Dear Naira

rarapinku
Chapter #7

7. Bukan Hari yang Buruk

Sinar matahari pagi menyelinap perlahan melalui celah tirai, membiaskan warna keemasan yang jatuh lembut di atas lantai kamar. Kehangatan cahaya itu perlahan membangunkan Naira dari tidurnya yang panjang. Kelopak matanya bergerak pelan sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya.

Beberapa saat ia hanya memandangi langit-langit kamar yang asing. Ruangan itu dipenuhi aroma kayu dan wangi sabun yang lembut. Semuanya terasa begitu tenang hingga sesaat ia lupa dimana dirinya berada. Namun, serpihan-serpihan ingatan perlahan kembali menyusun diri.

"Aku, menginap di rumah dokter Rendra?." Bisiknya. Perlahan ia bangkit dari tempat tidur. Kepalanya memang masih sedikit berat, tetapi jauh lebih baik dibandingkan malam sebelumnya.

Saat tanpa sengaja menoleh ke samping, gerakannya terhenti. Di sisi ranjang, Rendra tertidur dalam posisi duduk. Kepalanya bersandar di tepi tempat tidur, sementara kedua lengannya terlipat di atas kasur. Wajahnya tampak lelah, seolah semalaman tidak benar-benar memejamkan mata. Rambutnya sedikit berantakan, dan lingkaran samar di bawah matanya menjadi bukti bahwa ia memilih berjaga daripada beristirahat. Hati Naira mendadak dipenuhi rasa bersalah.

"Kenapa kamu peduli padaku? Melakukan semuanya sejauh ini?." Tak ingin membangunkan Rendra, Naira bergerak turun dari ranjang dengan sangat hati-hati.

Setiap langkah ia buat seringan mungkin agar tidak menimbulkan suara. Setelah memastikan Rendra masih tertidur, ia keluar dari kamar dan berniat pulang diam-diam. Namun, niat itu segera terhenti ketika ia berdiri di depan pintu utama. Di sana tidak terdapat gagang pintu biasa. Hanya sebuah panel digital dengan layar kecil dan sensor sidik jari.

Ia menekan beberapa tombol secara asal. Tidak terjadi apa-apa, lalu mencoba lagi. Tetap gagal. Ia bahkan sempat memiringkan kepala, berharap menemukan petunjuk yang tersembunyi. Saat itulah bel rumah berbunyi. Naira refleks membuka pintu kecil di samping panel. Seorang perempuan berambut pendek berdiri sambil membawa map berwarna cokelat.

"Selamat pagi. Kak Rendra." Perempuan itu terlihat begitu familiar dengan rambut pendeknya yang terlihat cocok di wajah cantiknya.

"Aku Rhea. Kemarin Kak Rendra meninggalkan berkas seminar, jadi aku sekalian mengantarkannya." Ujar Rhea, berdiri dengan senyuman di wajah. Gadis itu tidak mengenali sosok Naira di balik pintu.

"Oh." Namun, entah mengapa, dadanya mendadak terasa sesak.

Rhea datang pagi-pagi ke rumah Rendra, gadis itu bahkan tahu dan terlihat sudah biasa ke sini. Bahkan tampak begitu santai berdiri di depan pintu. Tiba-tiba terlintas di pikirannya. Mungkin Rhea sebenarnya adalah kekasih dokter Rendra? Dan interaksi mereka saat seminar berputar di ingatan Naira. Yang jelas mereka sangat dekat. Tentu saja. Orang sebaik Rendra pasti memiliki seseorang di sisinya.

Perasaan aneh yang sejak tadi belum sempat ia beri nama tiba-tiba muncul memenuhi dada. Karena gugup, Naira tanpa sadar melangkah mundur. Hingga tumitnya mengenai ujung karpet.

"Hati-hati." Sebelum tubuhnya benar-benar kehilangan keseimbangan, pinggang Naira telah lebih dulu ditopang dengan kuat dari belakang. Naira membelalak. Saat menoleh, ia mendapati Rendra berdiri begitu dekat, menatapnya penuh kekhawatiran.

"Pelan-pelan." Suaranya begitu rendah dan menenangkan. Terdengar tepat di telinga Naira.

"Dokter Rendra, maaf." Wajah Naira memerah hingga ke telinga.

Rendra hanya tersenyum tipis sebelum mengangkat tangannya ke panel pintu. Sensor sidik jari menyala. Pintu langsung terbuka. Sementara itu, Rhea yang sudah masuk menyipitkan mata antara terkejut dan bingung. Terkejut karena tidak menyangka akan melihat Naira di sana. Akan tetapi, disaat bersamaan, sebuah senyuman jahil muncul di wajahnya.

"Hmm..." Rhea melirik tangan Rendra yang masih melingkar di pinggang Naira.

"Kayaknya aku datang di waktu yang kurang tepat."

"B-bukan seperti itu!" Balas Naira terlihat begitu ekspresif. Ia menggelengkan kepala, tangannya bergerak-gerak cepat dan wajahnya semerah kepiting rebus.

Lihat selengkapnya