Dear Naira

rarapinku
Chapter #3

3. Di Ambang Runtuh

Pagi datang dengan cahaya matahari yang menyilaukan. Cahayanya masuk ke dalam celah-celah gorden sebuah kamar sebuah rumah yang cukup besar. Besar, namun sunyi, tidak ada kehidupan di dalamnya.

Naira tersentak dari tidurnya begitu saja seperti terpaksa bangun dari tidurnya yang tidak nyenyak. Semalam ia tidak bisa tidur, dirinya hanya duduk diam di depan laptop yang menyala, menampilkan tulisan-tulisan yang ia tulis, namun seketika ia tidak mengerti dengan tulisan yang ada di layar itu. Hingga akhirnya sang gadis menutup laptop dan berniat untuk tidur, akan tetapi dirinya juga tidak bisa langsung terlelap.

Suara gelak tawa dari kakak-kakaknya di luar sana masih terdengar, mereka terdengar begitu senang membicarakan kehidupan karir dan keberhasilan mereka, sesuatu yang tidak Naira miliki.

Sang gadis menatap lurus ke arah atas menuju atap platform yang berwarna putih pucat. Pandangan matanya terlihat menerawang, tidak memikirkan apa-apa. Pikirannya seperti kosong hingga tanpa ia sadari suara gelak tawa di luar sana sudah menghilang. 

Mereka, kakak-kakaknya sudah kembali ke rumah mereka masing-masing, meninggalkan rumah itu dan Naira seorang diri tanpa memberitahunya, tanpa mengabarinya, seperti Naira sejak awal tidak ada di sana. Satu-satunya yang tidak mereka lakukan hanyalah menutup pintu itu, membiarkan Naira terkurung di dalamnya.

Entah pukul berapa akhirnya Naira tertidur. Mungkin lewat tengah malam, atau mungkin sudah mendekati waktu subuh, yang jelas saat ia tertidur, tidurnya pun juga tidak begitu tenang. Ia bermimpi mengenai dirinya yang berada di dalam lubang kosong, di dalam jurang dalam yang dikelilingi dengan kehampaan dan kesunyian. 

Begitu gelap, hanya ada dirinya. Naira merasa kosong hingga saat ia terbangun, perasaan hampa itu masih melekat di dadanya. 

Tidak ingin larut begitu lama, Naira bangkit dari tempat tidur

Ia membersihkan dirinya dan menggunakan pakaian yang ia tinggalkan di rumah itu, setelah itu, sang gadis yang terlibat pucat pergi menuju kampus.

Hari ini ia akan melakukan bimbingan dengan dosennya, membahas skripsinya dan mungkin setelah ini ia bisa lulus dengan cepat.

"Naira pagi! Ingin bertemu Pak Arya hari ini?" Seorang teman menyapa. Wajah gadis itu cerah, senyumnya merekah.

"Iya. Aku harus bimbingan pagi ini. Beliau harus keluar kota nanti siang, tidak tahu kapan akan kembali." Jawab Naira, membalas dengan senyuman yang sedikit dipaksakan.

"Benar. Kalau Pak Arya sudah keluar kota, bisa berhari-hari atau berminggu-minggu. Ingin bimbingan? Tunggu beliau kembali, jangan harap bisa bimbingan secara online!." Temannya menggelengkan kepala sambil melipat tangan di dada, terlihat begitu bebas dan lepas. Kapan dirinya bisa seperti itu?

"Apa kamu sakit, Naira? Wajahmu sedikit pucat." Sontak Naira memegang wajahnya karena reflek.

"Apa aku terlihat sakit? Aku rasa karena kurang tidur."

"Membuat skripsi?" Naira mengangguk, tidak sepenuhnya benar namun ia juga tidak berbohong.

Lihat selengkapnya