kiri, jalanan menjadi berbatu-batu dan tanah basah menempel pada roda-roda sepedanya. Hanya jalan utama saja yang sudah diaspal. Kedua tangannya menempel pada rem sepeda, sebab sewaktu-waktu ia harus mengerem terutama pada jalan menurun. 

Selang sepuluh menit kemudian, ia sudah sampai di kaki bukit yang penuh bunga. Aneh, bunga-bunga itu tak pernah habis meskipun telah sering dipetik. Terutama oleh penjual bunga yang tak memiliki perkebunan, seperti Zhilan. 

Mengingat nama itu, bibirnya menyunggingkan senyum. Barangkali kedua pipinya pun sudah merona merah, disebabkan oleh sebuah perasaan yang dialami oleh pemuda yang sedang jatuh cinta. Ia tak tahan ingin menggoda gadis itu lagi. 

Jinhai mengerem sepedanya, lalu memandang ke bawah bukit, tempat bunga-bunga menunggu dipetik. Ia langsung menemukan sosok yang sudah dirindukannya sejak kemarin. Zhilan berdiri membelakanginya, dengan keranjang bunga menggantung di lengan kiri. Tangan kanan memetiki bunga-bunga. 

Kali ini, Zhilan tidak mengenakan gaun putih berenda dan sweater biru muda yang biasa dipakainya, melainkan gaun cokelat polos dengan jaket tebal. Rambutnya ditutup topi lebar berwarna putih. Jinhai berjalan mendekat dengan mengendap-endap, berharap bisa mengejutkan gadis itu dari belakang. Tangannya menyentuh bahu gadis itu, sehingga kepala gadis itu menengok ke belakang….

“Hah?! Siapa kau?!” Jinhai hampir melompat melihat wanita di depannya. Wajahnya lebih tua, dan tentu saja itu bukan Zhilan. 

“Aku, Yue…. Sepertinya aku tahu siapa kau….” Wanita itu mengerutkan kening, tampak seperti berpikir. “Aha! Kau pasti Tuan Muda Wo!” 

Jinhai mundur beberapa langkah dari wanita itu, kecewa karena ternyata bukan Zhilan. Ia membuang napas, kesal, uapnya membumbung di udara karena dinginnya suhu di bawah kaki bukit. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam kantong celana, tubuhnya berbalik, siap meninggalkan wanita itu tanpa sepatah kata pun. 

“Tuan Muda! Apa yang Tuan Muda lakukan di sini? Sebentar lagi saya akan mengantar bunga-bunga ini ke rumah Anda!” wanita itu mengejar. Telinga Jinhai menegak demi mendengar perkataan itu. 

“Apa?! Bukankah Zhilan yang akan mengantarnya ke rumahku?” matanya menyipit, raut wajahnya semakin kesal. Jangan-jangan Mama sengaja mengganti Zhilan dengan tukang bunga lain, gara-gara gadis itu sering terlambat. 

“Saya kan sudah sembuh, jadi bisa bekerja lagi. Ck… lagipula, Zhilan itu sering terlambat. Bikin malu saja. Padahal, saya selalu memarahinya agar jangan terlambat.” 

Lihat selengkapnya