Beberapa hari setelah seminar, kehidupan Naira kembali berjalan seperti biasanya. Hari-harinya dipenuhi revisi skripsi, bimbingan, laporan praktikum, dan berbagai tugas kecil yang entah bagaimana selalu berakhir di tangannya. Ia sendiri tidak pernah benar-benar menolak ketika dimintai bantuan.
"Aku cuma butuh bantuan sebentar, Nai."
"Naira, bisa tolong cek berkas ini?"
"Nanti sekalian ya bantu ngurus administrasinya."
Kalimat-kalimat seperti itu sudah menjadi bagian dari kesehariannya. Anehnya, membantu orang lain selalu terasa lebih mudah daripada memikirkan dirinya sendiri. Selama sibuk mengerjakan sesuatu, ia tidak perlu memberi ruang bagi pikirannya untuk mengingat hal-hal yang membuat dadanya sesak. Suatu pagi, ketika Naira sedang merapikan berkas di ruang jurusan, salah seorang dosen menghampirinya.
"Naira, minggu ini ada kegiatan akademik jurusan. Panitianya masih kekurangan orang. Bisa bantu bagian administrasi?"
"Tentu, Pak." Jawabannya keluar hampir tanpa berpikir.
Tugasnya sebenarnya tidak berat. Ia hanya perlu memastikan daftar hadir peserta lengkap, menghubungi pemateri, mengecek kesiapan ruangan, dan membantu koordinasi selama acara berlangsung. Itu adalah pekerjaan yang sederhana Namun, bagi Naira, tidak ada pekerjaan yang benar-benar sederhana. Malam sebelum kegiatan berlangsung, ia mengecek daftar peserta berkali-kali. Ia mencocokkan nama dengan nomor telepon, memastikan seluruh informasi sudah terkirim, lalu memeriksa kembali susunan acara.
"Kalau ada yang terlewat bagaimana?"
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Karena itulah ia datang hampir satu jam lebih awal dibanding panitia lain. Ia memastikan LCD berfungsi, kursi tertata rapi, pendingin ruangan menyala, dan meja registrasi sudah siap digunakan. Beberapa panitia bahkan sempat bercanda dengannya, atau mungkin kepadanya.
"Nai, santailah. Ini seminar, bukan sidang presiden." Naira hanya membalas dengan tersenyum kecil.
Semua yang ia lakukan bukan karena ingin terlihat hebat. Melainkan karena ia selalu merasa satu kesalahan kecil saja cukup untuk membuat orang-orang mengarahkan jari kepadanya, menyalahkannya.
Semua yang ia lakukan bukan karena ingin terlihat hebat. Melainkan karena ia selalu merasa satu kesalahan kecil saja cukup untuk membuat orang-orang mengarahkan jari kepadanya, menyalahkannya.
Beberapa menit sebelum acara dimulai, salah seorang staf jurusan datang menghampiri Naira yang sedang memastikan tidak ada yang terlewat. Staf itu datang dengan tergesa-gesa.
"Naira, ruangan dipindah ke Gedung C lantai tiga. Aula ini mendadak dipakai rapat pimpinan." Ujar staf itu, tidak terlihat cemas atau khawatir, hanya mengatakan dengan cepat.
Naira yang mendengar terkejut, ujung alisnya terangkat.
"Sekarang juga, Pak?"