Dear Naira

rarapinku
Chapter #8

8. Genggaman

Waktu berlalu lebih cepat dari yang Naira sangka. Pagi datang, malam berlalu, kegiatan Naira masih seperti sebelumnya. Sibuk dengan skripsi, tugas, dan sebagainya. Kesibukan mahasiswa akhir, itu yang Rhea keluhkan beberapa hari yang lalu saat mereka pergi ke aquarium.

Pagi ini, Naira akan bertemu dengan Pak Arya. Dosen yang terkenal sebagai salah satu 'dosen killer' itu telah kembali dari perjalanan luar kotanya. Saat seperti ini, Pak Arya akan langsung diserbu oleh mahasiswa bimbingannya seperti seorang selebriti. Mengetahui hal itu, Naira sudah datang lebih pagi daripada mahasiswa yang lain.

Pak Arya selalu memiliki kebiasaan yang sama. Beliau akan datang di jam yang sama baik ada kelas ataupun tidak. Jadwal Pak Arya hari ini cukup padat, jika ia tidak cepat bergerak, mungkin sang dosen telah pulang lebih dahulu.

Pintu ruang Pak Arya tertutup, setelah mengetuk beberapa kali, kata singkat "Masuk" terdengar dari dalam.

"Permisi bapak."

"Oh Naira, masuk, masuk."

Tanpa terasa satu jam berlalu. Diskusi mereka berjalan lancar. Saat pak Arya berbicara, Naira akan memperhatikan dengan serius, mencatat beberapa point penting dan memastikan tidak ada yang terlewat. Mendekati akhir, pak Arya berkata.

"Secara keseluruhan, tidak banyak perbaikan. Tinggal perkuat data, dan memperbaiki beberapa kesalahan penulisan, setelah ini, kamu bisa sidang lebih cepat." Senyuman merekah di wajah Naira. Ia sempat tegang tadi malam, takut jika ia melakukan kesalahan dan skripsinya menjadi semakin lama.

"Terima kasih pak. Setelah ini saya akan perbaiki."

Pak Arya mengangguk. "Kamu juga terlihat lebih fokus dari pada pertemuan kita sebelumnya. Seterusnya, tolong seperti ini. Saya lebih suka mahasiswa yang menaruh perhatian pada pekerjaannya daripada mahasiswa yang melamun tidak jelas."

"Baik pak. Maafkan saya untuk tempo hari. Kali ini saya akan lebih baik lagi."

"Hmmm."

Setelah mengucapkan terima kasih, Naira keluar dari ruangan pak Arya

Di luar mahasiswa sudah bimbingan beliau sudah mengantri seperti antrian sembako atau rumah sakit. Naira menghembuskan napasnya lega. Pertemuannya lancar dengan Pak Arya dan membuatnya lebih tenang. Beban dan rasa sesak di dada seperti terangkat. Naira merasa lebih mudah bernapas sekarang.

Naira memutuskan untuk kembali ke kos. Ia tidak memiliki agenda lain hari itu, dan berniat memperbaiki skripsinya selama ia masih bersemangat. 

Naira memikirkan dimana tempat yang paling nyaman untuk mengerjakan skripsi itu selain kos. Ia butuh suasana dan lingkungan baru agar ide mengalir lebih mudah. Ketika larut dalam pikirannya, seseorang menahan pergerakkannya.

Sebuah tangan mencengkram lengannya dengan cengkraman yang cukup kuat. Naira mendongak, melihat siapa orang yang menahan tangannya. Mata Naira tidak bisa menyembunyikan keterkejutan. Di depannya, seorang pemuda menggunakan jaket kulit berdiri di hadapan Naira. Wajahnya keras, ekspresinya juga tidak bagus.

"Naira." 

"Dimas." Tubuh Naira sedikit bergetar. Mata bulatnya membola, bibir kecilnya juga bergetar saat menyebut nama pria itu.

"Naira, kamu tidak membalas pesanku. Kamu juga memblokir seluruh kontakku. Naira, kamu tahu semua itu hanya salah paham. Aku tidak pernah mengkhianatimu. Aku hanya khilaf saat itu Naira." Setiap kalimat yang dikeluarkan terdengar begitu buru-buru dan tidak sabaran.

Lihat selengkapnya