Suara dering telepon yang memekakkan telingat membuat Salma mengulet dan susah payah membuka mata. Usai bangun dini hari, ia membuat satu postingan di blog, lalu tidur lagi setelah menyempatkan diri menghadap Tuhan. Akibatnya, ia terlambat bangun. Untung baru jam 8 pagi. Suara telepon sudah mati, tapi ada beberapa pesan singkat yang masuk ke ponselnya. Dari Karina, Salwa, dan Lilien. Hm, kompak sekali mereka menghubunginya?
Dari: Karina
Salma, kami sudah di tempat sarapan. Mau sarapan bareng?
Untung baru saja dikirim, berarti Salma masih sempat menyusul mereka. Kagok juga jika harus sarapan sendiri di tempat asing, dengan orang-orang yang berbahasa asing. Ia cepat-cepat mandi, tanpa sempat menikmati interior kamar mandi yang berkelas. Dalam hati ia bertekad akan mencoba berendam di bathup yang disediakan, nanti kalau sudah lowong. Ia sempat kebingungan saat memutar kran air, ada pilihan air panas, sedang, dan dingin. Memakai pakaian kasual: kaus lengan panjang yang hangat berwarna pink tua dan celana panjang hijau tua, dan menutup kepalanya dengan pashmina hijau muda. Ia sampai lupa melihat buku tamu yang menjelaskan lokasi restoran. Ia kembali membaca sms dari Lilien yang menjelaskan restoran tempat sarapan: Bambu Restorant. Restoran itu menyediakan makanan Internasional yang diharapkan bisa cocok di lidah peserta. Berhubung The Venetian tak hanya hotel, melainkan juga ada mal-mal dan restoran-restoran, jadi untuk sarapan gratisnya, ditunjuk tiga restoran yang bisa dipilih oleh para tamu: Café Deco yang menyediakan American Breakfast, Bambu Restorant yang menyediakan International Breakfast, dan Blue Frog Restorant dengan menu ala carte.
Salma baru ingat kalau The Venetian adalah hotel yang sangat besar dan ia kelimpungan mencari lokasi restoran yang dimaksud. Seorang petugas hotel terlihat berada seratus meter di depannya, dan ketika orang itu melewatinya, ia langsung bertanya dengan bahasa Inggris. Lelaki itu menampakkan raut wajah tak mengerti, dan itu membuat Salma berseru dalam hati, “Oh, No!” Akhirnya, ia menggunakan bahasa isyarat dengan memeragakan aktivitas makan. Petugas itu mengangguk-angguk, lalu menunjukkan arah. Sayangnya, itu belum cukup. Setelah si petugas pergi, ia menelepon Lilien.
Dua lembar roti dan butter, serta sepiring nasi goreng seafood dibawa oleh kedua tangan Salma, menuju meja tempat panitia dan peserta wisata gratis ke Macau sudah menunggu. Walaupun ada banyak menu yang disediakan secara prasmanan, Salma memilih menu yang aman dan halal, sesuai prinsip agamanya. Berhubung kuliner Macau banyak yang mengandung babi. Lima buah Portugese Egg Tart yang ada di piring Karina membuatnya menelan air liur. Ia akan kembali lagi nanti untuk mengambil kue-kue khas Macau itu. Mumpung gratis.
“Bagaimana tidur kalian? Nyenyak?” tanya Lilien yang tampak segar dengan blus lengan pendek berwarna pendek dan celana panjang krem.