Dear Naira

rarapinku
Chapter #2

2. Tak Terlihat

Acara kampus berakhir setelah matahari tenggelam sepenuhnya. Wajah lelah namun puas terlihat dari para panitia pelaksana acara. Naira sendiri bukan panitia utama, dia hanya seorang mahasiswa akhir yang diminta untuk menjadi pembicara sebagai perwakilan mahasiswa.

Awalnya ia hanya sebagai pembicara, namun seiring berjalannya waktu, lama kelamaan tugasnya tidak berbeda jauh dengan panitia yang lain. Jujur saja ia lelah, namun tidak dipungkiri jika membuat tubuhnya lelah adalah salah satu cara agar ia bisa melupakan kesedihannya.

Ya, kesedihan. Ia masih terluka dengan panggilan telepon dengan kak Azzura tadi siang. Itu bukan pertama kalinya sang kakak berbicara begitu kepadanya, juga bukan yang paling menyakiti hati. Ia pikir dirinya sudah terbiasa, namun ternyata yang ada luka itu malah makin terasa.

Naira menggelengkan kepala, mencoba untuk menghilangkan seluruh pikiran negatif itu dari pikiran serta hatinya. Untuk apa berlarut dalam kesedihan? Itu hanya akan membuatnya semakin terluka.

Namun sayang, seluruh usahanya untuk tetap berpikir positif menghilang ketika ponselnya kembali bergetar. Tanpa ragu gadis itu mengambil ponsel, membuka layar dan menemukan sebuah pesan masuk. Bukan dari grup chat seperti sebelumnya namun kali ini pesan itu benar-benar ditunjukkan kepada dirinya, dan orang yang mengirimkannya adalah kakak pertamanya, Azzura.

Bunyi pesan itu yang lebih terdengar seperti suruhan atau paksaan daripada ajakan. Menegaskan bahwa dirinya tidak mempunyai hak untuk menolak ataupun mengabaikan pesan itu. Naira termangu, dia tidak membalas namun juga tidak segera menutup ponselnya.

Malam ini makan malam dan kakak pertamanya memintanya untuk datang yang berarti semua kakak-kakaknya yang lain akan berkumpul malam ini di rumah tempat tinggal mereka semua, rumah sebelum kakak-kakaknya hidup mapan dan memiliki tempat tinggal sendiri, sebelum Naira memutuskan untuk tinggal menyewa sebuah kamar saat dirinya lulus dari sekolah menengah atas dan melanjutkan kuliah.

Meskipun dengan hati yang berat Naira tetap menghadiri acara makan malam itu. Ia tidak mengingat dengan jelas bagaimana bisa sampai di sana, yang jelas semua pikirannya terasa kosong ketika menerima pesan tersebut. Tubuhnya seperti bekerja dalam mode auto pilot, hingga tanpa ia sadari dirinya sudah berada di depan sebuah rumah besar bercat putih. Rumah masa kecilnya, rumah yang dulu ia tempati bersama saudara dan orang tuanya.

Rumah itu tidak bisa dibilang sederhana karena bangunannya terlihat cukup megah. Tidak dipungkiri, kedua orangtuanya cukup berada dan mumpuni, jika tidak kakak-kakaknya termasuk dirinya tidak akan bisa sekolah di sekolah yang tergolong elit. Hanya saat kuliah Naira memutuskan bersekolah ditempat yang ia inginkan.

Langkah kakinya semakin pelan ketika memasuki rumah, berjalan menuju ruang dimana saudaranya yang lain sudah berada di sana. Naira menyapa, mengumumkan kehadirannya.

"Kakak..." Suaranya semakin menciut. Sama seperti keberaniannya yang entah kenapa menghilang dari dirinya. Kakak keduanya, Nadira menoleh ke arahnya, namun bukannya tersenyum ramah dan menyambut kedatangannya, wanita yang lebih tua membuang muka, seolah Naira seperti sesuatu yang tidak layak untuk dilihat. Hal serupa berlaku untuk kakak-kakaknya yang lain. Mereka mengabaikannya, seperti dirinya tidak terlihat.

"Rafa, sekali lagi selamat ya." Nadira bersuara, ia tersenyum manis kepada Rafandra yang duduk di depannya.

Lihat selengkapnya