Sekian dari saya, terima kasih."
Seiring dengan kata yang berakhir, tepuk tangan mengikutinya, memenuhi gedung auditorium universitas. Sang pembicara, seorang mahasiswa akhir jurusan Ilmu Komunikasi itu menatap tenang ke arah ratusan pasang mata yang memperhatikan. Mata bulatnya menyiramkan ketenangan, tidak berbeda dengan langkahnya yang tenang namun pasti saat meninggalkan panggung.
"Terima kasih kepada Annasya Naira Zareen dari fakultas Ilmu Komunikasi sebagai perwakilan mahasiswa..." Suara pembawa acara menghilang seiring dengan langkah kakinya yang menjauh. Naira, saat ini ingin ketenangan serta istirahat sejenak. Sejak dua hari yang lalu dirinya disibukkan dengan berbagai hal, saat itu ia belum merasakan penat, namun setelah tampil rasa penat itu mulai menjalar.
Di tengah perjalanan mencari tempat untuk beristirahat, langkahnya dicegat. "Naira!" Sapaan dari suara yang akrab saling bersahutan memanggil namanya. Gadis itu hanya mengangguk, tidak bisa menyembunyikan rasa lelah yang terlihat jelas di matanya.
"Seperti biasa. Kamu sangat luar biasa! Selamat!." Teman-temannya memberikan semangat bergiliran.
"Naira selalu konsisten. Bukankah saat itu, Naira yang jadi perwakilan mahasiswa baru? Sejak awal kamu sudah sangat luar biasa, Naira." Pujian tidak henti ditujukan kepada Naira yang membalas dengan senyuman tipis di bibirnya.
"Terima kasih. Aku juga banyak terbantu oleh kalian semua."
"Oh ayolah, jangan merendah begitu. Apa yang bisa kami lakukan selain menambah pekerjaan untukmu? Aku masih ingat seseorang membuat masalah dan dirimu yang harus menyelesaikannya." Salah satu temannya berkata dengan jelas, menyindir seorang pemuda yang membawa kardus yang terlihat berat.
"Yang berlalu, biarlah berlalu. Bukankah aku sudah minta maaf? Naira bahkan tidak mempermasalahkannya, kenapa kamu tetap membahasnya sejak tadi?" Pria itu protes, tidak tahan dengan ocehan serta sindiran yang ia dengar sejak tadi pagi.
"Ya karena kamu selalu membuat masalah." Gadis itu berbalik dan kembali fokus kepada Naira.
"Ngomong-ngomong apakah kamu sudah makan? Kamu pasti lelah Ayo istirahat dulu, kita bisa bercerita banyak hal." Ajakan itu ia tolak dengan sopan.
"Kalian duluan saja. Masih ada yang harus aku lakukan." Tidak ada satupun dari teman-temannya yang memaksa Naira untuk ikut dengan mereka. Setelah mengucapkan meminta Naira untuk Segera bergabung, gadis manis itu berpisah dari teman-temannya, berjalan menuju sudut kampus yang jarang dikunjungi oleh orang-orang.
Ia lelah, dan butuh istirahat.
Naira mendudukan tubuhnya pada kursi kayu yang nampak sudah tua. Itu pertama kalinya ia melihat sebuah kursi kayu di kampus disaat seluruh bangunan sudah direnovasi menjadi lebih baru. Ia tidak peduli, selama tempat itu nyaman, tenang serta jauh dari keramaian, Naira memutuskan itu adalah tempat yang tepat untuknya.