Dear Naira

rarapinku
Chapter #6

6. Aku Baik-baik Saja

"Dokter Rendra," gumamnya lirih.

Rendra berdiri beberapa langkah darinya. Ia tidak mendekat terlalu cepat, sorot matanya hanya menyiratkan kekhawatiran yang ditahan dengan hati-hati.

"Kalau saya datang di waktu yang tidak tepat, saya bisa pergi." Naira segera menggeleng.

"Tidak, tidak apa-apa."

Rendra akhirnya duduk di bangku yang sama, menyisakan jarak yang cukup agar Naira tetap merasa nyaman.

"Tadi seminarnya berjalan lancar." ujarnya memulai percakapan.

"Mahasiswa yang presentasi cukup menguasai materi." Naira mengangguk pelan.

"Iya, dokter."

Kemudian mereka mengalihkan pembicaraan, tentang bagaimana cuaca akhir-akhir ini, kegiatan mengajar, hingga buku baru yang baru saja selesai ia baca. Namun, semakin lama berbincang, semakin jelas sesuatu yang mengusik perhatian Rendra.

Wajah gadis itu terlihat jauh lebih pucat dibanding biasanya. Bibirnya kehilangan warna. Tatapannya beberapa kali kosong, seolah pikirannya sedang berjalan ke tempat lain.

"Naira."

"Iya, dokter Rendra?"

"Kamu sudah makan?"

Pertanyaan sederhana itu justru membuat Naira membeku. Ia mencoba mengingat. Ia baru saja menyadari bahwa dirinya bahkan tidak ingat kapan terakhir kali memasukkan makanan ke dalam perutnya.

"Aku-"Melihat wajah bingung gadis itu, Rendra sudah tahu jawabannya.

"Bagaimana kalau kita makan dulu?." Naira spontan menggeleng.

"Tidak usah, dokter. Saya tidak lapar."

"Perutmu mungkin sudah terlalu lelah sampai lupa cara merasa lapar." Ucapan itu membuat Naira terpaku.

"Tidak perlu, dok." Rendra tersenyum tipis.

Beberapa kali ia mencoba menolak, tetapi keteguhan Rendra tidak disampaikan dengan paksaan, melainkan dengan ketulusan yang sulit ditolak. Pada akhirnya ia mengangguk pelan.

Mobil melaju perlahan meninggalkan kawasan kampus. Keheningan kembali menjadi teman perjalanan. Sesaat kemudian Rendra membuka laci dashboard dan mengeluarkan sebotol air mineral serta sebungkus roti.

"Nah, sebelum kita sampai, makanlah sedikit." Naira kembali menggeleng.

"Sedikit saja?" Kalimat itu justru membuat Naira tidak sanggup menolak lagi. Dengan kedua tangan, ia menerima botol air dan roti tersebut.

"Terima kasih." Wanita itu membuka bungkus roti secara perlahan. Gigitan pertama terasa berat. Mulutnya begitu kering hingga ia harus meminum beberapa teguk air lebih dahulu.

Sedikit demi sedikit, roti itu habis. Melihat Naira menghabiskan rotinya, Rendra sedikit lega. Di balik kaca mobil, lampu-lampu kota mulai menyala satu demi satu. Namun bagi Naira, dunia di luar hanyalah bayangan yang bergerak tanpa makna. Suara-suara lain kembali memenuhi kepalanya.

"Lihat teman-temanmu!."

"Kapan kamu membanggakan keluarga?"

"Kalau begini terus, masa depanmu hancur!."

Suara-suara itu saling bertumpuk. Lalu berubah menjadi lembar demi lembar revisi skripsi. Coretan tinta merah memenuhi halaman.

"Perbaiki!."

"Kurang tepat!."

"Ulangi!."

Lihat selengkapnya