Dear Naira

rarapinku
Chapter #4

4. Di Antara Hangat dan Luka

Naira berjalan bolak-balik dari arah kiri ke arah kanan. Tangannya sibuk mengecek tulisan-tulisan yang ada di kertas yang ia pegang. Kemarin akhirnya ia tertidur karena kelelahan. Saat bangun, waktu sudah menunjukkan sore hari, jika bukan karena perutnya yang lapar, Naira mungkin begitu enggan untuk bangkit.

Lalu seseorang yang ia kenal menelpon, temannya, seorang mahasiswa di fakultas kedokteran, memintanya untuk membantu acara seminar untuk esok hari dengan dalih hanya Naira yang bisa melakukannya.

Tugasnya tidak berat, hanya mendampingi narasumber dan memastikan acara tetap berjalan dengan baik, dia tidak sendiri, seorang mahasiswa kedokteran juga bertindak sebagai seorang MC. Seharusnya hal seperti ini bukan masalah besar bagi Naira.

Dirinya sudah terbiasa dengan acara seperti ini, diminta bantuan sebagai pembicara, sebagai pendamping bahkan untuk berbicara di forum besar sudah seperti makanan sehari-hari untuknya.

Orang-orang hanya melihat Naira yang sempurna di atas panggung, tanpa tahu apa yang ia rasakan sebelum acara dimulai.

Gadis semester akhir itu akan memastikan tidak ada kesalahan sedikitpun, ia akan mengecek berkali-kali, mengulangi kalimatnya terus menerus, memastikan tidak ada yang terlewat, tidak ada kesalahan sedikitpun.

Apalagi ketika waktu persiapan hanya sedikit, apalagi sehari sebelumnya ia dilanda dengan perasaan tidak nyaman di dada, ia akan membaca kertas di tangannya berkali-kali.

"Naira, narasumber kita kali ini seorang dokter ya. Dia alumni sini. Susah sekali menghubunginya. Untung dia mau meluangkan waktu untuk mengisi acara sebagai narasumber." Rhea, temannya dari fakultas kedokteran berkata. Dia adalah orang yang meminta Naira untuk membantunya dalam acara ini.

"Oke. Apa dokternya sudah datang?" Tanya Naira, genggaman tangannya tidak lepas dari kertas yang ia pegang.

"Belum. Lagi di jalan katanya. Bentar lagi juga sampai. Tunggu aja ya." Rhea pergi meninggalkan Naira yang kembali merapal kalimat demi kalimat seperti sebuah mantra. Hingga tanpa sadar, acara sudah akan mulai.

Seperti yang sudah-sudah, ia juga merasakan kegugupan sebelum tampil, namun entah kenapa rasa gugupnya kali ini lebih besar dari sebelumnya. Genggaman tangannya di kertas menjadi lebih erat dan tanpa ia sadari peluh menetes dari dahinya.

"Naira, ini narasumber kita ya, dokter Rendra Viananda." Rhea memperkenalkan Naira dengan seorang pria kepadanya. Sebelumnya ia kira dokter yang dimaksud akan lebih tua, tetapi pria di depannya masih begitu muda, dengan setelan kemeja sederhana yang rapi.

"Rendra." Dokter itu memperkenalkan dirinya lebih dulu, Naira menyambut uluran tangan itu tanpa ragu. "Naira. Semoga acara ini lancar, dokter."

"Ya. Mohon kerjasamanya, Naira." Pria itu tersenyum, yang dibalas senyuman oleh Naira.

Lihat selengkapnya