Getaran telepon seluler yang diletakkan di dalam saku celana, tak membuatnya terganggu. Ia masih fokus memperhatikan rombongan turis yang berada dua ratus meter di depannya mengikuti langkah kaki mereka, entah ke mana.
Belakangan ia mengetahui bahwa mereka adalah turis, setelah mencuri dengar sedikit pembicaraan mereka yang menggunakan bahasa asing yang sama sekali awam di telinganya. Setelah naik Shuttle Bus ke Galaxy, rombongan turis itu naik bus lagi ke Senado Square.
Saat melewati The Macau Square, sebuah mal besar yang diisi oleh merchant-merchant terkenal, Jinhai merogoh ponsel dari saku celana dan melihat nomor telepon asistennya terpampang di layar. Ia menelepon balik nomor itu menggunakan bahasa kanton yang lazim digunakan oleh penduduk Macau.
“Tuan, Tuan ada di mana? Kita akan mulai lagi rapatnya!” asistennya, Wen Chun, berteriak-teriak, seolah jaringan teleponnya tidak bagus sehingga khawatir suaranya tak terdengar jelas.
“Aku sakit perut, sepertinya aku tak bisa meninggalkan toilet. Bisakah kita tunda rapatnya nanti malam?” jawabnya, berbohong. Alasan “sakit perut” adalah alasan klise, tetapi ia tak dapat menemukan alasan lain sementara matanya tak mau kehilangan jejak para turis itu.
“Ada apa? Apakah makanannya membuat Anda diare? Apa perlu saya panggilkan dokter?”
“Aku sudah minum obat diare, tadi aku meminta pelayan membelikannya. Aku hanya tidak bisa meninggalkan toilet.”
“Tapi… mengapa terdengar banyak orang di sekitar Anda?”
“Sudahlah, aku harus ke toilet lagi. Kau pasti bisa mengatasinya.”
Klik. Telepon ditutup sebelum Wen Chun menyadari bahwa bosnya sedang berbohong. Suara lalu lintas kendaraan dan derap langkah kaki orang-orang tak bisa disamarkan.
Jinhai kembali memperhatikan para turis yang berjalan ke arah Ruins of St. Paul Church, reruntuhan Gereja St. Paul, salah satu tempat wisata terkenal di Macau. Beberapa kali, turis-turis itu berhenti untuk mengambil foto, termasuk gadis yang membuatnya rela mengejarnya. Gadis tak dikenal yang wajahnya mengingatkannya pada Zhilan.
Bangunan di kanan dan kiri jalan Senado Square, semakin menampakkan keunikan Macau dibandingkan kota-kota lain di China. Sisa-sisa penjajahan Portugis selama kurang lebih 450 tahun, masih nampak jelas, meskipun Macau sudah merdeka bertahun-tahun lalu. Macau yang merupakan Daerah Administratif Khusus Republik Rakyat China, memiliki prinsip “satu negara, dua sistem.”
Walaupun berada di bawah pemerintahan RRC, Macau memiliki dua sistem pemerintahan seperti halnya Hongkong. Ada banyak peninggalan Portugis yang masih bertahan, mengesankan perbedaan Macau dengan kota-kota lain di China. Macau terlihat sangat “Eropa Barat.”
Jalan Senado Square diapit oleh bangunan-bangunan berarsitektur Eropa, bergaya art deco, dengan jalanan yang terbuat dari batu berpola, disebut juga roman road. Melewati jalan ini memang menimbulkan kesan romantis, sayangnya, Salma tak tahu hendak membagi romantisme ini dengan siapa.