Dear Macau

Leyla Imtichanah
Chapter #9

Sekadar Teman

“Oooh… kau ingin menunjukkan kekuasaanmu, ya? Bahwa kau bisa membelikanku baju,  begitu?” sengit, kedua mata Zhilan memandang tajam ke arah Jinhai, tanpa ampun. Jinhai hendak membelikannya pakaian. Baginya, itu bukan suatu keberuntungan melainkan penghinaan. Angin seolah berhenti bertiup, bunga-bunga pun terlihat kaku tak bergerak. Jinhai tak percaya dengan pendengarannya. Mana ada orang yang mau diberi hadiah, tapi malah marah-marah seperti perempuan itu? 

“Aku… aku baru kali ini bertemu dengan orang miskin yang sombong….” Jinhai menggeleng, tak percaya. 

“APA?!” Zhilan meradang, tetapi kemudian hening. Ia menyadari satu hal. Semakin ia mencak-mencak, semakin senang lelaki di depannya itu. Ia pun memasang wajah ramah. Sebuah perubahan yang drastis, sontak membuat Jinhai terperangah. 

“Kenapa kau tersenyum?” Jinhai curiga, ada yang salah pada penampilannya.

“Dari awal aku curiga, mengapa kau mengejar-ngejarku? Baiklah, aku mengalah. Aku akan menjadi temanmu, jika kau bisa mengalahkanku dalam balapan sepeda.” Zhilan mengedikkan mata, kedua tangannya dilipat di atas perut. Gaun putih dan sweater biru membentuk tubuhnya yang langsing. Di mata Jinhai, Zhilan amat menggoda. Walaupun wajahnya bebas make up dan tak ada bekas-bekas operasi plastik apa pun sebagaimana kebanyakan gadis-gadis di kota, Zhilan mampu meninggalkan jejak di hatinya. 

Jinhai tersenyum manis, seketika membuat jantung Zhilan berdebar-debar. Harus diakui bahwa sebenarnya Zhilan telah menyimpan rasa kepada pemuda itu, tetapi mengedepankan gengsi. Jinhai pasti hanya mau bermain-main dengannya. Mana mungkin anak orang kaya mau berteman dengan gadis miskin? Zhilan pasti bisa mengalahkannya dalam balapan sepeda, dan setelah itu, Jinhai tak akan bisa mendekatinya lagi. Jinhai terbiasa mengendarai mobil, pasti tak bisa mengalahkannya dalam balapan sepeda. 

“Kita balapan sampai mana?” tanya Jinhai, ketika mereka sudah di atas sepeda masing-masing. Ia terkekeh menyaksikan Zhilan duduk di atas sepeda wanita dengan keranjang di depannya. Zhilan tak akan mampu mengalahkannya. 

“Sampai ke bawah bukit itu!” Zhilan menunjuk ke arah bukit yang berada satu kilometer di depan mereka. Tak jauh, tetapi medannya cukup curam dan berbahaya. Jalanannya masih tanah dan berkelok-kelok. 

“Oke… ayo, mulai!” 

“Tunggu! Aku yang memberi aba-aba!” Zhilan memotong. Ia mengambil napas, kedua tangan mencengkeram stang sepeda, dan pandangannya mengarah ke depan. Jinhai tersenyum kecil. “Jangan tertawa terus! Kau pikir aku ini badut?” hardik Zhilan. Jinhai cepat-cepat mengatupkan mulutnya. 

“Satu… dua… tiga!”

Setelah Zhilan memberikan aba-aba, keduanya melesat meninggalkan bukit pertama, menuju bukit kedua. Zhilan memimpin di depan, membuat Jinhai tak bisa menyalip karena jalan itu sempit. Zhilan tertawa-tawa, ia mengendarai sepeda sambil sesekali  menengok ke belakang. Sudah tentu Jinhai ada di belakangnya. Keadaan itu cukup adil untuk Zhilan, karena ia seorang gadis dengan sepeda wanita yang lambat dan ukuran tubuh yang kecil. Pastilah ia kalah dari Jinhai, walaupun ia merasa akan menang. Sementara itu, Jinhai mengusap peluh yang memenuhi  dahinya, dengan kedua kaki terus mengayuh sembari memikirkan trik agar bisa menyalip Zhilan. Sekalipun udara desa mereka sangat sejuk sehingga terbiasa memakai baju hangat, aktivitas mengayuh sepeda menyebabkan keringat bercucuran. 

Zhilan masih bersepeda dengan riang, mengira bahwa Jinhai akan selalu berada di belakangnya. Ia sudah terbiasa melewati jalan terjal menuju bukit, sesekali sepedanya terantuk bebatuan kecil, tetapi ia masih bisa mengendalikannya. Rumput-rumput basah yang ukurannya sudah tinggi, membelai tungkai kakinya. Ia begitu menikmati balapan ini, karena biasanya ia hanya memacu sepedanya sendirian. Ia kembali menengok ke belakang, dan Jinhai masih ada di belakangnya dengan wajah kelelahan. Zhilan tak dapat menahan tawa. Siapa suruh pemuda kaya yang jarang naik sepeda, menerima tantangan balapan sepeda?

Lihat selengkapnya